Press "Enter" to skip to content

Album: Foo Fighters – Sonic Highways

“Hehehehehehehehehehe.”

Bunyi itu muncul begitu saja dari mulut setelah earphone saya sengaja lepaskan dari dua telinga tepat sesudah mendengarkan rilisan terbaru dari Foo Fighters, Sonic Highways. Bentuk pulasan rona merah bahagia pada pipi pun perlahan menyala. Lalu dilanjutkan dengan keluarnya kata, “Anjiiiiiiiii****ggg.”

Batasan gagasan nampaknya menjadi hal yang sama sekali nggak bisa ditemukan pada tubuh Dave Grohl. Di tengah luntang-lantungnya nasib Nirvana setelah ditinggal almarhum Cobain, Dave bikin band, bandnya meledak di pasaran. Tur keliling dunia, sempat mampir jadi drummer dari Queens of The Stone Age, bikin Probot sama Lemmy (Motorhead), rilis 7 album yang semua kualitasnya di atas rata-rata, bikin konser tunggal sold-out di Wembley, Inggris. Belum beres sampai situ. Bikin album di garasi rumahnya dengan teknik rekaman analog, bikin film dokumenter tentang studio bersejarah Sound City sekaligus membeli hak kepemilikan studio tersebut, terus mau ngapain lagi, Om!?

Lahirlah Sonic Highways. Sebuah album yang dikemas sekaligus dengan film serial dokumenter dan ditayangkan di HBO. Delapan kota, delapan studio rekaman, delapan kolaborator, dan ratusan objek wawancara diformulasikan oleh Foo Fighters menjadi delapan karya lagu yang bernas. Gila. Modalnya berapa, ya?

Delapan lagu tadi dimulai dari lagu berjudul From Nothing to Something. Lagu yang melibatkan kota Chicago sebagai sumber inspirasi. Aransemen dan nuansa lagu ini masih menyisakan gaya permainan gitar yang kerap Dave lakukan pada lagu Skin & Bones, dan I Should’ve Known. Petikan syahdu disambung susulan instrumen lain yang tiba-tiba seperti bikin badai lokal dadakan di telinga. Jenis lagu epik begini memang sering jadi senjata ampuh band ini. Jangan terlewat selorohan “Fuck it all! I came from nothing!!” menjelang akhir lagu yang akan membuat kita yakin bahwa mereka masih jauh dari tua. Sayang kontribusi gitar fuzzy dari Rick Nielsen (Cheap Trick) dirasa kurang terasa.

Lagu kedua, Feast and The Famine, direkam dan dibuat di Washington D.C., kota asal Dave Grohl sendiri. Justru lagu ini yang menjadi garis tebal perhatian bagi saya. Cepat, intens, liar, gila. Mengingatkan saya kepada album One By One yang dirilis hampir 10 tahun lalu. Lagu yang menceritakan keresahan komunitas masyarakat muda D.C. dan membuat pergerakan melalui musik punk yang menelurkan band-band seperti Fugazi, Minor Threat, dan label rekaman Dischord Records. Pantesan Foos mainnya geber di lagu ini.

Dilanjut lagu Congregation yang agak nge-ballad dan nge-country. Wajar karena mereka sedang ada di Tennesee ketika lagu ini dibuat. Kota yang menjadi rahim dari musisi-musisi dan lagu country terbaik di dunia. Pasang telinga baik-baik di bagian solo gitar Zac Brown (Zac Brown Band) di bagian akhir lagu. Sadis.

What Did I Do?/God As My Witness direkam di studio 6A University of Texas. Studio di kota Austin yang merupakan studio program TV yang menampilkan sajian musik secara live dan telah bertahan selama hampir 40 tahun, Austin City Limits. Lagu ini rasanya membawa saya ke era Foo Fighters di era 90-an. Ngangenin.

Berikutnya, lagu Outside, Foos main cepat lagi. Saya suka banget sama bassline-nya Nate Mendel yang ke-emo-emoan di lagu ini. Di track 6 muncul  lagu In The Clear yang sangat antemik. Jenis lagu yang jika dimainkan di depan khalayak D’terong Show sekalipun akan membuat semua ikut bernyanyi. Kecuali jika Saiful Jamil ikut naik ke atas panggung dan merusak semuanya.

Subterranean di track 7 menajamkan lagi naluri penciptaan lagu balada semi-akustik yang sukses mereka lakukan di album Skin and Bones. Manis namun tetap misterius. Saya mengibaratkannya seperti musik rock yang kebapakan. Eh kalo kamu denger suara laki-laki yang mengisi vokal latar di lagu ini terus merasa familiar, tos dulu bentar, saya juga ngerasa kenal dengan suara itu. Hey ternyata dia adalah Ben Gibbard (Death Cab For Cutie). Keren!

Ditutup dengan I Am River yang seakan-akan menjadi lagu terakhir, paling terakhir, yang pernah mereka ciptakan. Karena nuansa pasrah yang ditawarkan lagu ini membuat saya jadi khawatir sendiri. Jangan-jangan ini jadi album terakhir mereka. Atau minimal mereka akan vakum selama beberapa tahun kedepan setelah tur promo album ini selesai. Aduh semoga jangan.

Album Sonic Highways ini rasanya seperti album “The Best of Foo Fighters” namun isinya adalah lagu-lagu baru. Materi di tiap lagunya belang-belang seperti sedang naik mesin waktu dan melompat ke seluruh album mereka sebelumnya. Sekalipun masing-masing lagu punya hubungan erat dengan kota dimana mereka merekamnya. Saya sangat menyarankan kalian menonton serial Sonic Highways-nya baru dengerin album ini. Mau? Yuk atuh ketemuan, bawa flashdisk jangan lupa.

 

Tracklist:

1. From Nothing to Something

2. Feast and The Famine

3. Congregation

4. What Did I Do?/God As My Witness

5. Outside

6. In The Clear

7. Subterranean

8. I Am The River

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *