Press "Enter" to skip to content

Album: Straight Of Fight – Punk Partisans

Indeks Prestasi Keren: 6/10

Remaja punk identik dengan kebebasan. Pergi siang, pulang siang lagi selama sebulan berturut-turut tentu nggak jadi masalah besar. Tapi bagi yang sudah dewasa dan berkeluarga, pulang larut atau pagi buta mungkin akan menuai masalah. Apalagi kalau orang rumah nggak dikasih kabar dulu sebelumnya.

Menjadi punk di usia yang nggak lagi remaja memang sulit. Perlu perjuangan yang nggak sedikit. Terlebih lagi, kalau kondisi tubuh yang nggak bisa diajak kompromi. Seakan bentuk fisik nggak bisa menampung semangat yang masih membara. Misalnya sepulang dari gig, mandi air hangat, membaluri badan dengan minyak kayu putih, dan menempelkan koyo di bagian badan yang pegal sudah terasa seperti ritual saat ini. Memang sebuah pengorbanan dari kenikmatan medan moshpit dan slam dance di gigs. Hal yang nggak bisa ditolak.

Saya senantiasa angkat topi bagi mereka yang lebih tua daripada saya, tapi masih bisa menggebrak drum set dengan ketukan super cepat. Mereka yang masih doyan melengking berteriak-teriak. Masih kuat loncat-loncatan di atas panggung. Mereka masih mampu menjaga apa itu punk yang mereka rasakan sewaktu muda, hingga umur berkepala tiga, bahkan empat. Seperti halnya Straight of Fight, unit crust-punk sejak tahun 1999 asal Depok yang digawangi oleh Okcrust (vokal), Three Julianto (vokal) Boim (gitar rhythm) Maddun (gitar lead) Khomenk (bass) dan Ian (drum) akhirnya hadir dengan EP berisikan lima butir amunisi berjudul Punk Partisans.

Stay Free, Stay Strong yang berperan sebagai pembuka terdengar cukup cadas, dengan pattern tiga kunci sebagai formula utama berhasil mengajak sedari awal. Ya, nggak tiga-tiga amat, sih, kuncinya. Lagu ini memberikan seperti membuka moshpit yang siap untuk diserbu. Ditambah juga dengan lirik “…dengan kata lain tidak ada yang bisa meredam hasrat hidup seseorang, tidak luka, tidak juga penderitaan.” Seperti memberi penegasan bahwa kita pantang berputus asa.

Terpujilah unit ini yang menyimpan rapi Life is a Fear sebagai track pamungkas. Ekspektasi saya sebagai pendengar perlahan pun merangkak, naik, dan klimaks. Sebagaimana “Fear, violence, religion, politic,” yang dilafalkan dengan hanya bantuan gitar dan drum yang sukses menciptakan imaji yang mencekam, yang kemudian dihajar habis-habisan oleh distorsi dan throat edan meneriakkan “War and peace, war and peace.”

Dilihat dari segi kemasan yang lengkap dengan tersedianya lyric sheet, foto album yang detail, dan tagline yang tegas seperti menyiratkan kalau band yang terbentuk setahun selepas Orba bubar ini, memang sudah layak kembali masuk dapur rekaman untuk merekam belasan lagu. Sudah seharusnya album penuh lahir setelah EP ini, dengan kualitas audio yang lebih mumpuni, tentu saja.

Kurun 17 tahun ugal-ugalan tentu menghasilkan materi ajaib yang nggak sedikit. Seperti anggur, semakin lama disimpan, semakin nikmat rasanya ketika dihidangkan. Saya harap hal serupa pun terjadi pada materi-materi yang mungkin telah lama mereka peram. Menunggu momentum yang tepat buat diledakkan. Semakin tua semakin matang (dan garang), dan saya pun berharap hal yang serupa untuk entitas budaya ini. Di luar hal yang berbentuk ideologi, tubuh memang nggak bisa bohong. Kadang kita butuh seseorang yang bisa memapah kita saat badan oleng, ketika kewarasan sudah di luar akal. Pada titik inilah Punk Partisans memberi kita jawabannya; “To help each other, that’s what punks are for.”

Tracklist:

1. Stay Free, Stay Strong

2. Straight of Fight

3. Punk Partisans

4. Terpekat, Sekarat

5. Life is a Fear

Teks: F. Ilham Satrio

* F. Ilham Satrio adalah seorang anggota kolektif air mata. Menulis di filhamsatrio.blogspot.com. Tulisan lainnya dapat ditemukan di beberapa media, salah satunya Meta Ruang. Kontak: f.ilham.satrio@gmail.com.

Comments are closed.