Press "Enter" to skip to content

“An Intimacy Vol. 13: Assembling Afterwards”, Melanjutkan Keintiman yang Sempat Hilang

Setelah lama hiatus, akhirnya acara An Intimacy balik lagi ke pasaran. Tujuh bulan pasca digelarnya An Intimacy: Departure April lalu, banyak rombakan yang terlihat. Acara yang digelar di Spasial ini terkesan “lebih mewah” dari helatan An Intimacy sebelumnya, ya mungkin karena rentetan sponsor yang lebih banyak dan bekerjasama dengan Go Ahead People. Padahal mah sebelumnya juga sempet kerjasama.

Dimulai dengan suguhan The Schuberts pukul 5 sore, band asal Bandung dirasa cukup pas untuk band pemanasan. Membawakan lagu di Kircland EP yang hanya berisikan 5 lagu, suasana jauh lebih santai karena nggak diburu-buru sama waktu main. Seberes break maghrib, tiba waktunya band asal Jakarta, Peonies, untuk main. Dengan memakai setelan jas hujan, Peonies bikin Spasial jadi agak “hareudang” berhubung massa sudah mulai memadati venue.

Setelah Peonies, ada band yang aku tunggu banget, Panda Selecta! Lumayan, bisa bikin goyang dikit dengan slow dance beat-nya. Tapi sayang banget, nih, seringkali ada beberapa line audio yang nggak ke-setting dengan baik, jadi lep-lepan suaranya. Panda Selecta juga berkesempatan untuk featuring sama Eky ‘RNRM’, tapi sayang audio vocal-nya kecil banget, jadi suara Eky agaknya tenggelam dalam beat electronic. Collapse jadi band selanjutnya. Berisikan rujak dari member band-band di Bandung, mereka meng-cover lagu akustik dan dikemas a la rock alternative. Mereka juga membawakan lagu baru mereka yang berjudul Cold November untuk pertama kalinya, hmm walaupun udah bukan bulan November tapi ya enakin aja.

Di penghujung acara RNRM tampil menghadirkan suasana nostalgia bagi para penggemarnya. Tapi lagi-lagi sering kali audio vocal mati, jadi kelelep dengan bunyi instrument lain, terlebih RNRM bermain full band. Meskipun gitu, aku cukup seneng kok karena mereka ngebawain salah satu lagu favoritku, Translove. Hehehe lagu jaman SMP pisan eta.

Secara garis besar, An Intimacy memang menghadirkan keintiman seperti acara-acara mereka sebelumnya. Namun entah karena tempatnya yang besar atau memang crowd-nya nggak sebanyak waktu masih di Lou Belle, kemarin cukup lengang di bagian belakang. Menariknya, panggung berada di tengah-tengah space di mana banyak orang yang juga nonton dari belakang panggung. Sayangnya dengan letak panggung sedemikian pula, interaksi artis hanya satu arah, nggak 360 ke berbagai sisi. Soal sound system sebenernya aku cukup suka, tapi sering banget line vocal mati sehingga band terdengar seperti instrumental atau dance DJ Set. Dengan tata lampu yang demikian juga, An Intimacy kali ini lebih terkesan seperti klub dance sore hari.

Bagian paling menarik dari An Intimacy volume ini adalah kehadiran kaset yang diberikan secara cuma-cuma bagi 100 pengunjung pertama. Kaset ini berisikan lagu-lagu dari artis yang pernah main di An Intimacy volume sebelumnya. Meskipun dalam volume ini dan mungkin volume selanjutnya An Intimacy akan jauh lebih komersil dari sebelumnya, namun satu hal yang nggak boleh lepas dari acara ini adalah filosofi keintiman antara crowd dan artisnya. Edan teu aing?

 

Foto: Alfi Prakoso

Comments are closed.