Press "Enter" to skip to content

Album: Sajama Cut – Hobgoblin

Sekolahan lagi pada libur dulu, jadi nggak bisa liat dedek-dedek pakai seragam lagi. Bingung mau ngapain teh. Mendekam di rumah jadi pilihan terbaik, karena siaran tv kabel yang bisa bikin lupa waktu. Tapi, bosen juga nonton terus, bikin minus mata makin nambah. Akhirnya, saya memilih untuk mendalami album terbaru dari Sajama Cut, Hobgoblin, yang baru saja rilis tanggal 10 Juni 2015 kemarin lewat Elevation Records.

Waktu tau Hobgoblin akan keluar, saya berharap album ini bakal ngasih experience yang berbeda atau mirip dikit dengan apa yang saya rasain ketika denger album The Osaka Journals pertama kali pas masih SMP. Ternyata, harapan saya terkabul. Suasana aneh langsung terasa di dalam kamar saya. Merinding buos.

Seperti sebuah pertunjukan, Hobgoblin dibuka dengan History of Witches. Kesan pertama yang didapat itu, seakan saya membuka mata dalam kebingungan di tempat shooting Winter Sonata tapi dengan cahaya matahari yang minim ala tone filter VSCOcam. Lanjut dengan Bloodsport di track ke-2 yang menjadi single pertama mereka. Saya bingung kenapa lagu se-complicated ini, bisa mereka mainkan dengan indah walaupun rasanya hanya seperti berputar-putar.

Track ke-3, The German Abstract. Single kedua yang memiliki semacam kekuatan magis untuk menyuruh kita gogoleran dengan resah sambil mengingat masa lalu yang harusnya lumrah menjadi nggak karuan. Anehnya, saya sangat suka. Meskipun begitu, saya ingin segera lanjut ke track selanjutnya dan berharap adanya momen istirahat. Untungnya, Curtains for Euro di track ke-4 menjawab keinginan saya, pada awalnya doang. Masuk ke bagian akhir dari lagu, emosi saya seakan diajak naik pesawat yang baru lepas landas 15 menit dan dimatikan mesinnya dengan sengaja.

Beheadings di urutan ke-5 menyelamatkan saya dari ketinggian tersebut. Interlude ini, jika dibayangkan, persis seperti lautan yang damai. Setelahnya, ada Dinner Companion di nomor 6. Sama seperti judulnya, lagu ini cocok didengarkan di malam hari tanggung, di depan layar tv yang sedang menayangkan sitkom sejenis Bajaj Bajuri. Sungguh nyaman.

Di track ke-7 ada Fatamorgana yang nggak menggambarkan oasis di tengah gurun pasir. Karena sekarang oasis udah dibotolin. Apa, sih. Ketimbang ngajak buat nunggu keajaiban, lagu ini membuat saya merasa harus bangkit setelah meratapi kegagalan. Move on maksudnya.

House of Pale Actresses, Recollecting Instances, dan Companion ada di track 8, 9 dan 10. Saya menggabungkan pembahasan ketiga lagu tersebut karena jika didengarkan secara berurutan, mereka berubah menjadi sebuah komposisi karya tulis. Pembuka, isi, dan penutup. Seperti itu.

Album ini ditutup dengan Rest Your Head on the Day di track 11. Lagu terakhir ini, seperti mengingatkan bahwa pertunjukan yang ditawarkan oleh Sajama Cut telah selesai dalam edisi ini sambil berkata, “Sampai jumpa di lain waktu”.

Sempat bingung saat mau milih untuk beli kaset atau CD. Karena, album ke-4 dari Sajama Cut ini, packaging-nya nggak bikin saya terlalu ngerasa spesial, padahal udah 5 tahun sejak album Manimal (2010) keluar. Tapi, artwork-nya sendiri punya kesan lain buat saya. Dengan pola lukisan abstrak dari seniman amrik, seperti nyuruh kita menerka-nerka apa maksudnya.  Jika dibandingkan dengan album sebelumnya, Hobgoblin terasa sangat jauh berbeda. Manimal dibuat kayak sebuah perayaan sedangkan album ini sengaja melupakan elemen senang di dalamnya.

Entah apa yang Sajama Cut ingin sampaikan sebenarnya lewat Hobgoblin, yang di atas itu cuma interpretasi saya aja biar terkesan keren. Jadinya rada berat. Hehe. Tapi, entah kenapa saya ngerasa kalau album ini cocok untuk diputar saat pemakaman. Ya, tau ah. Serem.

 

Tracklist:

1. History of Witches
2. Bloodsport
3. The German Abstract
4. Curtains for Euro
5. Beheadings
6. Dinner Companion
7. Fatamorgana
8. House of Pale Actresses
9. Recollecting Instances
10. Compassion
11. Rest Your Head on the Day

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *