Press "Enter" to skip to content

Album: Sigmun – Crimson Eyes

Setelah sekian lama aku menunggu, untuk kedatanganmu. Datanglah, kedatanganmu kutunggu. Kalimat tadi merupakan lirik yang dinyanyikan oleh Ridho Rhoma yang sedang menanti sebuah kedatangan. Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi ketika penantian berbuah kepastian, rasanya teh mantap. Nampol.

Setelah sekian lama, para penikmat Sigmun yang terus menerus menanti, kini sudah bisa terpuaskan oleh sebuah album penuh bertajuk Crimson Eyes yang dirilis pada tanggal 15 November lalu oleh Orange Cliff Records.
Selepas menebar beberapa single, split album, EP – Cerebro & EP – Land of the Living Dead, terhitung sudah kurang lebih 4 tahun mereka terus bereksperimen dengan materi musikalnya. Puji syukur semesta alam, di tahun ini mereka menelurkan sebuah album penuh, dan melengkapi ke luar biasaan di tahun 2015. Syukron ya akhi.

Ekspektasi tinggi nampaknya datang terhadap album perdana Sigmun. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme yang menggebu terhadap single Ozymandias yang mereka sebar. Sampai sekarang, single tersebut sudah didengar sebanyak 9,7K oleh para insan musik lewat laman Soundcloud mereka. Dari total 11 lagu yang disuguhkan di Crimson Eyes, semua materi terasa lebih cadas, segar, dan religius. Dibuka oleh In the Horizon yang berdurasi 8 menit 28 detik, Mereka seakan memberi aba-aba, agar para pendengar siap-siap tapi rileks, sebelum dicekoki suguhan yang lebih nyoco di trek-trek selanjutnya.

Saya nggak bisa langsung beranjak dari lagu pertama, butuh beberapa kali putaran sebelum akhirnya ridho lillahi ta’ala untuk lanjut ke trek selanjutnya. Sulit dilepas seperti cinta pertama tea ningan. Dinamika yang dihadirkan setiap trek-nya sangat terasa, mulai dari Vultures dan Devil in Disguise yang masih terasa santai, lalu diajak sedikit lebih berenerjik di Halfglass Full of Poison serta The Summoning.

Sedang asik-asiknya bersantai, Sigmun menghadirkan kejutan dengan materi yang sedikit lebih berat di trek yang berjudul The Gravestones. Selain permainan cepat dan lebih enerjik, di trek ini pun akan terdengar vokal yang berbeda dibanding trek lainnya. Seolah mendengar Lemmy Kilmister tapi bukan. Hehehe.

Di trek lainnya, seperti Prayer of Tempest, Inner Sanctum, dan Golden Tangerine, dengan durasi yang cukup panjang dari tiga trek tersebut, Sigmun semacam memberi celah untuk kita kembali bersantai sambil merenung akan sebuah kehidupan serta menelaah asupan-asupan religi. Entah kenapa, aura dari tiga trek ini terasa begitu dalam. Mungkin saya yang berlebihan.

Masuknya single lama mereka yang berjudul Aerial Chateau, pun membuat Crimson Eyes jadi lebih bergizi dan sejenak membuat saya jadi ingat kembali lagu-lagu Sigmun terdahulu. Dengan aransemen yang lebih mantap, Haizal Cs lebih bermain rapi tapi tetap nyoco. Meskipun begitu, saya tetap senang kedua versinya. Hasil eksperimental mereka selama kurang lebih 4 tahun memang berbuah manis, dengan materi apik yang disuguhkan, rasanya album Crimson Eyes merupakan kado indah di akhir tahun. Syukron

Jika warga kreatif butuh asupan nutrisi musik stoner rock yang nggak galak-galak amat, blues, serta psychedelic yang ringan dan mudah dicerna, maka Crimson Eyes dari Sigmun layak kalian pilih sebagai salah satu yang patut didengar. Atau baru pertama kali menikmati musik mereka? Bersyukurlah, kalian memilih permulaan yang tepat. Sebuah deg-degan yang tiada henti ketika menyusun tulisan ini, tapi it’s oke wae. Saya berasa kembali menemukan cinta pertama, karena deg-degan terus.

Tracklist :

1. In the Horizon

2. Vultures

3. Devil in Disguise

4. Halfglass Full of Poison

5. The Summoning

6. The Gravestones

7. Prayer of Tempest

8. Inner Sanctum

9. Golden Tangerine

10. Aerial Chateau

11. Ozymandias

Comments are closed.