Press "Enter" to skip to content

Bandung Berisik 2014: Pesta Cadas di Perbatasan

You’ll Never Walk Alone” dari Ryker’s menjadi penutup yang pantas bagi Bandung Berisik 2014, Sabtu (29/11) kemarin, di Lapangan Brigade Infanteri (Brigif), Cimahi. Selama kurang lebih 12 jam, sejak pukul 10.00 WIB, event berskala internasional ini sukses menggeber 25 line-up di depan puluhan ribu pencinta musik bawah tanah. Gerimis dan hujan nggak sedikitpun menyurutkan semangat para penonton, karena selama itu pula mosh pit terus bergejolak tanpa henti. Sebuah pembuktian bahwa Bandung Berisik masih konsisten menggedor skena musik tanah air.

Dari Cimahi, Untuk Bandung

Sedih rasanya hati saya, Bandung Berisik 2014 mesti kembali ke Cimahi. Walaupun letaknya memang ada di perbatasan, namun secara geografis sama sekali bukan bagian dari Bandung. Padahal, sebelumnya sudah sempat diselenggarakan di Kopo dan Stadion Siliwangi. Kali ini venue-nya sama seperti 2011, Lapangan Brigif, Cimahi. Dari segi tata letak venue pun nggak jauh beda, bahkan saya pun sudah bisa menebak di mana booth makanan berada. Perbedaannya, kali ini ada dua stage, Main Stage diberi nama “Magnitude Stage”, dan yang lebih kecil di bagian barat bernama “Rebel Stage”. Secara kuantitas sebenarnya menurun jika dibandingkan 2012 dan 2013, karena saat itu malah ada tiga stage.

Tempat ini memang punya lahan yang sangat luas dan cocok banget buat festival open air. Namun pada dua kali gelaran, mimpi saya melihat Bandung Berisik sepadat Wacken Open Air atau Rock Am Ring masih belum terwujud. Toh, menyulap Lapangan Brigif memang bukan perkara mudah. Tapi, apa yang disuguhkan oleh promotor untuk saat ini sudah lebih dari cukup. Lagipula, kita juga sama-sama tahu bahwa Bandung hingga saat ini belum memiliki sarana open air festival yang ideal.

Ryker’s Mengawali Line-Up Internasional

Perlu waktu 3 tahun dan empat kali gelaran (sejak ‘bangkit’ pada 2011), akhirnya Bandung Berisik berani mendatangkan line-up internasional. Usahanya nggak sia-sia, karena Ryker’s memberikan performa yang luar biasa, band yang makin tua makin jadi. Walaupun, faktanya di lapangan tidak semua pengunjung akrab dengan lagu-lagu Ryker’s. Entah kelelahan atau memang nggak tau bandnya, penonton menghabiskan sisa waktunya untuk pacaran, nonton sambil ngobrol, atau sekedar duduk-duduk. Terkecuali bagi para Hardcore Kids, yang saya anggap sedang “umrah” karena bisa nonton Ryker’s secara langsung.

IMG_1222
Veteran hardcore, Ryker’s sah menutup Bandung Berisik 2014

Oldskool Hardcore asal Jerman ini membawakan nomor-nomor klasik semacam Gone For Good, Hard To The Core, dan Lifeline. Nampaknya mereka super bersemangat tampil di Bandung Berisik, terbukti ketika Kid-D (vokalis) menyalami penonton dengan “Sampurasun”, berkali-kali. Mereka juga sempat mengajak seorang penonton untuk nyanyi bareng di atas panggung.

Saya kira, sudah waktunya Bandung Berisik berdiri sejajar dengan Hammersonic, Rock In Solo, dan Kukar Rockin Fest, perihal mendatangkan line-up internasional. Dari Jakarta, Solo, dan Tenggarong sudah hilir mudik Cannibal Corpse hingga Carcass, Hatebreed hingga SepulturaTestament hingga Helloween. Bandung harus segera menunjukan entitasnya sebagai salah satu kota di dunia dengan basis skena bawah tanah terbesar dan berskala Internasional.

Teror Tenggarong, Hingga Jongkok Bareng

Sebenarnya sejak pertama kali line-up diumumkan, saya sudah bersiap mengincar penampilan Kapital. Bahkan kalau boleh dibilang, saya lebih menunggu Kapital dibanding Ryker’s. Maklum, saya belum sekali pun dapat kesempatan menonton mereka bermain live. Ditambah bukan perkara mudah bagi mereka untuk bisa bolak-balik Tenggarong-Pulau Jawa, jadi kehadiran mereka di Bandung Berisik 2014 cukup spesial.

IMG_0954
24 jam perjalanan Tenggarong-Bandung terbayar lunas dengan penampilan beringas Kapital

Selepas break adzan magrib, akhirnya giliran Kapital naik ke Rebel Stage, panggung yang ukurannya lebih compact. Kurang lebih 20 menit selama mereka tampil bulu kuduk saya berhasil dibuat merinding. Ternyata kekuatan teror dari belantara yang dikisahkan banyak media massa memang benar adanya. Sayang, mereka sebenarnya pantas melahap main stage, disaksikan ribuan mata. Tetapi, walaupun kondisi crowd Rebel Stage nggak terlalu ramai, mereka tetap bermain dengan kekuatan penuh.

“Siapa bilang acara metal isinya item-item doang?”, seru Yas Budaya (vokalis, Alone at Last) dari atas panggung Rebel Stage.

Setelah itu kru Alone at Last lalu membagikan membagikan serbuk warna-warni kepada para Stand Alone Crew (fans Alone at Last, RED) yang sudah bersiap di mosh pit. Lewat komando dari Yas, diiringi trek Takkan Terhenti Di Sini sontak Bandung Berisik berubah jadi seperti event lari yang lagi hype akhir-akhir ini. Sebelumnya Yas juga berkolaborasi dengan Nectura di panggung yang sama.

IMG_0705
“Color concert” dari Alone At Last bongkar stigma hitam-hitam di konser underground

Sementara itu, di Magnitude Stage, Burgerkill dan Seringai menjadi salah dua band yang penampilannya nggak kalah tajam, walaupun fakta ini emang udah nggak aneh lagi. Mereka adalah langganan di Bandung Berisik dan penampilannya selalu konsisten, fansnya juga nggak kalah beringas. Di lagu terakhir Seringai, Dilarang Di Bandung, Arian13 memperkenalkan gerakan baru, squat-jump-mosh. Penasaran? Salah sendiri nggak dateng.

IMG_1023
Dilarang di Bandung menutup setlist Seringai. Masih dilarang?

Mewujudkan (kembali) “Bandung Kota Underground

Legenda Persib, Adjat Sudradjat pernah berkata “Persib besar karena cacian, pujian adalah racun”. Kini Persib sudah menjadi juara. Kota Bandung juga dalam waktu dekat akan menjadi salah satu kota juara di Indonesia, amin. Begitupun dengan Bandung Berisik yang sudah selayaknya tumbuh semakin besar dan jadi juaranya festival metal Indonesia. Memang masih banyak yang perlu dibenahi, dan semoga saja kawan-kawan penyelenggara nggak cepat berpuas diri.

Perwujudan Bandung sebagai Kota Underground harus kembali ditegaskan. Apalagi festival dan kota penyelenggara punya mutual benefit yang terlalu panjang kalau dijelaskan di sini. Karena itulah, Semoga tahun depan event ini bisa kembali ke Kota asalnya, semoga tahun depan line-up Internasional Bandung Berisik tambah banyak, dan semoga tahun depan Bandung Berisik jadi event yang makin disegani, amin. Sampai jumpa tahun depan, Bandung Berisik.

 

Foto : Alfi Prakoso

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *