Press "Enter" to skip to content

Album: The Reunion Club – They Become Closer Than Brothers

Bentuk kejenuhan dan benturan berbagai macam rutinitas cenderung memicu dan memacu kinerja syaraf untuk membuat sesuatu yang keren. Seenggaknya itu yang saya tangkap dari rilisan 10 lagu milik empat pria resah di usia pertengahan 20-an ini. The Reunion Club yang berisikan Nando (vokal/gitar), Eja (gitar), Jery (bass), dan Mamet (drum) merekam seluruh pelarian atas kekesalan mereka ke dalam album berjudul They Become Closer Than Brothers ini. Dirilis melalui label Lumba Leopard Records.

Rangkaian musik bertempo derap cepat, pacuan gitar serta bass downstroke yang menyesuaikan, serta geraman suara bernada dan berlirik tegas menjadi formula yang sangat tepat guna. Aroma Social Distortion dan Superman Is Dead era awal-awal hingga petikan dan lick gitar jangly ala Sheila on 7 akan menghampiri ingatan seraya musik mereka masuk ke otak. Konon katanya musik yang mereka bawakan ber-genre Country-Punk. Ah, tapi saya mah nggak peduli-peduli amat. Yang penting enak.

Dibuka dengan track berjudul sama dengan album ini, They Become Closer Than Brothers, sebuah lagu punkrock sederhana yang sangat cocok dijadikan bentuk perkenalan. Menceritakan persahabatan antar pria yang sebenarnya agak getek untuk diungkapkan namun mereka mengeksekusinya dengan baik, galak namun ceria. Dilanjut dengan Laboratium Bawah Tanah, sebuah lagu cepat semi-balada dengan lirik emas. “Ancamlah diriku selagi kamu bisa/ingatlah esok lusa kutikam balik jantungnya/aku mungkin bodoh di kampus yang ternama/tapi tidak di luar sana”.

IMG_5940

Secara keseluruhan, formula yang saya paparkan pada kalimat kedua di alinea kedua tetap menjadi andalan mereka di album ini. Baru agak terdengar berbeda pada lagu Today I Know, dan Porky Park yang mengedepankan beat jenaka namun dengan lirik serius setengah nakal. Saya mendapati bahwa karya-karya mereka berada pada kualitas di atas rata-rata. Aransemen musik yang baik disertai proses pasca produksi yang mengimbangi bisa menjadi pembeda. Satu-satunya hal yang patut disayangkan adalah geraman vokal dari Nando yang kadang masih terdengar setengah matang dan malah membiaskan lirik yang ditumpahkan.

Oh iya, dua lagu favorit saya nobatkan pada Tumbuhlah Liar dan Aspal Hitam. Tumbuhlah Liar adalah anthem berandalan elegan yang senang tubruk hantam sana-sini. Simak lirik ini: “dan tunjukkan kita masih muda/dan selalu tertawa dalam asap yang membara/dan lawanlah dengan keras kepala/kita pun bisa lawan dan tunjukkan”. Sementara lagu Aspal Hitam adalah lagu cinta yang serba iseng dan justru sangat menarik untuk disimak. “Makan malam kita menu biasa yang kau suka/selalu kau mau tidur denganku beralas batu/berselimut langit biru/Tahan air matamu sejenak/genggam tanganku kau selalu kuat/ujung jalan ini tlah terlihat/kau tetap canduku sampai ku lewat”.

Saya sering sekali menemukan karya musik punkrock lokal yang cenderung monoton. Tiga kunci gitar, lirik tentang pemberontakan yang terlalu muluk, dan berusaha melakukan apa pun yang dilakukan oleh Blink-182. The Reunion Club jauh dari semua itu. Lirik-lirik menarik dikemas dengan musik cepat yang menyamankan. Sebuah rilisan yang beda dalam konotasi positif. Beda yang menyegarkan. Beda yang menyenangkan.

 

Tracklist :

1. They Become Closer Than Brothers

2. Laboratorium Bawah Tanah

3. Tumbuhlah Liar

4. Today I Know

5. Aspal Hitam

6. Tahasa

7. Politik Pesta Cinta

8. Porky Park

9. Jutaan Mimpi

10. Kenduri Perpisahan

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *