Press "Enter" to skip to content

Album: Mustache and Beard – Manusiaku, Manusiamu, Manusia-Nya

Indeks Prestasi Keren (IPK): 8.5/10

Sekitar dua bulan lalu, manusia-manusia yang identik dengan kumis dan jenggotan, ngadain showcase bertajuk Manusia Pangkat Tiga yang sekaligus jadi momen buat ngerilis album fisik perdananya. Siapa mereka? Band yang dua tahun lalu kami waspadai, Mustache and Beard. Pada showcase lalu, Mustache and Beard berkolaborasi sama kang Wanggi Hoed, teh Danilla, mas Lukas, dan yang lainnya. Saya nggak dateng waktu itu. Biasa lah, urusan hidup dan mati seperti Genji.

Cuma saya nggak mau kelewatan cerita showcase itu. Setelah liat beberapa foto di Instagram, terus denger beberapa cerita dari temen yang disogok pakai teh botol biar cerita, dengan segala penyesalan karena nggak dateng, akhirnya saya beli album fisik yang dikasih tajuk Manusiaku, Manusiamu, Manusia-Nya yang dirilis sama V MGMT. Ada satu pertanyaan yang menggelitik nurani. Naha nya kapikiran nyieun ngaran album siga kieu?

Kalau nggak salah, ya, album ini tuh semacem nyeritain tentang si “aku” yang namanya Manusiaku, Manusiamu, Manusia-Nya. Kenapa saya bilang gitu? Karena ada bacaanya. Pertama buka ini, kan saya sambil berdiri, terus langsung terkejut gitu. Biasa, sih, sebenernya. Soalnya ada yang jatuh gitu dari dalem albumnya. Waktu saya ambil selembar karton itu terus diliat, ada tulisan “PANDUAN”. Nah, dari sini saya bisa tau semua isi album ini dan segala rupa fungsinya. Selembaran ini yang menuntun kita di kegelapan Guha Walanda.

Ternyata, eh ternyata, album ini teh unik pisan. Saya ngerasanya kayak deluxe box tapi album biasa. Iya soalnya semuanya serba nggak biasa. Dari mulai buka penutupnya yang harus nyobekin dulu hologram, terus dapet Poket Lirik yang bisa dijadiin buat notes juga, malahan langsung dikasih pensilnya coba. Nggak perlu riweuh lagi ke Gramedia, soalnya suka ngantri panjang. Panjang kayak… ngantri panjang. Album debut ini memberikan atmosfer yang sangat tebal kepada pendengarnya, karena penuh dengan kehangatan dan… Kalem- kalem, tong serius teuing bahasana. Teu pantes. Jadi, di album ini teh ada 8 lagu penuh dan 1 intro ngeunaheun yang beberapa lagunya udah pernah saya denger di radio-radio, di Soundcloud mereka, dan di panggung-panggung.

Track pertama diisi sama intro sebagai salam pacantel cingir yang dikasih judul Permulaan. Sumpah, intro-nya udah nagih pisan. Apalagi denger flute yang dimainin sedemikian rupa-rupa warnanya, hijau kuning kelabu. Track ke-2 berjudul Tanda Kutip. Dari track ini dan sedikit penelusuran di lagu-lagu lain, bisa disimpulkan bahwa hampir semua lagu yang pak Afif Abdulloh tulis rata-rata susah ditalar dan diartikan mun tara maca buku. Luhur teuing lirikna.

Track ke-3 juga lumayan sering dibawain saat mereka manggung. Bertajuk Rumput, punya beat country khas yang selalu jadi karakter yang kuat buat mereka, ditambah sedikit teriakan yang sering jadi teriakan bareng penonton kalau mereka bawain lagu ini. Kalau istilahnya mah, bari peureum ge apal ini teh mereka. Track selanjutnya, berjudul Senyum Membawa Pesan, dan yang ini kayaknya ketebak artinya kalau lagu ini agak cinta-cintaan. Sok tau. Bae.

Track ke-5, salah satu favorit saya juga setelah liat videonya di Youtube versi featuring Jinggaswara dan accoustic session di DU71a X Bhang Records. Salah satu yang ditunggu-tunggu juga versi albumnya karena belum sempet denger lagu ini waktu live. Bertajuk Melawan Senja, lagu paling syahdu dan paling melayu tempo dulu di album ini. Agak susah buat dideskripsiin, karena saking enaknya. Disusul track selanjutnya, Kabar Terakhir. Lumayan bingung, ini lagu Mustache and Beard atau soundtrack Naruto. Iya, soalnya mirip soundtrack Naruto yang baru mau ke Shippuden tea geuning, yang si Sasuke-nya baru kabur dari Konoha. Eh, naon, sih. Tapi yang ini juga enak, sedikit muncul eksplorasi dari karakter yang udah nempel sama mereka, dan berlirik agak-agak berbau spiritual gitu. Sok tau deui wae. Sorry, ya. Ya.

Track ke-7 yang judulnya Hujan Kemarau ini lumayan paling sering saya dengerin sebelum saya punya album ini. Soalnya lagu ini udah mereka unggah di Soundcloud mereka. Biasalah si kami mah geratesan anaknya. “Hujann, hujan, hujaaan,” petikan gitar yang ena’ dengan sentuhan halus flute yang syahdu bin ni’mat. Ucapkan subhanallah tiga puluh tiga kali.

Track ke-8, suara vokal jadul yang ditambah dan dipadukan suara-suara yang kebilang nakal dengan lafal “lalalalala”, dijudulkan Duta Tanam Seluruh Dunia. Enak. Album ini ditutup sama lagu yang lumayan beatup, dan lumayan kental sama nuansa pop. Berjudul Sang Penawar, lumayan beda sama lagu-lagu lainnya, genjrengan full gitar yang dipadu sama suara trumpet yang asik dan bikin suatu klimaks, cocok jadi penutup buat album ini.

Keseluruhan, album ini punya daya tarik yang pas takarannya. Kalau ibarat cuankie, cukanya nggak banyak teuing lah. Karena awalnya saya agak ragu dengan nggak masuknya Late Nite, Morning Life, dan Tambora di album ini. Ternyata.. Semuanya terjawab. Favoritlah pokoknya!

Tracklist:

1. Permulaan

2. Tanda Kutip

3. Rumput

4. Senyum Membawa Pesan

5. Melawan Senja

6. Kabar Terakhir

7. Hujan Kemarau

8. Duta Tanam Seluruh Dunia

9. Sang Penawar

Comments are closed.