Press "Enter" to skip to content

Cerita Para Desainer Muda di “Behance Portofolio Reviews Week #6”

Buat desainer-desainer muda berbakat di kota Bandung, merugi sekali rasanya kalau malem minggu (8/11) kemarin nggak melipir ke Co&Co Creative Space. Apa pasal? Soalnya di hari Sabtu yang hujan rintik-rintik parka-able kemarin, ada event seru yang sayang banget buat dilewatkan karena sifatnya yang annually, yaitu Behance Portofolio Reviews Week #6. Paan tuuuuuh?

Buat yang bingung dan bertanya-tanya, atau yang lagi ngegebet mbak-mas desainer emerging yang kece nan artsy, pasti udah pada dapet bocoran kalau Behance bisa dianalogikan sebagai Facebook-nya para desainer. Jadi beneur banget, www.behance.net  adalah tempat mejengnya para desainer sekaligus ajang unjuk gigi mereka, yang artinya adalah di situlah mereka pasang karya-karya portofolio mereka secara online.

Nnnnah, Behance Portofolio Reviews Week #6 kemarin, adalah saat yang tepat bagi desainer-desainer yang tadinya ketemu secara online di Behance, buat akhirnya saling temu dan tatap muka biar bisa sharing bareng tentang pengalaman dan skill mereka. Terus, nih, yang jadi highlight di event ini ya karena setiap partisipan a.k.a desainer yang submit karya, bisa presentasi tentang karya Behance-nya di hadapan orang-orang yang datang kemarin. Selain itu kemarin juga ada creative talk & sharing tentang scene Behance di Bandung oleh aa-aa desainer kenamaan Bandung, yaitu Andi Rahmat, Ihsan M. Farhan, dan Kresna Dwitomo.

IMG_9197
Karya Mbak-Maz di Behance Portofolio Reviews Week #6.

Aku dan tim sampai di venue kira-kira jam 3 sore, yang ternyata sesampenya di sana kami rada telat, sih, dan udah aa speaker terakhir yang lagi bicara tentang gimana caranya mengerjakan suatu proyek desain. Dan, yak, seperti yang sudah diduga acara ini rame sekali dengan kedatangan aa teteh desainer muda bertalenta Bandung. Soalnya, nih, kamu semua perlu tau bahwa buat masuk ke event ini kamu harus pacepet-cepet untuk RSVP di invitation yang seat-nya terbatas. Setelah lalalili muter-muter lihat karya 25 desainer yang dipajang apik di sela-sela seat penonton, akhirnya puncaknya adalah ketika 25 desainer itu presentasi tentang karya Behance mereka yang dipamerkan.

Terus penonton ngapain kerjanya selain menonton? Serunya, seabis 25 desainer ini presentasi tentang karya mereka, semua orang yang hadir di sana bisa ikutan mengapresiasi karya-karya tersebut dengan cara ngasih stiker “like” di karya yang mereka sukai. Dan untuk 3 desainer dengan likes terbanyak, dapat medali dari Behance Reviews. Dan yang dapet likes terbanyak adalah Tazul Arifin lewat karya motion graphic-nya yang ntap bgt buos.

Kalau suka, kasih "like" ya! muah!
Kalau suka, kasih “like” ya! Muah!

Setelah acara usai dan keikutan nampang foto bareng, ROI dapet kesempatan buat berbincang-bincang sedikit sama akang-akang narasumber di talkshow sebelumnya yaitu Andi Rahmat, Ihsan M. Farhan, dan Kresna Dwitomo, serta inisiator Behance Portfolio Weeks Bandung yaitu Gumpita Rahayu. Ini spesial buat kamu-kamu semua yang mungkin membutuhkan. Kita melakukan bincang desain ini di ruang belakang Co&Co Creative Space yang nyaman pisan buat kerja-kerja chantique. Berikut cuplikannya.

GBGDR (Gadis Berbaju Garis dari ROI): Sebagai sebagai-nya Behance di Bandung nih, apa esensi Behance buat kalian? Apa sih pengaruh signifikan yang terjadi dalam hidup mas-mas sekalian setelah punya Behance?

Andi Rahmat (AR): Lebih ke showcase karya sih, tapi yang lebih terkurasi aja gitu. Kan kalau deviantart random banget, tuh. Kalau menurut saya sih Behance lebih one step ahead aja gitu, istilahnya dari newbie terus ya udah bisa dibilang sebagai desainer sih, kalo orang yang punya Behance mah. Bahkan ya, dulu jaman 2009-an gitu kalau kita upload karya ke Behance, itu nggak akan langsung nongol ke profil kita. Tapi tunggu ada approval dari Behance-nya dulu, baru deh karya kita nongol.

Gumpita Rahayu (GR): Jadi si Behance ini sebenernya belum populer banget beberapa tahun ke belakang, tapi setelah diakuisisi sama Adobe, jadi edan pisan gitu. Bahkan jadi standar kreatif buat para desainer. Dari mulai referensi atau bahkan proyek-proyek yang edan. Bahkan banyak banget design studio yang bikin film dan game gitu malah upload project mereka di Behance.

Kresna Dwitomo (KD): Behance sendiri sih gunanya selain ke exposure networking, lebih buat motivasi sih. Dan di sana kan semacem ada tata caranya gitu buat mem-present karya dan lebih apa ya, lebih nge-push kita buat meng-create karya yang keren-keren. Jadi ya itu tadi sih, motivasi.

Ihsan M. Farhan (IM): Sebenernya udah kejawab ya, sama semuanya. Tapi ya itu tadi, motivasi dan ada beberapa feedback yang baik. Terus kadang kita jadi suatu kultur beberapa negara juga karena Behance. Kita jadi tau trend watch-nya, kenapa sih di negara ini lagi musim yang kayak gini dan kayak gitu.

Berdasarkan fungsi Behance sebagai sarana buat memperlihatkan karya kalian, nah apa sih arti karya buat kalian?

AR: Karya adalah kekasih. Lebih buat merepresentasikan diri sih, soalnya kan tiap designer memiliki pola pikir dan sudut pandang sendiri. Contohnya aja kalau saya bikin project bareng Gugum, entar juga kan output-nya bakal beda tergantung gimana cara kita nge-twist-nya. Ya, intinya sih karya itu buat menunjukkan jati diri.

GR: Ya lebih ke personal branding sih.

IM: Ya puitisnya sih karya tuh kayak love letter-nya para desainer buat konsumen, sih. Soalnya kalau kita nggak cinta sama yang kita kerjain, pasti hasilnya ngga akan bener gitu. Ya kita pasti, inisiatifnya karena cinta gitu.

KD: Karya itu sebenernya adalah storyline kita sih, lebih ke history dan self-reflection buat kita nanti ke depannya.

AR: Dan membuka wawasan buat orang lain, sih.

KD: Enlightment.

IM: Ya, kita awal-awalnya cuma terinspirasi gitu, kan bersyukur juga kalau pada akhirnya jadi kita yang bisa menginspirasi.

GR: Karya itu adalah uang.

Nah, tadi kan katanya di karya itu para designer menunjukkan karakteristik mereka. Sekarang gimana caranya biar tetep ngikutin tren yang ada, tapi nggak menghilangkan style dan karakteristik kalian sebagai desainer?

AR: Kan fungsinya desainer itu memecahkan masalah yah. Mesti diinget lagi ya, kalau desainer itu beda sama seniman. Sebenernya berat banget sih tugasnya desainer itu. Dan standar bagusnya tiap desainer pasti beda-beda ya. Jadi ketika kita pegang project A kita harus merepresentasikan si project A, trus kemudian pegang project B berarti kita harus merepresentasikan si project B, dan itu ya bisa kita masukin style kita. Tapi harus tetep bisa ngewakilin identitas si project itu.

KD: Sebenernya agak blur sih antara style dan tren. Tren sendiri bukan buat ditelen gitu aja, tapi buat dimodifikasi juga. Jadi dari tren-tren yang ada, bisa aja kita combine semuanya terus bikin sesuatu yang baru. Dan tentang style sendiri, saya sendiri juga masih belum punya style buat ngedesain dan masih ngeksplor banget, sih.

IM: Saya sampe sekarang juga belum punya style, yang penting desain saya menjawab permasalahan dan industri. Emang,sih, dalam mendesain kita harus aware sama tren yang ada, tapi kayak tadi kata Kresna, tren itu bukannya harus diikutin tapi kita harus bikin juga sesuatu yang baru.

GR: Kalau boleh dibilang, sih, saya 80% idealis 20% tren.

Kalau di Instagram ada like, kalau di Behance ada apresiasi. Yang jadi pertanyaan adalah, kalian lebih milih di-appreciate secara “IRL (in real life)” atau “URL (di dunia maya)?”

Semua: Wah pertanyaan menarik nih.

GR: Kalo saya lebih ke URL. Alesannya ya simpel aja, kalau saya ini sekarang nggak ada apa-apanya. Tapi kalau di URL saya punya karya saya.

IM: Jadi saya sempet kayak ada di 2 fase gitu, dulu kan desain saya tuh korporat banget. Itu tuh beneran yang pas di Behance orang-orang pada suka, tapi pas di real life malah di- ”ih apaan sih logo gitu doing” -in. Kalau sekarang malahan kebalik, sama klien saya di-appreciate tapi malah pas di Behance jadi kurang di-appreciate. Jadi ya dua-duanya kayak guilty pleasure sih. Ya dua-duanya enak.

AR: Seimbang, sih. Setuju.

GR: Lebih ke 80:20.

AR: Bisa nawar lagi nggak?

GR: Ya, mungkin fifty-fifty lah antara 70:60.

KD: Kalau saya pribadi, taji saya nih untuk showcasing di Behance ya penting. Tapi di industri, ternyata sekitar 70% dari mereka kurang paham Behance dan banyak yang kita dapetin dari networking yang offline. Jadi offline dan online-nya sama pentingnya

AR: Saya sih url untuk eksperimen ya. Soalnya pola pikir industri sekarang tuh kebalik, ya. Jadi ketika kita lebih ngulik sesuatu ternyata harganya malah lebih murah, karena kitanya terlalu bereksperimen. Padahal itu yang bagus. Nah karya yang biasa aja malah di-appreciate sama industri. Mungkin untuk narik exposure ya di Behance tempatnya. Pokoknya ya tergantung positioning sih.

Nah ini last question, klien atau circle paling epic apa yang kalian dapet dari Behance?

IM: Ini nih ada yang paling epic tapi ngeselin, salah satunya ya si *** (disamarkan, RED) ini. Ini salah satu klien yang lumayan gede, kan, dan mereka nyari desainer dari Behance. Waktu itu sempet punya proyekan yang 10% jalan gitu, terus udah deal dan diiming-imingin macem-macem, eh tiba-tiba engga ada kabar lagi. Kalau epic dalam hal yang positif, ini saya lagi dapet proyekan desainer di Singapura dan enak gitu tektoknya soalnya orangnya asyik dan aware terhadap desain dan lifestyle.

AR: Dari Cina sempet ada yang nge-message minta nomer telepon dan udah Whatsapp-an, tapi brief-nya ribet dan timeline-nya nggak saya follow up lagi. Selain itu saya lagi hectic sama kerjaan sendiri (Mas Andi adalah pemilik studio Nusae di Bandung,RED), dianya tetep ng-email tapi ya nggak saya follow up. Dulu saya bisa kerja di Leo Burnett dan Lowe karena ya mereka liat online portfolio saya. Jadi ya show your work itu bener, karena saya nggak pernah ngelamar, tuh, sejak kuliah.

IM: Iya nih jadi sama sih epic-nya. Jadi ngga pernah ngelamar, tiba-tiba ada aja nih rejekinya.

KD: Kalau circle saya sih didapetin dari Instagram, Behance, dan offline. Kadang circle as in freelance dan as in company ternyata beda banget exposure-nya. Kalau klien Behance paling epic sih dari Australia, Singapura, dari Indonesia juga ada, sih.

GR: Saya sih lebih traffic sih. Ada beberapa klien yang message banyak banget, pokoknya asal portofolio kalian jelas spesifikasinya mau ke mana, pasti rame message. Paling epic sih ya waktu bisa kerjasama sama Fontfabric, type foundry gede dari Bulgaria.

Yayy begitulah hasil quick interview dariku. Untuk selanjutnya, kata Mas Gumpita selaku inisiator Behance Portfolio Weeks Bandung, nanti bakal ada acara serupa buat sharing bareng orang-orang kreatif dan emerging Bandung tapi nggak bawa-bawa Behance lagi. Acara Behance Portfolio Weeks sendiri sebenernya berlangsung worldwide dan adanya setahun 2 kali. Yang sekarang lagi jalan di kota-kota besar dunia nih berlangsung pas tanggal 3 sampai 10 November kemarin.

 

Foto: Ade Bambang

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *