Press "Enter" to skip to content

5 Alasan Kenapa Film Adaptasi Manga/Anime itu Payah!

Rabu (19/11)  kemarin, Saint Seiya: Legend of Sanctuary rilis di salah satu bioskop Indonesia. Sebagey moviegoers yang besar dengan film-film anime Jepang, rasanya saya harus menonton film itu di hari pertama penayangannya. Saya masih ingat beberapa waktu lalu saat live action Rurouni Kenshin dirilis, antusiasme para fans begitu besar. Saya pikir itu akan terjadi lagi saat Saint Seiya dirilis, tapi ternyata nggak.

Mungkin hari itu Bandung lagi sering hujan jadi orang-orang males pergi ke bioskop, mungkin juga hari kerja, mungkin banyak yang belum tahu film ini dirilis hari ini, atau mungkin karena bertepatan dengan rilisnya The Hunger Games: Mocking Jay, mungkin. Tapi ya sudahlah, toh saya juga jadi bisa fokus menonton karena studionya sepi.

Lima belas menit pertama film sungguh mengembalikan masa kecil saya. Suguhan action 3D animation jepang nggak usah diragukan lagi kualitasnya. Semua orang yang ada di studio pun sependapat dengan kekaguman saya. Tapi dari situ masalah dimulai, mereka mulai bicara pelan dengan teman sejawatnya. Awalnya,sih, celetukan kagum tapi lama-lama berubah menjadi obrolan yang membandingkan film dengan cerita aslinya. Kelakuan kampring mengobrol saat film berlangsung memang menyebalkan (jangan ditiru ya gaes), tapi ada hal lain yang dari obrolan itu yang saya juga setuju. Adalah kualitas film Jepang yang berasal dari adaptasi manga/anime baik itu film anime, 3D animation atau live action itu yang menjadi perhatian.

Bukannya saya ingin mendeskreditkan film-film Jepang, bukan. Banyak, kok, film Jepang non adaptasi yang ceritanya bagus. Sebutlah Seven Samurai yang mengilhami George Lucas membuat Light Saber sebagai ‘senjata orang beradab’ pada mahakaryanya Star Wars. Atau tokusatsu (film produksi Jepang dengan efek spesial,RED) seperti Godzilla dan seri super robot yang membuat Guillermo del Toro begitu berambisi membuat Pacific Rims. Jangan juga lupakan film-film horor Jepang yang punya kualitas jempolan.

Lalu ada apa dengan film adaptasi manga dan anime? Jawabannya adalah, payah. Iya ini kenyataan pahit tapi saya berani bilang film-film adaptasi tersebut payah. Film-film itu seolah digarap dengan seadanya. Sering kali cerita yang sudah ada dikemas berbeda dengan harapan hasil yang lebih baik tapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Pemeran-pemeran karakter film yang nggak cocok sehingga terasa dipaksakan.

Sinematografi dan efek visualnya pun tak jarang payah. Saya masih ingat saat saya SMP sekitar tahun 2004-an (muda~) saya menonton film live action pertama saya, Devil Man. Nggak lama, film-film live action lainnya mulai muncul, Detective Conan, Prince of Tennis, Death Note, jeung sajabana lah. Awalnya sih excited, nonton cerita anime versi manusia asli dengan kualitas acting aktor dan aktris Jepang yang super awkward (yang suka jejepangan pasti tau). Tapi lama-lama film-film adaptasi yang makin banyak bermunculan belakangan ini terasa sekali payahnya.

Agak miris yah mengingat budaya Jepang yang begitu kaya dengan visual story telling. Rasanya mereka mampu untuk membuat sebuah film sekelas film-film Hollywood. Nggak sebanding dengan invasi global Jepang lewat manga dan animenya. Terus apa donk yang sebenernya terjadi? Padahal pasar untuk segmen film itu sudah ada dan cukup besar. Kenapa mereka nggak mau garap industri film khususnya segmen film adaptasi ini dengan benar. Di artikel ini saya coba buat beberapa asumsi logis kenapa film-film payah ini gak ada kemajuan. Saa hajime masho!

1. Cliffhanger

Bentar lagi rilis, nih. Keren atau payah?
Bentar lagi rilis, nih. Keren atau payah?

Istilah ini punya arti yang sama dengan analoginya. Cliffhanger adalah teknik story telling di mana cerita dipenggal di saat yang tanggung agar penikmat cerita mau nggak mau harus menunggu cerita selanjutnya. Film-film adaptasi yang dibuat sekedar sebuah cliffhanger bagi para fansnya.

Kita tahu bahwa sebuah cerita komik bisa berlangsung sampai 10-50 tahun sampai ceritanya berakhir. Naruto contohnya, cerita ini berlangsung selama 15 tahun. Itu belum ada apa-apanya kalau kita bandingkan dengan Doraemon yang ceritanya berakhir setelah 30 tahun manga pertamanya keluar. Oke, kembali ke Naruto yang manganya baru saja berakhir bulan ini. Kalau kita hitung, Naruto punya 9 film spin off yang nggak ada hubungannya dengan story line aslinya (CMIIW). Lalu kenapa sampai ada 9 film spin off sendiri? Cliffhanger! Mereka harus menjaga mood para fans untuk tetap loyal menunggu konklusi cerita ini berakhir. Atas alasan yang sama mungkin film-film adaptasi lainnya digarap. Karena hanya sebagai formalitas, cerita yang digarap rasanya cheesy dan cenderung payah.

2. Elvis just left the building

Spirited Away (2001), anime pertama yang menang Oscar
Spirited Away (2001), anime pertama yang menang Oscar.

Hayao Miyazaki, founder studio Ghibli sudah memperkirakan bahwa masa depan studio yang memproduksi My Neighbor Totoro dan film animasi pemenang Oscar, Spirited Away ini akan segera berakhir. Idealisme Miyazaki yang menjaga kualitas film animasinya memang harus dibayar sangat mahal secara production cost. Miyazaki harus berjuang bersaing melawan kemajuan zaman teknologi 3D animasi yang sama sekali bukan pakem studio tersebut.

Pun begitu yang dirasakan oleh Shotaro Ishinomori, bapak dari Kamen Rider, Super Sentai dan cerita tokusatsu lainnya ini sudah kehilangan daya ‘magis’. Seri-seri Kamen Rider yang dulu digarap begitu serius dengan cerita yang berat sekarang berubah menjadi cerita absurd anak-anak dengan warna-warni gimmick-nya. Ya mungkin karena target pasarnya bergeser dari remaja dewasa menjadi anak-anak. Tapi saya rasa itu tidak bisa menjadi alasan menurunkan kualitas sebuah film adaptasi. Coba lihat sekarang, setiap tahun selalu ada film spin off dari seri Kamen Rider. Film ini sekedar formalitas ‘serah terima jabatan’ dari seri yang sudah habis masa tayangnya ke seri yang baru akan mulai tayang. Well, ditengah gerusan industri film yang begitu kencang, bagaimanapun juga dapur harus ngebul kali ya.

3. Keep the 90’s kid in the neighborhood

Kalau kamu tau film ini, berarti kamu muda~
Kalau kamu tau film ini, berarti kamu muda~

Nggak tau yah, ini arogansi sih, sebagai anak 90-an saya merasa yang paling ‘memiliki’ film-film adaptasi ini. Bukannya sombong tapi liat aja cerita-cerita yang diangkat jadi film adaptasi kebanyakan cerita dari 90-an loh. Let’s say  Casshern, Gatchman, Rurouni Kenshin, Seint Seiya, Lupin the 3rd. Ya belum aja kali ya cerita-cerita yang baru dijadiin film adaptasi tapi so far cerita-cerita 90-an, lah, yang seksi dibuat film adaptasi.

Bukan tanpa alasan, asumsinya anak-anak 90-an sekarang sudah masuk usia produktifnya. Jadi untuk sebuah target pasar, umur-umur produktif adalah lahan yang basah. Mereka akan dengan mudah mengeluarkan uang untuk sekedar bernostalgia menyalurkan hobinya karena kebanyakan belum mempunyai tanggungan yang berat seperti keluarga.

Selain itu, di umur produktif, kita akan dengan mudah menjadi ‘agent marketing’ yang tanpa sadar menyebarkan paham yang sama akan kegemarannya menonton film-film jepang kepada teman seumur, adik, junior atau bahkan anak-anak mereka. Tapiiii.. semua itu effort-nya harus besar banget coy. Bayangin aja, cerita-cerita epik yang sudah ada harus di bungkus ulang ke dalam film dengan durasi 2 jam yang harus memberikan sebuah kebaruan tanpa merusak kenangan indah yang sudah ada. Wanjiiiir beurat….

4. They are not selling a movie, they are selling a franchise

film untuk bisnis mainan?
Film untuk bisnis mainan?

Nah ini sih, industri film teh nggak cuma sekedar bikin film. Mereka nggak akan survive kalau cuma mengandalkan pemasukan dari keuntungan film. Di Jepang ceritanya beda lagi bro! Di negeri serba visual ini mereka sudah paham betul bagaimana membuat sebuah cerita menjadi komoditas franchise. Kenapa setiap tahun selalu ada seri Kamen Rider baru? Jualan mainan! Kalau kalian kenal anime Tiger and Bunny, kalian juga akan ngerti konsep sponsorship yang baru dalam sebuah cerita. Brand-brand secara terang-terangan menempelkan logonya pada superhero-superhero di cerita Tiger and Bunny.

Nah sayangnya, mainan-mainan keren yang dijual ini gak berbanding lurus dengan penggarapan filmnya. Emang ada apa sih dengan industrinya? Nggak punya duit? Kan, sponsor banyak, pasar juga sudah ada, apalagi dong alesannya? Iyes, mungkin agak sulit cari investor yang berani tanam modal besar untuk film-film dengan segmen pasar yang begitu spesifik. Lagi pula sponsor yang banyak itu kan brand-brand Jepang sendiri, agak sulit untuk bertarung di luar kandang. Dan kalau dipikir-pikir juga ya, pasar dalam negerinya sendiri sudah cukup untuk membiayai industri filmnya. Jadi mungkin, kenapa saya harus judi dengan uang besar di dunia internasional kalau di rumah sendiri saya udah kaya?

5. Different discourse

Ganteng-Ganteng Dragonball..
Ganteng-Ganteng Dragonball..

Sambil ngelamun saya juga bertanya perihal ini pada seorang teman yang dari orok udah belajar kultur Jepang sekaligus tandem saya menulis artikel review film di ROI! Ini, tiada lain tiada bukan dialah MinBim. Menurut beliau, perbedaan discourse juga menjadi salah satu faktor penghambat film-film Jepang adaptasi ini sulit diterima publik internasional.

Discourse secara garis besar adalah sebuah perdebatan komunikasi yang diakui secara nggak sadar oleh banyak orang. Lieur yah? Yasudahlah, intinya, bagi orang-orang seperti saya dan MinBim yang tumbuh dengan cerita-cerita Jepang sudah paham betul dan menerima karakteristik mereka yang awkward, cheesy dan keren pada saat yang bersamaan. Sementara itu, dunia internasional melihat Jepang sebagai sesuatu yang eksotik namun penuh dengan creepyness.

Jadi, untuk memaksaan film-film adaptasi ini go internasional bukanlah sebuah langkah yang mudah. Perbedaan discourse ini kemudian menjadi gap budaya yang menjadi penghalang invasi film-film adaptasi ini. Sebut saja Street Fighter, cerita asli Jepang ini banyak fansnya di berbagai negara. Tapi apa yang terjadi saat hollywood mengadopsi film ini? Gagal total. Dead or Alive? Gagal total. Dragon Ball? Gagal total. Semuanya gagal simply karena perbedaan nilai discoure ini.

Nah itu kira-kira hasil saya ngelamunin kenapa film-film jepang yang mengadaptasi cerita manga/anime itu payah. Semuanya cuma asumsi atas kegemaran saya nonton film-film anime, dan live action Jepang. Jadi harap maklum kalau data dan fakta yang disajikan nggak akurat. Dan sekali lagi ya, bukan mendeskreditkan film-film Jepang yang lainnya. Banyak juga kok film adaptasi atau anime sekalipun yang mumpuni sebut saja Akira, Ghost in The Shell dan yang paling terakhir adalah live action Rurouni Kenshin.

Hanya saja tulisan ini saya rasa perlu dibuat untuk orang-orang seperti saya yang gelisah saat menonton film kegemarannya digarap dengan payah. Pada akhirnya film-film adaptasi seperti yang saya sudah sebut di atas akan menjadi sebuah tawar menawar yang sulit, you can not always have what you want. Sekarang tinggal gimana kalian menyikapinya aja, apa mau jadi orang yang selalu ngedumel karena filmnya nggak sesuai ekspektasi atau mau jadi orang yang bersyukur bisa menonton film-film favoritnya dengan perspektif dan sajian yang baru?

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *