Press "Enter" to skip to content

Album: Petaka – Sebuah Dedikasi

Indeks Prestasi Keren (IPK): 7.5/10

Beberapa bulan lalu, waktu Record Store Day 2016 di Omuniuum, saya sempet beli album yang bener-bener bikin betah dengerinnya. Nah, abis gitu jadi pingin sedikit ngulas album yang cukup saya bikin hanyut di dalam makna-makna lagunya. Ya, karena kita semua tau, album ini adalah warisan pertama dan paling terakhir yang dipersembahkan sang dummer, almarhum Rully Annash. Walau begitu, album ini bakalan jadi salah satu favorit saya sepanjang saya kenal musik cepat dan berdistorsi. Sebuah Dedikasi dari Petaka. Cepat, lugas, dan padat.

Album yang awalnya diberi judul Destroy 2015 ini emang sangat hangat dibicarakan dari awal munculnya. Maklum lah, di balik Petaka ini emang bisa dibilang bukan orang-orang baru yang bergelut di skena ini. Sebut aja Danang Unbound yang dulu jadi bagian dari Speedkill, yang hari ini dan seterusnya bakalan jadi icon dalam setiap panggung Petaka. Berisi 14 lagu penuh yang nggak ada satu pun lebih dari 2 menit. Oldschool abis, neh. Cover dengan font khas dan foto almarhum Rully Annash yang cukup jelas ditujukan apa maksudnya. Koleksi foto drummer The Brandals itu pun cukup banyak di bagian dalam album, bertuliskan “Album Ini Didedikasikan Untuk Rully Annash (1977-2015)”. Sedih siah, euy.

Tapi nggak baik yah berlarut dalam kesedihan teh. Soalnya sedih. Kumaha? Langsung ah! Dibuka dengan sebuah percakapan yang mendunia terkenalnya di film Suzanna, Dunia Dalam Gulita sukses bikin saya dibuat reuwas. Dentuman keras di sound gitar Yoga Pratama bener-bener kerasa kayak punk tahun 80-90an. Beat yang lumayan cepet di pertengahan lagunya pas banget jadi pembuka. Kegelapan Crew jadi nomor ke-2 di album ini. Lagu nggak ber-intro ini temponya lebih cepat dari lagu pertama, dan hanya 40 detik aja. Ceritanya tentang warna baru di skena musik ini yang lebih hitam dari sebelumnya, namun lebih fresh.

Track ke-3 ini sebelumnya udah mereka jadiin tanda kemunculan mereka di tahun 2015 lalu. Malapetaka, warnanya nggak terlalu jauh beda sama lagu sebelumnya, tapi yang ini lebih berwarna aja kali ya. Karena di pertengahan lagunya ada sedikit riff hardrock di sound gitarnya. Sebenernya, sih, semua juga favorit, tapi yang ini mah jadi track paling favorit di album ini. Sama kayak Malapetaka, track Bombardir juga jadi salah satu single perkenalan Petaka sebelum meluncurnya album ini. Di antara lagu lainnya, kayaknya track ini yang paling sedikit liriknya. Ngirit coy, meh jadi loba laguna.

Belum Tentu Benar mungkin lebih kalem dan warna sound nggak begitu gelap kayak track sebelumnya. Dari judulnya aja ketebak kali yah maksud lagunya apa. Tuh, makanya jangan suka ngomentarin orang lain! Naon deui. Nah, sampailah di lagu paling berarti di album ini. Sebuah Dedikasi lagu bermakna dalam buat setiap personil dan sahabat-sahabat yang  ingin mengenang segala kebaikan almarhum Rully Annash.

Korban, Terhipnotis, Otot Bermesin, dan Asap jadi lagu-lagu kelanjutannya yang nggak kalah meninju dengan cepat dan lugas. Distorsi keras, ditambah beat-beat yang sangat berenergi tanpa ampun, dan eksplorasi musik yang nggak abis-abis, contohnya kayak berkolaborasi sama rapper di salah satu lagunya. Kami percaya suatu saat nanti ufo akan turun ke bumi, kira-kira itulah yang tertera di bawah lirik lagu Invasi di track ke-11. Keun bae aneh ge, da artis.

Polemik, lagu yang mengandalkan noise feedback yang ber-sustain sangat panjang di intro lagunya, disusul dentuman drum dan bass yang terhitung berbarengan bikin lagu ini cocok jadi langkah-langkah penutupan album ini. Jatuh ke Dalam Lubang yang Sama mungkin jadi salah satu kritik berbau politis yang mereka siratkan di album ini. Track ini juga cocok buat jadi penutup album. Semacem penghabisan tenaga dari lagu-lagu yang bikin serak kalau nggak ngalegleg air putih.

Hardcore Akhir Pekan sebagai track terakhir, lebih kalem dan cerah dari lagu-lagu sebelumnya. Nyeritain tentang gigs akhir pekan yang selalu menyenangkan dan mudah buat didatengin. Saik banget jadi closing di album ini. Resep canggih yang dirancang Petaka buat penikmatnya emang nggak bisa lepas dari kata “Sangar!”.


Tracklist:

1. Dunia Dalam Gulita

2. Kegelapan Crew

3. Malapetaka

4. Bombardir

5. Belum Tentu Benar

6. Sebuah Dedikasi

7. Korban

8. Terhipnotis

9. Otot Bermesin

10. Asap

11. Invasi

12. Polemik

13. Jatuh Ke Dalam Lubang Yang Sama

14. Hardcore Akhir Pekan

Comments are closed.