Press "Enter" to skip to content

Atmosfer Luar Biasa Segar di Konser “Mythical Men Ensemble”

Hari Sabtu (30/7) kemarin, saya dateng ke acara yang nggak akan pernah bisa dilupain sama para Insurgent Army, dan semua orang yang hadir malem itu. Malam yang sangat menggairahkan itu terlaksana di Dago Tea House, yang dipersembahkan oleh band hardrock yang banyak mengadaptasi musik psychedelia dan dangdut. Kuartet hardrock paling liar saat ini, The Sigit!

Sedikit cerita dulu, nih, dari press conference yang diadain 2 hari sebelum acara digelar, nama Mythical Men Ensemble muncul saat tour mereka ke Australia, satu bulan sebelumnya. Karena salah satu radio di sana bilang warna musik mereka lumayan jarang didengar, eksplorasi musik yang kian jauh sampai mereka disebut “mythical men”. Milu bangga kieu nya. Hehehe. Karena bahagia nonton konser ini, saya bakalan cerita buat kalian yang kemarin terlalu sibuk malem mingguan, sampai lupa ada sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Hmm.

Saya dateng sekitaran ba’da maghrib, dan.. gila. Suasana udah kayak Dufan, antrean gate masuk dan ticket exchange udah  nggak bisa dihindarin. Beberapa di barisan antrean malah udah ada yang duduk-duduk ngampar gitu. Tinggal liwet aja. Botram weh. Ada juga booth merchandise yang keliatan nggak begitu rame. Ternyata diborong ludesnya waktu udah beres konser. Sampai kesangan si Aa yang jaga booth-nya juga. Karunya.

Sekitar jam setengah 8 malem penonton udah mulai masuk dari 2 pintu masuk yang disediain. Tentunya, nggak kelewat rombongan gondrong dan bercelana cutbray pun ikut antre dengan sabarnya. Sedap. Cuaca dingin Dago waktu malem sebenernya bikin betah diem di luar. Tapi lebih betah lagi waktu udah nonton si mereka manggung dengan konsep yang nggak ada duanya.

IMG_0138

Waktu menunjukkan jam 8 malem, dan nggak pake lama, komplotan Rekti Yoewono, Farri Icksan, Aditya Bagja, Donar Armando, Idhay Adhya, Falzette Music, dan Bina Seni Vokal pun naik ke atas panggung. Disusul riuh penonton yang kebanyakan kaum adam yang datang bergerombolan sembari berharap cemas mendapatkan jodoh. Cie elah. Track Detourn pun jadi pembuka konser malem itu. Saya cuma bisa bengong liat aransemen yang mereka bawain. Dalem hati saya bilang, “fix, sih, The Sigit emang band hardrock yang udah nggak ada tandingannya”. Kesannya mirip adu pinalti Persib lawan Persipura tahun 2014 lalu. Wah gila pokoknya, mengharukan. Enak. Suara khas vintage electronic yang kompak sama sound orchestra khas ala kang Idhay bikin awal konser ini memicu tepuk tangan yang susah dibuat berhenti, sekalipun udah diperingatin lewat toa masjid.

Dilanjut sama lagu favorit saya, Gate of 15th yang kali ini intro-nya dimulai sama Falzette Music. Agak mengejutkan juga, sih, karena sampai Rekti nyanyi pun belum ada permainan dari The Sigit-nya sendiri. Nggak lupa, di tengah lagu ada solo saxophone yang ciamik. Sumpah merinding  siah pas bagian ini. Penonton lain juga pasti sama. Dilanjut sama track dari Hertz Dyslexia EP berjudul Bhang. Kalau menurut saya, sih, lagu ini salah satu aransemen yang paling baik di konser ini. Apalagi ditambah siulan kang Rekti yang nyaris nggak ada fals sedikit pun. Beuh.

Lagu-lagu hits pengundang pogo ala mereka pun dikumandangkan, kayak Soul Sister dan Up and Down. Nggak lupa dengan aransemen orchestra yang bikin hati jadi tenang tapi sembari kepala berangguk-angguk. Dilanjut sama lagu yang nyeritain mimpi mereka sewaktu bikin band dulu. “Dulu punya mimpi pengen banget ke New York, setelah mengejar beberapa mimpi yang lain, tetep aja rindu kampung halaman, terutama sambelnya,” ujar kang Rekti sebelum menghajar trek Live In New York.

Lagu paling romantis versi mereka juga dilantunkan. Kali ini dengan sedikit cerita dari kang Rekti yang sering dapet maklumat kalau lagu All The Time ini sering dipake buat nembak pasangan. Garila ieu Insurgent Army, tim Katakan Cinta sugan mah. Tembang-tembang yang lainnya pun digeber habis-habisan, dari album awal sampai album teranyar, dari yang sering kita denger kalau mereka manggung, sampai yang lumayan jarang dibawain macam Nowhere End, Am Feeling, dan Owl and Wolf.

IMG_0049

Dengan konsep super megah ala orkestra kelas Symphony Hall dan tata cahaya yang nggak mirip Tata Dado, Conundrum yang diubah sedemikian rupa dengan sound baru khas kejadulan dihadirkan berbarengan aransemen ciamik yang menggugah naluri. Sedap, bahasa. Sebagai penutup malam yang luar biasa tasyakur bin ni’mah, track kenamaan dari album terakhir mereka, Cognition pun disulap jadi dangdut berbalut melodis india khas psychedelia. Saik. Ya tunggu video yang beredar aja yah kayaknya, kalau pingin liat kang Rekti goyang serupa Uut Permatasari.

Mereka pun hormat pamit, pertanda konser sudah usai. Tapi bukan Insurgent Army tentunya kalau belum tumbang sudah ingin pulang. Maksudnya tumbang karena kenyang menyaksikan suguhan apik dari The Sigit, ya. Awas tong nu lain-lain. Kami pun sepakat buat nggak berdiri dari tempat duduk kami. Satu persatu penonton berteriak memanggil mereka balik ke atas panggung, sampai akhirnya… Yes, encore pun dimulai.

Entah disengaja atau nggak, mereka berdiskusi untuk nentuin setlist yang bakal dibawain. Kali ini mereka tampil tanpa Falzette Music, dan Bina Seni Vokal. Track pertama, Black Summer sukses bawa penonton ke atmosfer yang lebih hangat. Teriakan kuat “super fine clove cigarettes!” pun ikut bawa suasana angguk-angguk lebih mutakhir waktu Clove Doper dibawakan sesuai permintaan. Dari gerak-gerik penonton, sih, keliatan banget kalau mereka sebenernya gatel pingin stage diving atau sekadar moshing. Tapi apa daya, korsi ngahalangan coy. Dan penampilan mereka pun ditutup dengan jurus andalan segala panggung, Black Amplifier. Dan The Sigit pun kembali ke performa mereka seperti biasa. Liar, energik, dan kesangan.

Acara pun berakhir sekitar jam 10 malem. Semua audience bubar dengan rapih sambil senyum-senyum nggak sendiri. Senang!

Foto: Muhammad Andito M.

Comments are closed.