Press "Enter" to skip to content

Belajar Motret yang Baik dan Santun ala Air Foto Network di “Bandung Nu Urang”

Fenomena foto selfie di mana-mana, dengan beragam gaya, perangkat kamera, tempat dan suasana, menjadikan siapa aja bisa memotret. Tapi apa mereka tau, yah, tentang teknik memotret dan segala teori-teori dasar fotografi? Takutnya, sih, suatu saat ada tes teori gitu layaknya kalau mau bikin SIM.

Kamu takut nggak? Dalam mengatasi ketakutan itu, Dinas KUKM & Perindag Kota Bandung bekerja sama dengan Air Foto Network mengadakan program fotografi “Bandung Nu Urang”, sebuah workshop dan pameran foto industri kreatif Kota Bandung. Program menarik buat yang suka motret, dan gilanya pendaftaran pesertanya gratis, tapi cuma buat 30 orang pendaftar. Kemarin pas pendaftaran rame banget, kasian deh yang nggak beruntung. Nggak ketang, sabar yah.

Pada workshop hari pertama yang berlangsung di Hotel Gino Feruci, Jum’at (9/5), peserta diberi materi selama tiga sesi. Sesi pertama, Galih Sedayu memberikan perkuliahan Foto Cerita. Sesi kedua giliran fotografer senior, Dudi Sugandi, memberi pencerahan tentang Foto Jurnalistik. Yang terakhir ada pak dosen Sandi Jaya Saputra yang berbagi ilmu tentang Foto Dokumenter. Sayangnya nggak ada sesi materi Fotobox.

Pemberian materi oleh Dudi Sugandi.
Penyampaian materi Foto Jurnalistik oleh Dudi Sugandi.

Workshop berlangsung interaktif, nggak kayak kuliah. Apalagi pas giliran om Dudi Sugandi. Btw, beliau tuh udah edan banget di kancah perfotoan. Azekk. Pada presentasinya, Om Dudi berbagi tips FUN theory dalam Foto Jurnalistik. Apa itu FUN? Focus, Unpredictable and Narrative, begitu beliau menyingkatnya. Bagaimana menghasilkan sebuah foto dilihat dari aspek teknis dan non-teknis, berbeda dan jarang diliat kebanyakan orang, serta terdapat pesan yang disampaikan. Teori yang singkat, padat tapi jelas, kayak heurin-nya penduduk di daerah Cicadas. Jelas.

Satu hal yang menarik adalah ketika seorang peserta bertanya tentang hak cipta sebuah foto yang diunggah ke media sosial, lalu digunakan oleh orang lain tanpa izin untuk suatu kepentingan. Boleh nggak, sih? “Belum ada Undang-Undang yang mengatur, selama ini hanya mengacu pada kode etik jurnalistik. Tapi ketika sebuah foto diunggah ke media sosial, sudah nggak bisa bicara hak cipta, karena media sosial sifatnya sharing,” jawab Om Dudi disambut suara “oooohh..” dari peserta.

Selanjutnya giliran Pak Sandi yang mempresentasikan materi Foto Dokumenter. Secara garis besar, tips yang disampaikan sama dengan tips dari mas Galih Sedayu di sesi pertama, yaitu bagaimana sebuah foto dihasilkan dengan gaya masing-masing, dengan ciri khas si fotografer itu sendiri.

Selesai sudah workshop hari pertama “Bandung Nu Urang”, yang menjadi pembekalan bagi peserta sebelum kunjungan sambil motret ke pabrik C59 pada hari kedua. Nah, hari ketiganya seluruh peserta mempresentasikan hasil karyanya buat selanjutnya disiapkan untuk pameran di Taman Foto Bandung (Taman Cempak, RED), Minggu (15/6) mendatang.

Seru yah, beneran kayak tes bikin SIM aja, pas prosesnya pakai skill masing-masing. Bisa sembalap, bisa pelan-pelan kayak Joni di film Janji Joni. Sembari menunggu peserta menyiapkan karyanya, siapin diri aja, gih, buat datang ke pameran nanti. Tandain kalender pakai lipstik punya mamah. Jangan lupa bawa samak yah, sekalian kita piknik di taman. Awas kalau nggak datang, musuhan.

BdgNuUrg

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *