Press "Enter" to skip to content

An Evening With DREAM THEATER: Menghabiskan Malam Bersama Teater Impian

Minggu (26/10) kemarin, Indonesia kembali dikunjungi oleh Gajah Raksasa-nya proggresive metal dunia. Yak, siapa lagi kalau bukan Dream Theater. Dalam tur mereka yang bertajuk Along For the Ride: An Evening With Dream Theater, band yang beranggotakan James LaBrie (vocal), John Petrucci (guitar, back. vocal), John Myung (bass), Jordan Rudess (keyboard), dan Mike Mangini (drum) ini mengunjungi Indonesia. Sebelumnya Dream Theater mendarat di Korea Selatan dan akan melanjutkan tur ke arah selatan, Australia.

Konsernya sendiri digelar di ruang terbuka (tapi, ya, masuk tetap saja harus pakai tiket), di Lapangan D Senayan, Jakarta. Harga tiketnya sendiri dibanderol antara 500.000 rupiah sampai 1.250.000 rupiah, cukup mahal untuk seumuran kita-kita, tapi harga tersebut sebanding dengan performa yang disajikan.

Kondisi venue sendiri sudah cukup ramai dari sekitar jam 2 siang –jam menukar tiket bagi yang belum. Cuaca sangat bersahabat, mendung, tapi nggak hujan. Pada sekitar jam setengah 5 sore, para penonton yang kebanyakan mengenakan pakaian hitam-hitam sudah mulai mengantri di depan pintu gerbang masuk ke Lapangan D Senayan, cukup bikin macet orang-orang yang ke arah JCC. Panitia sendiri menjanjikan open gate mulai pukul 5 sore, namun kenyataannya, baru sekitar 20 menit setelahnya pintu mulai dibuka.

Gerombolan berbaju hitam.
Gerombolan berbaju hitam.

Ketika pintu dibuka, para penonton langsung menyerbu booth photostage untuk sekedar berfoto dengan banner konser. Selain itu, ada booth lain seperti penjualan minuman (yang harganya 5 kali lipat harga minimarket), ada juga booth rokok sponsor, dan tentunya boothofficial merchandise dari Dream Theater yang harganya selangit. Booth yang banyak dikunjungi pengunjung adalah booth KORG. Booth produsen keyboard ternama itu sedang memamerkan keyboard milik keyboardis Dream Theater, Jordan Rudess.

Sempat ada kehebohan di booth photostage ketika ada sesosok orang asing gondrong, berjenggot, dan berwajah SANGAT MIRIP dengan mantan drummer Dream Theater, Mike Portnoy. Sontak saja banyak yang mau ambil foto dengan beliau. Padahal, menurut istrinya, beliau hanyalah pelancong dari Malta yang kebetulan suka dengan Dream Theater.

Nggak lama, pintu masuk ke venue pun langsung dibuka. Mungkin, karena keterlambatan pembukaan gate pertama, dan sudah menumpuknya penonton, panitia langsung mempersilakan masuk para penonton tanpa harus melakukan pengecekan barang bawaan terlebih dahulu, sehingga botol-botol air minum, rokok, korek api, dan segala macam benda yang ada di tas para penonton bisa dibawa masuk dengan leluasa.

Ketika masuk, saya agak panik karena takut nggak dapat tempat yang strategis untuk menonton, ternyata saya salah. Saya masih dapat berdiri di sekitar baris ketiga dari barikade yang memisahkan Festival A dengan Festival B. Di luar dugaan, ternyata venue cukup kosong, mungkin hanya 2/3 terisi. Akhirnya, penonton dari Festival C (kelas paling murah) digabung dengan Festival B (kelas menengah). Mungkin untuk membuat ilusi padat bagi Dream Theater. Namun, walaupun sudah demikian, masih banyak ruang kosong untuk duduk-duduk di belakang. Sebenarnya ini cukup baik untuk beristirahat bagi penonton yang nggak dapat berdiri lama, mengingat banyak juga penonton yang sudah cukup berumur.

Fake Portnoy.
Fake Portnoy.

Konser pun dimulai tepat jam 8 malem. Sebelumnya penonton diajak untuk mengibarkan spirit nasionalisme mereka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Konser dibuka oleh sebuah video spektakuler yang menggambarkan perjalanan musik Dream Theater melalui reinterpretasi cover album-album mereka yang diiringi dengan rekaman lagu FalseAwakening Suite dari album terbaru mereka. Penonton langsung digeber dengan lagu dari album terbaru Dream Theater, The Enemy Inside, dilanjut The Shattered Fortress dari album Black Clouds and Silver Linings. Setelah itu, James LaBrie mulai menyapa penonton, dan tanpa banyak basa-basi, langsung melanjutkan konser ke lagu On the Back of Angels, yang berhasil mengajak penonton berkaraoke massal.

Dilanjut dengan The Looking Glass, Trial of Tears, dilanjutkan dengan sebuah lagu instrumental yang disajikan dengan video animasi klasik Enigma Machine, yang juga diselipi dengan drum solo yang spektakuler dari drummer baru mereka, Mike Mangini. Along For the Ride yang merupakan tajuk besar dari tur mereka, dan Breaking All Illusions pun menjadi penutup paruh pertama konser ini.

John Myung, John Petrucci, Jordan Rudess in action.
John Myung, John Petrucci, Jordan Rudess in action.

Dalam rehat selama 15 menit, penonton disajikan potongan-potongan video Youtube, yang merupakan kreasi para fans Dream Theater. Entah itu cover lagu, hingga kisah lucu tentang seorang pemain triangle yang ingin bergabung sebagai pemain triangle untuk Dream Theater. Paruh kedua konser dibuka dengan lagu The Mirror yang langsung disambung dengan Lie, Lifting Shadows Off A Dream, Scarred, Space Dye Vest yang kesemuanya adalah paruh kedua dari album Awake yang sedang dirayakan ‘ulang tahun’ ke-20nya. Konser ditutup dengan lagu sepanjang 22 menit dari album baru mereka, Illumination Theory. Ditutup tentu saja hanya untuk memancing penonton berteriak “we want more” .

Nggak lama, Dream Theater kembali ke panggung untuk membawakan 4 lagu dari album yang banyak dibilang sebagai album terbaik mereka “Metropolis Pt.2: A Scene From A Memory”, yaitu Overture 1928, Strange Dejavu, lalu lagu mahakarya mereka –yang disebut oleh Jordan Rudess dalam sebuah wawancara sebagai lagu paling teknis dari Dream TheaterDance of Eternity, dan ditutup dengan Finally Free. Konser ditutup dengan para personil Dream Theater berterima kasih kepada penonton, dan pada akhirnya mengibarkan bendera Indonesia yang sudah diberi logo ‘Majesty’ –logo resmi Dream Theater– di atasnya.

Selesai sudah sebuah malam luar biasa yang dihabiskan bersama para om-om hebat ini. Selama 3 jam penuh penonton disuguhi sajian musik yang jenius, rumit, namun tetap enak didengar. Vokal James LaBrie yang khas, cabikan bass John Myung, raungan gitar John Petrucci, bebunyian aneh yang dihasilkan Jordan Rudess, dan gebukan drum Mike Mangini semua berpadu dalam sebuah teater impian.

Secara keseluruhan konsernya asyik, namun sayang, walaupun sering didaulat sebagai band ‘orang pintar’, masih banyak orang yang terus-terus merekam performa mereka dengan telepon genggam dan menghalangi pandangan orang yang di belakangnya. Walaupun venue nggak penuh, namun animo mereka yang datang sangatlah luar biasa. Terima kasih, Variant Entertainment yang sudah membawa Dream Theater ke sini. Dream Theater juga, terima kasih pisan banget, semoga nggak bosen-bosen main ke sini, ya! Bandung boleh kali dikunjungi juga.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *