Press "Enter" to skip to content

Album: Sarasvati – Ratimaya Sarasvati

Dulu waktu sekolah, kamu punya nggak temen yang dapet nilai ulangannya 98, terus pas diambil dari sang guru kertasnya nggak ditilep? Biar keliatan sama temen terus dibilang “wesss…”, itu nyebelin buat saya, da saya mah nilainya pas-pasan. Tapi, sebenernya lumrah sih kalau kita punya karya terus pengen diliat orang lain, lumrah banget, manusiawi banget. Begitupun dengan band-band yang baru saja mengeluarkan karya, semisal album.

Lumrah banget kalau bikin konser atau promosi albumnya secara besar-besaran. Termasuk band Sarasvati juga, nih, selang beberapa hari dari konsernya pada awal bulan Oktober, CD album keempat mereka langsung bisa didapatkan di salah satu toko merchandise kesayangan pemiliknya. Mantap bukan?

Album Ratimaya Sarasvati yang dirilis oleh label Demajors ini berisikan 10 trek lagu utama dan ada 10 trek audiobook yang bercerita tentang Ratimaya. Saya nggak nyangka bakal ada audiobook-nya lho. Saya terkejut. Dengan mengangkat tema “mimpi” sebagai tema utama dalam Ratimaya. Mereka mencoba melepaskan kesan mistis yang cukup melekat pada Sarasvati. Meski dengan tema yang berbeda, tapi kalau ngedenger Sarasvati, nuansa yang dihadirkan masih tetap terasa keeung.

Musik Sarasvati yang masih didominasi piano, string, kecapi, suling, dan nada-nada minor tetap jadi menu utama dalam album ini, beberapa lagunya cocok menjadi soundtrack pengantar tidur. Terbukti pada trek pembuka berjudul Centhini, dengan harmonisasi antara tunes piano, dentuman bass, dan pukulan drum yang pas, menjadikan trek pembuka ini sebagai lagu yang pas untuk mengantarkan kita menuju alam mimpi yang manis.
Tapi, nggak semua lagu bernuansa menyenangkan. Yang menyenangkan cuma nonton Tom & Jerry. Naon. Sesuai dengan keadaan mimpi Ratimaya yang memiliki dua sisi, ada beberapa lagu yang memiliki nuansa kelam dan penuh pengharapan seperti pada trek Takut, Apakah Mata Kami Buta, dan Karam.

Menariknya, selain lirik berbahasa Indonesia dan Inggris, pada trek berjudul Takut, ada bagian nembang pake bahasa Sunda yang menambah suasana makin ngeri-ngeri sedap. Selain itu ada Ananta Prahadi dan Oh Dear…, dua trek yang menghadirkan nuansa cinta-cintaan. Dua lagu yang pas menjadi soundtrack untuk warga kreatif yang mengalami ke-hampos-an saat mengejar pujaan hatinya. Kolaborasi yang dilakukan dengan Agung Burgerkill pada trek berjudul Rasuk dan dengan Anji Manji pada trek Moon and Stars, merupakan kolaborasi yang klop dan dengan porsi yang sangat pas. Sarasvati juga membawakan kembali lagu Unfolding Symphaty dari Homogenic dengan aransemen khas Sarasvati tentunya. Ena!

Pada sesi audiobook, diceritakan sosok seorang gadis bernama Ratimaya yang masuk ke alam bawah sadarnya, yang ia sangka akan lebih indah dibanding keadaan di dunia nyata. Do’i melakukan perjalanan dan mengalami permasalahan di dalamnya. Nah, ini yang bikin saya ngeri. Soalnya saya ngebayangin jadi si Ratimaya. Pertemuan antara Ratimaya dengan sosok-sosok di mimpinya dijelaskan dengan detail yang apik. Konflik yang terjadi pun terkesan ringan tanpa ada dramatisasi yang berlebihan. Pokoknya cukup sukses bikin saya ngebayangin yang iya-iya, karena kalau ngebayangin yang nggak-nggak mah nanti jadi mimpi yang lain. Iya, begitu. Audiobook ini ditutup dengan epilog yang bikin saya terenyuh dan ngangguk-ngangguk kayak pas dengerin dosen lagi ngasih kuliah. Warbyasak.

Secara keseluruhan, selain perbedaan pada konsep dan konten album, saya merasa album Ratimaya Sarasvati lah yang paling terasa utuh nuansa bandnya. Cakep pisan, beda tapi ena.

 

Tracklist:

1. Chentini

2. Takut

3. Moon and Stars

4. Apakah Mata Kami Buta

5. Ananta Prahadi

6. Oh Dear…

7. Unfolding Symphaty

8. Karam

9. Rasuk

10. Wizard Girl

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *