Press "Enter" to skip to content

Album: Maliq & D’essentials – Musik Pop

Saya sangat mudah untuk pesimis terhadap apapun. Mencibir dan nyinyir selalu dirasa lebih ringan dilakukan dibanding untuk memuji dan menyanjung. Oh iya, untuk men-generalisir sesuatu pun saya selalu merasa gampang. “Ah, si itu mah bego main bolanya.”, “Ck, ngapain sih beli baju kaya gitu? Alay.”, “Band lo bawain musik apa? Oh.. Musik pop.. Dagang sih ye.”

Lalu ketika Maliq & D’essentials (selanjutnya akan saya tulis ‘Maliq‘ saja) mengumumkan perilisan album terbaru mereka dengan tajuk Musik Pop, saya mulai bingung. Mau ngeledek tapi ini objeknya Maliq. Grup musik Indonesia terkeren saat ini. Baik dari segi kualitas musik, penampilan live, produktivitas berkarya, loyalitas basis fans nya yang massive, ah semuanya lah. Tapi Maliq dengan iseng dan gamblang memilih frasa Musik Pop, sesuatu yang sudah saya anggap sekarat dan belakangan ini terdengar selalu butut untuk saya. Balik lagi, saya memang gampang nyinyir.

Musik Pop yang dimaksud oleh Maliq, beruntungnya, adalah musik pop Indonesia semestinya. Kembali ke era 70-80’an ketika gank pegangsaan dan anak-anak muda tajir asal Menteng, Jakarta seperti Keenan Nasution, Yockie Suryoprayogo, Guruh Soekarno Putra, hingga Almarhum Chrisye menguasai tatanan tangga lagu radio-radio berpangsa pasar anak muda. Pop Indonesia yang mereka usung. Bukan pop rumpun lainnya. Pop Indonesia.

8 lagu yang termasuk didalam album ini membawa kita mencium lagi secuil aroma musik pop Indonesia dimasa emas. Ketika lagu dengan progresi se-sulit Burung Camar dengan asyik dinyanyikan oleh seluruh rakyat. Ketika lagu dengan lirik bernas seperti Camelia mudah dibawakan oleh mahasiswa-mahasiswa nongkrong sembari bergitar yang merasa bosan melulu menyanyikan nomor milik Iwan Fals. Maliq membuat saya terbuai. Disiram hingga segar terjaga.

Lagu Pintu dirasa berperan sebagai Intro. Pembuka. Mukadimah. Disambung dengan Semesta, sebuah lagu yang digubah oleh gitaris Arya Aditya, biasa dikenal dengan nama Lale. Sebuah kondisi yang cukup menarik perhatian mengingat biasanya Widi Puradiredja (drummer) lah otak besar dari hampir seluruh lagu karya Maliq. Lagu ini menjadi lagu favorit saya. Chrisye-ish sekali namun tetap beraroma centil ala Maliq. Di beberapa lagu selanjutnya nama Lale pun termasuk kedalam nama pencipta, berbarengan dengan Widi.

Lagu ke-3 yang juga merupakan single perdana album ini, Ananda, adalah lagu selebrasi menyambut kedatangan sosok manusia baru dari sudut pandang orang tua. Lagu untuk anak. “Selamat datang sayang..” Menampilkan virtuoso jazz kenamaan Indra Lesmana yang memainkan synthesizers dan vocoder.

Imajinasi, dan Ombak Utara di lagu ke-4 dan 5 juga tidak bisa dilewatkan. Lagu romantis merajuk khas Maliq. Merayu dengan elegan. Kasih dengar lagu ini ke kekasihmu, minimal do’i senyum simpul. Lagu berikutnya, Taman, yang bernuansa baroque sukses membuat saya menggoyangkan bahu tanpa sengaja hingga lagu selesai.

Himalaya di track ke-7 adalah lagu killer. Diprediksi bisa menjadi lagu andalan mereka di penampilan live berikutnya. Sebuah piano-song yang aduhai. Reffrain “untuk itu kan.. kupersembahkan.. Himalaya..” akan dengan mudah dinyanyikan bersama-sama dengan suara cempreng dede-dede gemes yang wangi sembari dipeluk sang kekasih dari belakang. Ditutup oleh lagu Nirwana yang terkesan spooky dan misterius. Bagus untuk membuat saya tetap penasaran tentang apa lagi yang akan dilakukan oleh Maliq di karya berikutnya.

Line-up dalam credits album ini masih sama persis dengan album mereka sebelumnya, Sriwedari. Ada nama Geoff Pesche sebagai petugas mastering. Abbey Road Studios UK tetap menjadi pilihan. Sempat terpikir di benak saya apakah pengerjaan Sriwedari, dan Musik Pop dikerjakan bersamaan. Hanya mereka yang tahu.

Bagi saya yang tukang ngeledek, nyinyir, dan pesimistis, album ini adalah bentuk penghela nafas. Masih ada kemungkinan untuk membuat standar musik populer Indonesia kembali emas seperti satu-dua dekade lalu. Yang jelas bagi saya ini adalah album terbaik milik Maliq. Mungkin tidak akan se laku atau se populer album pertama mereka atau album Free Your Mind. Fix, menurut pribadi saya yang entahlah siapa, Musik Pop adalah yang terbaik.

 

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *