Press "Enter" to skip to content

Album: Torpedoest – See The Unseen

Indeks Prestasi Keren (IPK): 7/10

TOR! TOR! APA YANG PEDOEST?!?! Ya benar, ya ya ya, Torpedoest. Wow wow wow. Band berhaluan GBHN dan berasaskan Pancasila ini kembali meramaikan dunia persilatan musik punk rock Tana Air. H-nya lupa, Tanah Air. Sip. Trio asal Jakarta ini mengeluarkan album ke-2 mereka, yang berarti… sebelumnya mereka sudah mengeluarkan album pertama dong, bener nggak? Fufufu. Serius ah. Album ke-2 dari Torpedoest ini berisikan materi lagu yang belum ada di album ketiganya. Hahahaha. Masa, sih, bro.

Asli ini seriusss. S nya tiga tuh. Album Torpedoest yah. Hmm… menarik, ciamik, unik, dan penuh kritik. Tsaadesssstt. Diberi tajuk See The Unseen, album ini dirilis melalui Guild Records, pada akhir bulan Maret lalu. Buat yang belum tau siapa aja personel Torpedoest, jangan ngarep saya bakal ngasih kontak mereka terus kalian bisa sms-an, bbm-an, line-an, MIRC-an, Omegle-an dengan tsantai. Moal! Omat, moal.

Reza Hilmawan (drum/vokal/keyboard), Reza Ardiansa (gitar) dan Dani “Treho” Ahmad (bass), tiga insan dengan talenta yang oke ini menjadi tombak Torpedoest. Tapi di pagelaran yang bakal mereka adain di Bandung akhir bulan nanti, mereka akan punya drummer tetap dan Reza Hilmawan akan fokus sebagai vokalis.

Ngomongin See The Unseen, dari cover-nya yang kece itu saya dapat merasakan bahwa mata dicolok pakai teropong pasti bakal sakit banget, apalagi ditekan-tekan gitu. Adaw. Bercanda mas Surya. Hehe ampun. Kuyasunda atau lebih jelasnya Surya Fikri Asshidiq menjadi juru artwork dalam album ini. Sedikit kepo instagram mas Kuyasunda, gambar  tersebut punya makna “tak cukup jika hanya melihat sebelah mata, masih ada mata lainnya yang bisa menyeimbangkan pandangan kita”. Hail See The Unseen!

See the Unseen berisikan 8 tembang yang asik, 3 lagu berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan 5 lagu berbahasa Inggris yang good and fine. Total durasi yang bisa kita nikmatin ada 20 menitan. Nggak kelamaan dan nggak kecepetan. Pas lah, buat saya. Kalau kalian setel ini album, awalnya bakalan ada prolog atau sepatah-limapuluh lebih patah kata tentang pentingnya bersyukur dalam hidup yang diorasikan oleh Reza Hilmawan. Edan.

Nggak berselang lama, track selanjutnya yang juga jadi nama album ini, See the Unseen, bakalan kalian “lahap” abis-abisan. Dengan potongan lirik “I won’t run and I won’t Hide”, track ini memberi tau kita agar tetap liar dan berfantasi. Jangan takut akan hal yang akan menghalangi. Alunan melodi gitar yang tajam di tengah lagu membuat pendengar akan melakukan gerakan seakan-akan seorang gitaris. Coba deh!

Selanjutnya ada The Postivism’s Wall dan Anthrophobia yang akan melanjutkan perjalanan dari See the Unseen ini. Beat di kedua lagu ini dibawakan dengan baik, membuat kita menggoyangkan kepala mengikuti ketukan drum yang asik. Blur cuy, bukan yang musuhnya Oasis yah. Blur, tembang berikutnya yang akan hinggap di pikiran kalian para pendengar. Dengan musik yang agak slow, ditambah dengan adanya backing vokal dan skill gitar yang cucok membuat tembang ini terasa lebih ringan untuk didengar daripada tembang yang lain. Gurih boss.

Bangsat, duh maaf jangan emosi yah, ini lagu berikutnya dari peranakan See the Unseen. Menceritakan tentang sebuah keinginan untuk hidup dengan bebas, lepas di tengah kebanyakan “bangsat” dalam hidup ini. Lagu ini diprediksi bakal jadi salah satu lagu yang bakal enakeun pisan kalau dinyanyiin rame-rame. Asli!

Lanjut dengan rasa tercengang dari suara gitar di awal lagu Hantu membuat pengalaman ngedengerin album ini makin enak dan menjelaskan tentang bahwa dunia ini nggak sedang baik-baik aja. Kita perlu bergerak. “Hey tuan hey nona lihatlah semua ini, apalagi yang kau cari?”. Ya, apalagi atuh kalian mesti nyari dan beli ini album.

Cus ke track selanjutnyah yah. Prisoner’s Dilemma Game menghentakkan bukan cuma kepala, tapi juga badan kalian bakal ikutan, lho. “Under Freedom, Under Prosperity. Can you see that nothing is free”, lirik tersebut diulang beberapa kali menandakan bahwa itu adalah part penting dari track ini. Bebas ngartiin deh buat kalian, yang jelas ini tembang bikin kalian OY, OY, OY-an. Terakhir dan jadi penutup, Bangun menjadi satu-satunya lagu yang dibawakan dengan format solo gitar dan vokal saja. Lagu ini mirip dengan lagu pada album perdana mereka yang berjudul Life is Good. Lagu ini menjelaskan kalau kita harus bangkit dan bangun. Jangan cuma interpretasi karena hidup butuh ilmu, teori dan aksi. Sadis. Ayo dong, BANGUN! BANGKIT! BELI CD-NYA YA! MARIIIIII.

Secara keseluruhan, See The Unseen menyuguhkan nuansa punk rock yang khas dan malah jadi memang sebuah penanda sound dari Torpedoest sendiri. Album ini nggak kalah kece dari Modes of War, karena menurut saya masih ada kesinambungan di See The Unseen dari album sebelumnya. Jaya terus Torpedoest, jangan berhenti berkarya dan kalau beres makan jangan lupa minum yah. Takisss!

 

Tracklist:

1. Into the wild

2. See the Unseen

3. The Positivism’s Wall

4. Anthrophobia

5. Blur

6. Bangsat

7. Hantu

8. Prisoner’s Dilemma Game

9. Bangun

Comments are closed.