Press "Enter" to skip to content

Berkeringat di Gelaran “Riverside Fest VII”

Hampir kita temui setiap pekan acara seru dengan pengisi band yang manjain hati. Nyanyi bareng pacar sambil pelukan di muka umum. Bosen teu, sih? Ya harusnya bosen karena acara sejenis kayak gini rutin kebangetan di Bandung. Tapi ada acara yang jarang, dan ditungguin banget sama yang suka keringetan. Apa coba? Yak, lari pagi di Sabuga! Nggak ketang, becanda.

Minggu (16/11) kemarin, nggak sengaja saya menemukan acara underground. Wedew cadas pastinya. Cadas-Elang, angkot warna merah. Hehe. Riverside Fest VII! Acara yang rutin digelar sama anak-anak WEARERIVERSIDE, komunitas dari FISIP UNPAS, ini menjadikan basement kampus UNPAS, Jalan Lengkong Besar no. 68, sebagai wahana kesegaran jasmani. Dengan donasi sebesar 5 ribu, kamu udah diizinkan memasuki wahana kesang. Sedikit bahas Riverside Fest, acara ini pertama kali digelar pada tahun 2010. Terakhir mereka bikin acara November tahun lalu.

Sayangnya teh hujan euy, jadi saya nggak nonton dari awal. Acaranya udah mulai dari jam 11 siang, menampilkan band-band segar seperti Disital Camara, The Town, Scream In Bubble, What S After, Crematopsy, Survivor Ashes, Cometrue, Straight Shoot, Back To Business, Tabik, Blank Foundation, Heaven In, Bloodcush, Wreck, Abnock, Daud dan Gaung. Aduh maapin banyak banget band-nya. Menariknya, jadwal tampil setiap band diacak berdasarkan undian.

Buka lapak merchandise juga neeh.
Buka lapak merchandise juga neeh.

Dan pas saya dateng, saya nangis karena Wreck udah main. Deuh didramatisir. Tapi beneran, band beraliran post hardcore ini lagi banyak digandrungi, apalagi kalau bukan berkat rilisan s/t EP mereka. Tersedia juga lapak dagang dari Dandelion Records, yang jual merchandise kaset sama kaos. Pas awal-awal saya dateng, sih, barisan depan stage kosong. Beberapa orang memilih duduk atau ngerokok di pinggiran. Lalu nggak lama setelahnya, Gaung dapet giliran main. Sontak para pemuda dengan setelan ala gigs merapat ke shaf depan. Euh, ngahalangan siaduh.

Tapi Gaungnya bukan Gaung knalpot racing. Gaung yang ini menyebut dirinya hybrid prog-psych instrumental trio, tampil dengan bebunyian menenangkan sekaligus memacu hasrat moshing para penyuka keringat elegan. Crowded, sih. Senang sekali dengan suasana seperti ini. Saking semangatnya, strap bass Ramaputratantra sampai rusak dan harus pinjem ke personil band yang sebelumnya main. Teriakan “we want more” menjadikan Gaung tampil lagi demi memuaskan telinga para sahabat Unyil dan Usro.

The Town!
The Town!

Selesai digeber dengan lagu bertempo cepat, para pemuda yang hadir nggak lantas tenang. Giliran The Town yang unjuk aksi. Dengan tempo yang lebih cepat, bikin yang nonton malu-malu tapi liar. Apalagi pas mereka bawain lagu terakhir, aduh saya nggak hapal judul lagunya, tapi enak! Penampil terakhir adalah Scream In Bubble, sekaligus menutup gelaran Riverside Fest VII.

Puas lah sama acara ini. Festival yang memberikan ruang bagi musik indie kiri, dengan semangat bawah tanah dan keringat elegan. Keukeuh eta elegan. Sayangnya Daud nggak jadi tampil, padahal ditungguin banget. Semoga saya bisa dateng lebih awal di Riverside Fest VIII nanti biar lebih mantap menikmati semua band. Nuhun ah WEARERIVERSIDE!

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *