Press "Enter" to skip to content

Tentang EP Album, dan Banyak Hal Seputar Alvin & I

Daerah  kecil Jatinangor nggak pernah absen melahirkan band-band baru, meski terkadang beberapa band umurnya sulit dibedakan dengan pesantren kilat yang suka diadakan pada bulan puasa. Singkat. Dan ironisnya, band-band bagus yang sempat lahir di Jatinangor belum sempat mengeluarkan EP atau album, kalah oleh SBY yang dalam satu tahun bisa mengeluarkan minimal satu album.

Dan kali ini ada Alvin & I yang tahun kemarin nampak menanjak, terlihat sempat sepanggung dengan Sore, Pure Saturday, dan beberapa band papan atas klasemen lainnya. Karena euweuh gawe, yaudah saya ngobrol-ngobrol dengan mereka dari mulai masalah album, ruang musik sampai Ahmad Dhani. Penasaran? Sama, saya juga, soalnya lupa kemarin ngobrol apa aja. Simak!

 

Saya pertama kenal Alvin  & I lewat lagu Bersuara, lirik sarat makna dan komposisi melodi yang tepat. Bisa diceritain tentang lagu ini?

Alvin Baskoro: Bersuara itu.. saya lupa artinya Bersuara, coba Ijal jelasin, Jal! Hahahaha nggak ketang hampura.

Rizal Husein: Jadi, Bersuara itu band yang lagi ngetop.

Rafdhi: Vokalisnya Iga Massardi.

Rizal Husein: Baleg ih, Vin, karunya si akangna.

Alvin Baskoro: Bersuara itu saat kamu dibungkam oleh suatu masalah, kamu punya harapan untuk bersuara tapi nggak bisa. Begituuuu.

Nggak banyak band yang berani membawa instrumen tradisional ke atas panggung, lain dengan kalian. Beberapa kali menyaksikan kalian manggung, ada karinding, suling dan angklung sebagai instrument tambahan. Mengingat di lagu Bersuara belum ada bebunyian etnik muncul, apa sekarang instrumen-instrumen tersebut wajib mengisi komposisi atau sekadar gimmick?

Alvin: Itu wajib, kok. Bersuara yang versi itu teh yang lama hasil rekamannya.

Surya: Kalau diliat dari beberapa tahun ke belakang, kita tadinya belum pakai instrumen sunda, masih musik akustik dengan harmoni vokal. Terus, Alvin punya materi yang judulnya Kalut. Dia ngajak Ijal dan Dakris untuk ngisi suling dan karinding. Ke sini-sininya, kita ngerasa adanya Dakris dan Ijal ngasih warna baru di Alvin & I. Akhirnya, alat musik itu jadi bagian yang sulit dipisah deh dari Alvin & I.

Alvin: Betul.

Nah, keputusan bawa Ijal sama Dakris selain karena materi Kalut awalnya, apa ada niatan juga ingin menegaskan kalau kalian bermain di jalur folk?

Rafdhi: Kalau folk mah, Alvin udah mengusung itu dari jaman sebelum formasi sekarang. Cuma folknya versi Alvin & I itu ya bisa dibilang yang sekarang ini.

Rizal: Aku, sih, yes. Dakris pun begitu. Karena misi kami pada dasarnya mau mengenalkan instrumen sunda dan sharing bahwa instrumen sunda bisa dikolaborasikan dengan instrumen modern.

Alvin: Kurang lebih begitu, waktu ngebentuk Alvin & I emang pengen buat band genre yang sekarang dimainin. Ngan leuwih nyaman ayeuna make suling, angklung, karinding, begitu.

Influence kalian siapa saja dalam bermusik?

Rizal: Aku pribadi mah nggak ada influence heuseus. Cuma denger semacam Darso, atau lagu daerah lainnya buat referensi main suling dan angklung. Jujur ini mah nggak bohong.

Surya: Kebanyakan dengerinnya band-band surf macem The Ventures, Dick Dale, Guantanamo Baywatch, dan The Growlers. Tapi untuk Alvin & I ini saya mulai belajar untuk denger Sufjan Stevens, Bombay Bicycle Club, sama Tinariwen.

Regina: The Staves kalau untuk Alvin & I.

Ilham:  Aku suka Of Monster and Man.

Andri Cahyaningtyas: Bombay Bicycle Club!

Alvin: Saya Efek Rumah Kaca, Tigapagi, dan The Staves.

Rafdhi: Saya mah mencari petikan ala-ala Alvin & I, influence-nya bisa dari Tigapagi, Efek Rumah Kaca, Payung Teduh juga masuk untuk petikan gitarnya.

Dengan jumlah personil yang cukup untuk bertanding futsal, ada kesulitan dalam proses tukar ide untuk membuat lagu?

Rizal: Tah eta problematikana. Seperti berpacaran dengan 8 orang tapi saya pribadi nggak merasa kesulitan. Oleh karena yaaa.. nggak sulit aja.

Surya: Kesulitannya mah lebih ke jadwal manggung, sih. Kadang ada yang nggak bisa karena jaga warung. Ada yang nggak bisa gara-gara dagang korek atau ngirim galon dari Ramires (bukan, Ramires pemain Chelsea bukan kang galon, tapi ini nama warung di sekitar Jatinangor).

Alvin: Sampai sekarang asa belum pernah kesulitan gitu buat ngaransemen lagu, jadi seru-seru aja. Anak-anaknya gemar improv hahahaha.

Andri: Iya ide awal memang kebanyakan dari Alvin, tapi untuk aransemen mah semua personil saling nambahin dan ngasih warnanya masing-masing sambil asik-asik kok.

Regina: Nggak sulit karena master-nya udah jadi terus tinggal pake feeling dan karena udah sering begitu jadi udah biasa, udah kerasa chemistry-nya.

dz
Salah satu artwork mereka untuk preview lagu Tenang Jiwa (Siddharta).

Dulu banyak band-band bagus muncul dari almamater kalian, kayak Cerah Berawan, Serigala Jahanam, Joni Zebra, dan terakhir Woodcabin yang memutuskan vakum.  Namun sayang sampai sekarang belum liat yang muda-muda dari almamater kalian bisa survive di skena. Permasalahannya klasik, ditinggal personil balik ke daerah asal begitu lulus. Ada ketakutan Alvin & I bernasib sama?

Alvin: Jujur, ada, sih, ketakutannya, tapi di tahap kayak gini rasa takutnya makin dikit. Kemarin di panggung atau setelah manggung juga nyambung gitu jadi tahap yang nyaman gitu. Udah pada click semuanya, bikin nyaman.

Rafdhi: Saya, sih, ada sedikit keoptimisan, Alvin & I bisa bertahan, karena kelihatannya potensi kami yang cukup menjanjikan kata salah satu pengamat musik, itu juga yang bikin agak tenang haha.

Surya: Setuju sama Alvin.

EP kalian apa kabar?

Alvin: EP materi aman. Semuanya udah aman, tinggal masa produksinya aja sebenarnya haha. Kendala di waktu sebenarnya, lagi proses “patunggu” euy, lagi ada satu yang ditunggu. Sisanya pengen segera rilis. Yang sekarang paling ditunggu teh single kita keluar, tunggu yah.

Berapa lagu?

Alvin: Tunggu aja yah, pokoknya pas 25 menit hahahaha.

Karena lapangan folk-revival untuk scene Bandung  udah padet kek jalanan Cibiru jam 6 sore, generik dan terkesan seragam, apa yang mau kalian tawarin ke pendengar dalam EP kalian?

Alvin: EP Alvin & I pengennya ngasih cerita ke pendengar, isinya pengalaman tentang keseharian, jenuh, capek, ngeliat orang nggak karuan, harapan untuk bersuara, sampai ujungnya mereka nemuin ketenangan.

Andri sama Regina dulunya pernah padus, acapela, apa bakat saja?

Regina: Pas SMP pernah padus sih, sama dari SMA emang udah ngeband.

Andri: Kalau aku emang baru kali ini aja ikutan ngeband hahaha, nggak pernah padus cuma suka dengerin musik sama nyanyi-nyanyi sendiri aja di kamar. Ngga bakat juga, sih, feeling aja haha.

Siapa yang paling ribet kalau persiapan manggung?

Rizal: Awewena darangdosna riweuh.

Andri: Hahaha iya pasti ribet dan bingung milih baju, sih, kalau manggung.

Foto: Sandi Jaya Saputra
Foto: Sandi Jaya Saputra

Ahmad Dhani baru-baru ini menyatakan akan menantang Ahok dalam Pilkada. Dengan artis-artis Republik Cinta Management dan kerupawanan Al yang bisa dijadikan mesin pendulang suara, Ahmad Dhani bisa jadi kuda hitam. Komentar kalian?

Rizal:  Menurut saya politik Indonesia sudah nggak perlu dibahas karena sudah terlalu jauh dari contoh para pendiri negara. Pancasila sudah diperkosa.

Surya: Menurut saya, si Ahmad Dhani bisa aja merebut perhatian para penonton tv. Cuma maneh kebayang nggak, sih, kalau dia nanti jadi Gubernur Jakarta, kita disuguhkan dengan berita-berita murahan kayak infotainment. Pernah liat nggak acara logika Ahmad Dhani di salah satu stasiun tv? Aduh kitu pisan.

Tahun ini Leonardo Dicaprio masuk lagi nominasi Oscar, ramalan kalian bakal menang nggak si akang eta?

Ilham: Belom keknya, kalau dia menang nanti nggak bisa di-bully di 9gag lagi. Tapi bener deh internet pecah kalau Leo menang. Kemahsyuran dia udah juara lah melebihi artis pemenang Oscar.

Surya: Oscar dan Leonardo teh kayak kisah cinta Rahwana dan Shinta. Heseee pisan.

Regina: Menurut saya ini saatnya untuk Mas Leo. He is a good actor.

Pertanyaan terakhir, kang Emil masih belum wujudkan ruang untuk apresiasi musik (gedung konser, dsb). Kalian sebagai pelaku di dunia ini punya komentar buat RK?

Alvin: Kembali ke musisinya mau manggung atau nggak. Kalau iya, Taman Musik juga sudah bisa diaktivasi kok. Masalah Bandung kota musik atau nggak, mau gimana pun nggak akan mati, kok, seni musiknya hihi.

Regina: Musik bisa dimainin di mana-mana, kok, tapi alangkah lebih baik kalau Bandung punya Radio City Music Hall.

Surya: Setuju tuh sama Reji, adain ruang khusus untuk apresiasi musik. Sejauh ini ada, sih, Taman Musik, tapi tolong, perizinan untuk penyelenggaraan acara jangan dipersulit dan dilempar sana sini.

Regin: Lebih bagus lagi kalau yang bikin mahasiswa ada venue gratis, tapi dijadwalin dan bayar kebersihan. Tapi itu, sih, orang Indonesia harus lebih diajarin cara merawat fasilitas umum.

___________________________

Twitter : @AlvinAnd_I

Soundcloud : soundcloud.com/alvin-and-i

Foto : Sandi Jaya Saputra, dok. Alvin & I

PS: interview dilakukan sebelum Piala Oscar 2016 digelar. Tebakan Regina benar, karena akhirnya Leonardo DiCaprio berhasil menangin Oscar!

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *