Press "Enter" to skip to content

Album: Munthe – The Sun Has Sunset

Kalau saya bilang saya nungguin banget album Munthe yang akhirnya rilis dan dikasih judul The Sun Has Sunset ini, bisa dibilang saya bohong. Soalnya, saya lebih nungguin kamu dateng ke rumah saya. Terus dengerin bareng lagu ini, biar ngerasa dunia milik kita berdua aja. Tapi nggak apa-apa deh, albumnya dulu yang dipegang, kamunya nanti-nanti aja.

Oke, album yang dirilis di bawah naungan Fidelis Records ini  berisikan 10 trek plus 1 bonus trek. Enak. Trek pertama dibuka dengan intro, nggak perlu dijelasin lah intro itu berguna untuk apa. Hehe. Tapi, awan-awan ambient pop-nya udah keliatan banget di intro yang berintegrasi dengan trek ke-2, U.G.L.Y yang isi liriknya sebenernya cukup galau. Nih, ya, “I better fade away and easy through the pain…” tapi, malah dikasih suasana yang nggak gelap. Nggak kayak lagu-lagu galau yang lain. Jenius!

Di trek ke-3, ada Pure. Lagu ini sebenernya udah diperkenalkan ke khalayak ramai sebelum nongol di album ini. Tapi tetep aja masih punya kesan baru di kuping dan nggak akan bosen, saya jamin. Di trek selanjutnya ada Interlude, yang biasa berguna sebagai media istirahat. Ya, apalagi gunanya? Saya malah ngerasa diajak ke luar angkasa sambil menyaring bintang-bintang. Indahnya.

Reverie dipilih untuk memulai kembali perjalanan saya mendalami album ini di trek ke-5. Setelah diajak jalan-jalan tadi dan kembali ke bumi untuk melihat lagi terbenamnya matahari. Kalau denger suara cewek nyanyi di lagu ini, itu bukan suara gebetan ya. Itu ada Meity Fitriani yang diajak berkolaborasi sama Munthe di lagu ini.

Cold Night Rain Play di trek ke-6 jadi favorit saya. Karena suasana yang diberikan, memberi kenyamanan semi-mutlak terhadap batin saya. Dan seketika, di trek ke-7, The Sun Has Sunset. Munthe kembali memberikan suasana yang nggak wajar kepada kuping manusia biasa yang merasakannya. Entah sampai kapan saya akan berhenti memuji hasil karya Munthe. Kayaknya nggak bisa.

Trek ke-8, ada I Love Bali. Di dalam liriknya sendiri, Munthe bercerita tentang penatnya kota dan ingin berlibur ke Bali. Siapa, sih, yang nggak suka Bali? Musiknya sendiri juga ngasih kesan akan Bali tapi dengan gaya musiknya Munthe. Setelah berlibur ke Bali, saya diajak lagi untuk kembali ke kenyataan yang kayaknya pahit lewat Perfect Hard Love di track ke-9 ini. Nggak deng, nggak pahit. Cuma, ya, gitu, bikin ngarep.

Through The Sky di trek ke-10 , ngasih kesan kalau, pada akhirnya semua akan berakhir. Kayak kutipan liriknya “That is the end of live we had…” setelah diajak berimajinasi daritadi. Lagu ini dikomposisi dengan minimalis, hanya suara gitar akustik yang dominan tapi menyayat hati. Nggak kuat. Setelahnya, saya mendapati adanya bonus track yang sampai sekarang saya belom ketahui judul sebenarnya, lagunya bikin saya melambaikan tangan sendiri. Tenang, saya nggak gila, kok. Musik instrumental dari Munthe ini emang cocok banget buat dijadiin perpisahan dari album ini.

Eh, iya, nggak cuma Meity aja kok yang diajak kolaborasi sama Munthe dalam album ini, banyak musisi lainnya yang diajak. Penasaran? Buruan beli, lah, biar nggak penasaran dan kehabisan nantinya. Nggak akan nyesel. Sumpeh. Peace, love, and gaul! Dan itulah akhir dari perjalanan saya bersama album ini.

Tracklist :

1. Intro

2. U.G.L.Y. (U Gotta Be Yourself)

3. Pure

4. Interlude

5. Reverie

6. Cold Night Rain Play

7. The Sun Has Sunset

8. I Love Bali

9. Perfect Hard Love

10. Through The Sky

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *