Press "Enter" to skip to content

5 Film tentang Musik yang Asyik

Dalam rangka Hari Musik yang udah kelewat, tim movie review ROI! Punya artikel khusus, nih, buat kawan-kawan semua! Kami memilih 5 film tentang musik yang menurut kami adalah yang paling asyik. Film-filmnya sendiri bukanlah film musikal, tetapi film tentang musik dan segala turunan-turunannya! Seperti mimpi, industri, bahkan dokumentasi. Kami pilih 5 film ini berdasarkan tingkat kekerenan film dan dalamnya pesan yang disampaikan oleh film ini, penasaran kan? Ah kayaknya mah nggak, sih. Ya udahlah, mari dicek, silakan!


1. Through the Never (2013)

The Rhythm: Trip (Dane De Haan) adalah seorang roadie untuk Metallica. Pada awalnya, ia datang untuk menghantarkan sesuatu kepada manajernya. Di venue konser Metallica itu, ia berpapasan dengan 4 anggota Metallica, James Hetfield di tempat parkir dengan mobil apinya, Kirk Hammett, yang mempersilakan ia untuk masuk, Robert Trujillo yang sedang berlatih bermain bass, dan Lars Ulrich yang bertabrakan dengannya di lorong venue. Kejadian demi kejadian aneh terjadi ketika Trip diminta untuk mengantarkan “barang penting” oleh atasannya. Perjalanan Trip menemui banyak bahaya, namun ia ditemani dengan lagu-lagu dari konser Metallica tersebut.

The Beat: Sebuah film surealis dengan lagu-lagu dari Metallica sebagai acuannya. Petualangan aneh, Trip ditemani dengan lagu-lagu Metallica yang secara surrealistik menggambarkan kegetiran yang dihadapi oleh Trip. Film musik dengan konsep yang sangat unik, yang berhasil menerjemahkan lagu-lagu dari Metallica menjadi sebuah petualangan mistis yang mencengangkan.

 

2. Whiplash (2014)

The Rhythm: Andrew Newman (Miles Teller) adalah maba (mahasiswa bau, eh baru) di sekolah musik ternama Shaffer Conservatory of Music. Andrew bercita-cita menjadi drummer jazz handal kelas dunia berbekal bakat musik yang dia pelajari secara otodidak. Dengan bakat dan skill yang dia miliki, Andrew bertemu dengan Terence Fletcher (J.K. Simmons) yang akan menempa Andrew menjadi drummer jazz nomer wahid.

The Beat: Untuk meraih sebuah pencapaian yang maksimal, fokus determinasi, kegigihan semangat juang sangat diperlukan. Apalagi hal yang akan dicapai adalah bidang yang kita cintai. Film ini akan menyajikan bagaimana Fletcher mengajari Andrew betapa pentingnya hal tersebut. Adegan yang begitu intense sepanjang film akan dipaparkan oleh Fletcher dan Andrew bagaimana sebuah musik bisa menjadi inspirasi seorang anak muda untuk tidak cepat berpuas diri dan tetap bertarung demi mimpinya.

 

3. August Rush (2007)

The Ryhtm: Film ini menceritakan seorang anak bernama August (Freddie Highmore) mencari kedua orangtuanya yang meninggalkannya sejak lahir. Dalam perjalanannya, August menunjukan bakat spesial pada bidang musik. Di umurnya yang masih anak-anak, August bisa memainkan berbagai alat musik tanpa ada seorang pun yang mengajarinya. Bakat yang begitu luar biasa itu ternyata dia warisi dari Lyla (Keri Russell) dan Louis (Jonathan Rhys Meyers), orang tua yang selama ini juga mencari August.

The Beat: Musik adalah banyak hal, dan di film ini kita melihat bagaimana musik menyatukan sebuah keluarga yang lama terpisah. Lyle dipisahkan dengan Louis ketika sedang mengandung August. Semua keputusasaan yang mereka rasakan tidak lantas membuat mereka berhenti mencintai musik. Justru musik lah yang menjadi satu-satunya pegangan yang mereka miliki. Dan ketika musik kembali mempersatukan kembali, mereka yakin bahwa musik adalah sebuah harapan.

 

4. Detroit Metal City (2008)

The Rhythm: Souichi Negishi aka Johannes Krauser II (Ken’ichi Matsuyama) seorang anak desa culun yang bermimpi menjadi musisi pop nan trendi. Ia pergi meninggalkan desanya untuk mengejar mimpi ke Tokyo. Namun, impian tidaklah semudah kenyataan. Di Tokyo, ia malah dipaksa (dipukuli, dilecehkan secara seksual, disundut rokok, dan lain-lain) menjadi frontman dari band satanic metal bernama Detroit Metal City. Dengan bakat gitar dan penciptaan lagu yang luar biasa, Negishi/Krauser berhasil merajai scene musik underground Jepang. Ia bahkan sampai ditantang oleh Jack Il Dark (Gene Simmons), dedengkot musik metal dunia untuk merajai scene music metal dunia.

The Beat: Sebuah satir tentang industri musik di dunia. Di mana banyak sekali talenta musik yang dipaksa bermusik untuk mengikuti selera pasar. Apa yang dialami oleh Negishi pasti pernah dialami banyak musisi kondang dunia. Film ini dikemas dengan sangat kocak, dan soundtrack yang luar biasa enakeun. Ditambah kehadiran Gene Simmons, pembetot bas dari band KISS sebagai musuh terakhir Negishi yang menambahkan corak unik untuk film ini. Musik memang sulit untuk dipaksakan, namun seringkali selera orang lain lah yang memaksa kita untuk mengikuti arus mereka.

 

5. Global Metal (2007)

The Rhythm: Dokumenter spektakuler tentang scene musik metal di berbagai penjuru dunia. Sam Dunn, seorang antropolog (jangan bayangkan sosok antropolog dengan topi ala pemburu di Afrika, baju safari, dan celana pendek, ketinggalan jaman banget itu mah) berkeliling ke Brazil, Jepang, India, Cina, Indonesia, Israel, dan Uni Emirat Arab. Dalam perjalanannya, ia menemui kekhasan scene musik metal di masing-masing negara. Ini sekaligus menjelaskan teori globalisasi dan glokalisasi di mana orang-orang dari masing-masing negara mengambil hal yang sudah mengglobal dan memberikannya ciri khas kelokalan mereka. Yang bikin seru lagi, film ini juga melibatkan sosok-sosok metal dunia kelas wahid seperti Lars Ulrich (Metallica), Max Cavalera (Sepultura, Soulfly), Tom Araya dan Kerry King (Slayer), Bruce Dickinson (Iron Maiden), dan lain-lain. Masing-masing dari mereka bercerita tentang pengalaman yang mereka alami di negara-negara yang pernah mereka kunjungi ketika konser.

The Beat: Musik tidak bisa lepas dari fenomena globalisasi. Ini menggambarkan bagaimana musik adalah suatu hal yang dapat diterima secara universal. Universal di sini, musik heavy metal yang lahir di negara liberal (Amerika Serikat) ternyata bisa juga berkembang di negara-negara yang menganut paham lain seperti komunis di Cina. Musik adalah bahasa universal yang tidak dapat dikotak-kotakan. Mungkin di tiap negara agaknya memiliki ciri yang berbeda. Namun, begitu juga dengan bahasa bukan ? Ada dialek yang menjadi penciri masing-masing daerah.

__________________________

Foto: www.ign.com

Comments are closed.