Press "Enter" to skip to content

Album: Under The Big Bright Yellow Sun – Quintessential Turmoil

Kesulitan terbesar dalam membuat album instrumental menurut saya adalah, tentu, penulisan aransemen lagu. Bagaimana kemampuan musisi untuk menulis sebuah lagu yang dapat “bernyanyi” tanpa ada keterlibatan suara manusia didalamnya. Karena sebuah lagu akan jauh lebih mudah diingat dan akan lebih gampang memiliki ciri khusus jika muncul suara manusia yang menyanyikan guratan lirik didepannya. Setidaknya itu menurut saya saja.

Dalam kasus ini, Under The Big Bright Yellow Sun kembali menantang teori pisang goreng saya yang mentah dan nggak laku. Sebuah musik bisa, dan dapat dengan mudah diingat tanpa perlu menggunakan nyanyian kata dari mulut manusia. UTBBYS menggunakan senjata yang bernama mood. Iya, mood.

Jujur saja, album pertama mereka yang berjudul Painting Of Life yang dirilis sekitar dua tahun lalu samasekali tidak meninggalkan kesan apa-apa untuk saya. Sebuah album yang dengan mudah saya lewatkan begitu saja. Karena hampir seluruh materinya bisa dikatakan kurang memiliki struktur yang kuat. Kadang pula di beberapa lagu terdengar terlalu lemah. Maka ketika mereka kembali merilis album, dan kali ini dibawah naungan Monsterstress Records (yang juga merilis album dari Spaceandmissile dan Echolight), saya tidak terlalu mengharapkan banyak hal.

Dan, hey, inilah enaknya mengendurkan ekspektasi serenggang mungkin.

Quintessential Turmoil adalah sebuah album yang bagus. Titik.

10 lagu yang 90% nya berbahasa Inggris ini secara keseluruhan ada diatas taraf aman dan layak nangkring manja di otak. Karena secara spesifik keseluruhan lagu tersebut memiliki mood masing-masing. Di track ke-1, Fur Elizabeth,  intronya terdengar cukup mengingatkan saya akan nuansa yang dibawa Echolight pada album pertamanya, namun terselamatkan dengan susunan aransemen di beberapa menit berikutnya. Dan mohon dengarkan lagu ini hingga menit terakhirnya karena justru UTBBYS terdengar sangat prima disana.

Lompat ke track ke-4 berjudul Wasting Time, yang dengan lihai mengadaptasi atmosfer perselisihan 3 gitar milik Explosions In The Sky dan tiba-tiba menjadi lagu yang sangat megah di menit 4:48 dengan progresi kord yang manis. Rinci sekali. Keren. Did You Remember The Day We Were Child? di track ke-8 seakan mengukuhkan inti mood dari album ini. Pemilihan nada yang sederhana namun dibantu dengan peralihan tempo membuat lagu ini akan sangat jauh dari kata membosankan. Catchy dengan berlapis alasan.

Garis terangnya ada di lagu terakhir, Prahara. Lagu ini bisa jadi akan menjadi lagu andalan UTBBYS ketika live. Dan jika lagu ini disandingkan dengan sebuah gambar bergerak, maka lagu ini akan mudah menelusup dan mendukung gambar tersebut lalu malah beralih menjadi pusat perhatian. Karena komposisi lagu ini sangat baik. Sayang lagu lain seperti Good Morning Sunshine, Three Days After Death, dan Shocked After Stress tidak meninggalkan bekas dominan untuk saya. Beruntung masih dapat diimbangi dengan ciamiknya komposisi dari lagu-lagu lainnya.

Under The Big Bright Yellow Sun patut diacungi jempol karena selalu tegak berada didepan dalam scene musik instrumental/post rock yang belakangan ini menjadi bahan guyonan. Jadwal panggung yang berentet baik di panggung lokal maupun interlokal, brand marketing yang digarap dengan baik, dan yang terpenting, rutin membuat rilisan fisik. Walaupun mungkin mengorbankan rombak personil atau transisi manajerial, jika tujuannya untuk pemenuhan karya seperti album Quintessential Turmoil ini, apa salahnya?

Tracklist:

1. Fur Elizabeth

2. A Life In A Day

3. Good Morning Sunshine

4. Wasting Time

5. A Slow Journey To The East

6. Ironic

7. Three Days After Death

8. Did You Remember The Day We Were Child?

9. Shocked After Stress

10. Prahara

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *