Press "Enter" to skip to content

Album: Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti

Indeks Prestasi Keren (IPK): 8/10

Asyik, ada yang akhirnya setelah kemaren menunggu cukup lama. Banda Neira ngerilis album penuh teranyar mereka Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti. Yang digoyang-digoyang yang~ Teu lucu. Album ini berisi cukup banyak lagu dengan durasi yang berkisar antara empat sampai tujuh menit. Sebagaimana lagu Banda Neira yang lalu-lalu, di album ini juga rasanya akan masih sama; akustikan dan lirik dalam khas Ananda Badudu dan Rara Sekar.

Lagu pertama di album ini berjudul Matahari Pagi. Persis seperti judulnya, pendengar dikasih morning acoustic. Kata aku mah ini kayak lagu yang bikin mood kita pagi-pagi jadi oke. Entah kenapa, di lagu berikutnya, Sebagai Kawan serasa menjadi lanjutan dari lagu sebelumnya. Meskipun secara lirik berbeda jauh, namun ada kesinambungan antara dua lagu ini. Diiringi lantunan biola Jeremia Kimosabe, lagu kedua ini terasa sangat intim dan pas banget buat road trip bareng temen deket. Bagian terfavorit aku ada di “berdirilah disampingku sebagai kawan”.

Pangeran Kecil menjadi judul track ketiga di album ini. Pas denger pertama kali berasa masuk di negeri dongeng gitu terlebih vokal Rara yang dominan jadi berasa di nina bobo-in sama mama Rara. Ehehe. Liriknya sangat keibuan ditambah suara vokal yang mendayu-dayu, sukses bikin kangen ibu. Huhuhu… Lagu-lagu berikutnya menurutku cukup membosankan, karena durasinya yang panjang dengan nada yang repetitif. Kayaknya lebih enak untuk dijadiin backsound ngerjain skripsi. HEHE.

Pelukis Langit merupakan salah satu “lagu panjang” itu, tapi bukan berarti punya lirik yang dangkal. Lagu ini sangat penuh dengan metafora dan makin syahdu karena banyak instrumen pengiring. Biru dan Bunga juga punya durasi yang cukup panjang, dengan lirik dan nada yang repetitif. Jadinya membosankan.

Tapi Banda Neira juga menambahkan elemen-elemen musik baru di album ini. Di lagu Sampai Jadi Debu, mereka menyuguhkan piano klasik sebagai instrumen utama. Sejauh ini, lagu Sampai Jadi Debu merupakan lagu paling romantis (menurut aku, yah…) dari Banda Neira. Liriknya bikin pengen ta’aruf. Subhanallah. Slow dance pake lagu ini kayaknya enak gitu. Selain itu di lagu Mewangi memiliki opening yang cukup menarik, ada Rara yang nyanyi ala-ala opera gitu.

Di lagu Langit dan Laut kita kayak dibawa ekskursi sama Banda Neira. Backsound pantai bikin pengen santai, eh naon atuh. Di lagu ini aku pikir cukup beda dari lagu-lagu lainnya karena banyaknya alat musik dan nada-nada “nyeleneh”. Jadinya kayak musik eksperimental gitu lah. Pas buat yang pengen ngegalau di pantai. Eits edan. Lagu setelahnya mungkin jadi balasan untuk lagu yg ini. Berjudul Re: Langit dan Laut bikin kita merasa terombang-ambing di lautan lepas. Kade kelelep. Banda Neira tetep bikin lagu “balada” kok. Kayak Tini dan Yanti yang ditebak-tebak, sih, cerita tentang tenaga kerja wanita. Nggak lupa juga musikalisasi puisi juga ada di album ini. Kali ini Banda Neira membawakan puisi berjudul Derai-derai Cemara karya Chairil Anwar.

Dari semua lagu di album ini, aku mah paling suka sama Utarakan. Bercerita tentang break free dan nggak loba omong. “Walau tak semua tanya datang beserta jawaban dan tak semua harapan terpenuhi. Ketika bicara juga sesulit diam, utarakan, utarakan, utarakan”. Jlebbb!! Seperti itu.

Untuk penutup album, Banda Neira menyuguhkan lagu Benderang dan Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Suasananya kayak kalau habis hujan gitu, mellow dengan iringan piano dan biola. Penutup sempurna untuk album kedua ini. Berasa soundtrack hidup selama satu hari. Tiap lagunya punya pensuasanaan yang sama; morning acoustic dan mellow tapi punya karakter yang menarik di tiap lagunya.

Seperti ironi, judul album mereka kayak menandakan perpisahan sejenak antara Banda Neira dengan para pendengarnya. Lirik repetitif tapi “mengajak” pendengar untuk selow dan tetap semangat dengan lirik-lirik khas Rara Sekar dan Ananda Badudu yang puitis namun mudah di cerna. Eh, tapi ini aku yang bosenan atau durasi lagu di album ini emang lama-lama, ya? Ditambah lirik dan nada yang itu-itu aja lagi. Tapi secara kualitas, Banda Neira nggak pernah mengecewakan.

Tracklist:

1. Matahari Pagi
2. Sebagai Kawan (Menampilkan Jeremia Kimosabe)
3. Pangeran Kecil
4. Pelukis Langit
5. Utarakan
6. Biru (Menampilkan Layur)
7. Bunga
8. Sampai Jadi Debu (Menampilkan Gardika Gigih)
9. Langit dan Laut
10. Re: Langit dan Laut
11. Mewangi
12. Derai Derai Cemara (1949) Musikalisasi Puisi Chairil Anwar
13. Tini dan Yanti
14. Benderang
15. Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *