Press "Enter" to skip to content

Belajar Menjadi Manusia di Pertunjukan Teater “Sunset Deity”

Warga kreatif, kalian pasti pernah denger ungkapan “cinta pada pandangan pertama”, kan? Apa kalian percaya atau yakin sama ungkapan itu? Kalau saya pribadi, sih, awalnya nggak begitu percaya sama ungkapan itu sampai akhirnya saya ngalamin sendiri. Yaa, walaupun “cinta”-nya bukan sama do’i, tapi saya cukup seneng pernah ngalamin hal tersebut. Aaak terharu. Hal yang bikin saya percaya sama ungkapan tersebut adalah sebuah pertunjukan teater berjudul Sunset Deity yang digagas oleh Merchant Of Emotion. Berawal dari iseng-iseng buka website mereka, kemudian liat trailer pertunjukan tersebut, langsung jatuh cinta sama trailer-nya dan akhirnya nonton. Hasilnya? Saya nggak menyesal sama sekali! Pertunjukannya keren banget! Soalnya mereka menggabungkan beberapa unsur kesenian di luar seni teater itu sendiri, diantaranya video mapping dan seni gerak.

Ini yang namanya Sinneki.
Ini yang namanya Sinneki.

Pementasan Teater Sunset Deity ini merupakan karya terbaru dari Merchant of Emotion setelah Taraksa. Acara tersebut diadakan di Teater Tertutup Dago Tea House mulai dari Jum’at (23/1) sampai Minggu (25/1). Begitu saya sampai di venue pada hari pertama pementasan, saya cukup kaget soalnya penuh sama anak SMA yang udah bergerumul di depan ticket box. Sempet mikir juga apa saya salah tempat apa gimana? Tapi pas saya selidik-selidik, emang bener ah ini venue-nya, soalnya banyak terdapat gambar karakter yang sebelumnya saya liat di trailer. Acara dimulai pada pukul 16.30, langsung dibuka oleh MC yang sedikit menjelaskan mengenai perbedaan antara teater dan film, yang kemudian dilanjut oleh sang penulis yang memberi prolog mengenai ide cerita dari Sunset Deity ini. Cerita berawal dari seorang gadis bernama Sinneki yang nggak mau tidur, karena belum diberi cerita oleh ibunya. Tapi ibunya tetap memaksa Sinneki untuk tidur, hingga kemudian secara tiba-tiba muncul sesosok Midnight Stranger bernama Crystal Lady yang kemudian bercerita kepada Sinneki mengenai Sunset Deity.

crystal lady
Siga si bidadari Marini Zumarnis.

Setting kemudian berpindah ke masa di mana dunia dan seisinya belum ada, dunia yang masih hampa, lalu kemudian ada seorang bocah lelaki tanpa nama yang merupakan manusia pertama yang diciptakan untuk menghuni dunia. Semenjak dunia diciptakan, bocah lelaki tersebut nggak melakukan apa-apa, hanya duduk menunduk, hingga pada suatu saat datang seorang sosok bocah perempuan bernama Sun yang memberikan “terang” kepada kehidupan bocah lelaki tersebut.

Kehadiran Sun memberikan keceriaan dan kebahagiaan kepada bocah lelaki tersebut. Tanpa mengenal waktu, mereka bermain dan berkeliling dunia sesuka hati mereka. Tapi semua hal tersebut berubah ketika bocah lelaki tersebut mengenal waktu. Lalu… penasaran kan gimana cerita berikutnya? Puas.

Nggak cuma sebagai tontonan biasa, pastinya ada sebuah pesan yang pengen disampaikan sama sang penulis di pertunjukan ini. Kalau pesan yang saya tangkep, sih, kita jangan pernah ketakutan dalam menghadapi sesuatu, karena hal-hal seperti menggapai, membenci, dan merelakan sesuatu nggak dapat dihindarkan dan sudah seharusnya kita hadapi dalam proses menjadi dewasa. Edan atuh!

Adegan Sunset sama Sun.
Ini mah pas adegan Sunset sama Sun.

Eh, selain video mapping-nya yang ciamik, scoring music dari pertunjukan Sunset Deity ini nggak boleh luput dari perhatian kalian. Soalnya ngebawa suasana banget, buat para penikmat musik ambient pasti pada suka deh. Aslina. Dan ada hal spesial di scoring tersebut, soalnya seorang Rara Sekar dari Banda Neira ikut menyumbangkan suaranya. Ena.

Ternyata nggak cuma menyumbangkan suaranya, pada pertunjukan hari pertama kemarin, Rara Sekar juga hadir di pertunjukannya. Duh, jadi pengen ngobrol-ngobrol di beranda sama teh Rara, nih. Hahaha. Oh iya, saya juga samperin booth merchandise-nya, soalnya keren-keren si artworknya, bikin pengen ngeborong.

Sakses terus buat Merchant of Emotion, ditunggu gelaran selanjutnya. Sekarang saya mau cari orang yang bisa ngasih “terang” buat saya dulu ah. Annyeong~

Foto : Prastya Pandu