“Zentuary”, Kedamaian dari Dewa Budjana

DEWA  BUDJANA! Namanya aja udah DEWA, terbukti betul dan terasa benar bahwa nama adalah sebuah doa. Doa yang terkabul menjadi keberadaan yang nyata, karena bisa dibilang Dewa Budjana adalah salah satu dewa gitar Indonesia. Ayo, tepuk tangan dulu. Bukan tanpa alasan saya menyebut beliau seperti itu, tapi nyatanya, kalau kamu-kamu semua datang, duduk, berdiri bahkan rebahan sekalipun di pesta Zentuary punyanya mas Budjana ini, kalian pasti setuju. Yakin deh. Yakali nggak yakin.

Rabu (30/11) yang lalu saya berkesempatan untuk melihat pagelaran musik penuh cita rasa ini. Saya sambangi dengan penuh mawas diri. Terlintas di kepala, saya pikir, konser ini hanya sebagai ubar jenuh mas Budjana di GIGI. Tiba di NuArt Sculpture Park jam 8 malam, saya langsung bergegas menuju denah konser, sambil dianterin sama panitia dengan penuh kesopanan juga kesantunan. Membuat saya nyaman sedetik.

Sesampainya. Saya dibuat kaget terayam-ayam melihat para player dari hajat Zentuary ini, pemain harmonika dengan stelan swag. Rega Dauna on harmonika dude!. Di sampingnya sudah berdiri dengan paras yang membuat saya ter-aduhay aduh manisnya, Asteriska. Mengisi poros bass, Shadu Rasjidi yang bertalenta. Serta beberapa kolega mas Budjana yang ikut.

Hajatan Zentuary ini sekaligus memperkenalkan album ke-10 Dewa Budjana selama beliau bersolo karier yang juga berjudul  sama dengan hajatannya. “Perjalanan album Zentuary ini, sebenarnya sudah dimulai dari beberapa tahun ke belakang dan berakhir 2015 di Woodstock, Amerika Serikat. Namun baru bisa dirilis tahun ini akibat persoalan label,” tutur Dewa Budjana di sela-sela pertunjukannya.

Lagu demi lagu, skill demi skill, gimmick demi gimmick dipertontonkan oleh Dewa Budjana dan kolega secara asik dan juga menarik. Lake Toba, Masa Kecil, Manhattan Temple dan beberapa lagu dari album di luar Zentuary dibawakan dengan enerjik. Sekitar 6-8 lagu disuguhkan kepada penonton dan saya rasa cukup untuk memberikan applause. Penonton di pagelaran ini juga dimanjakan dengan suasana yang sangat cocok, semiliwir angin dibalut dengan lighting stage yang awrayt punya.

Keseruan gelaran ini juga diselingi dengan chit-chat antara Budjana dengan penonton dan beberapa kerabat musisinya. Budjana bukan lagi seorang musisi, namun juga seniman handal, salah satu sahabatnya, Baron, berujar “konsisten dan keikhlasan itu yang saya pelajari dari Budjana.” Trie utami selaku lalakon di ajang bernyanyi salah satu televisi juga mengatakan hal yang serupa. “Budjana bisa hadir dalam bentuk apa saja, suasana apa saja, dia selalu bisa bermain tanpa berpikir di mana dia bermain, pada siapa dia bermain, dan itu yang dimiliki oleh Budjana dari sedikit musisi yang ada di Indonesia.” All hail Dewa Budjana.

Dewa Budjana mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen yang sudah membantu tercapainya konser Zentuary, sahabat-sahabat dan juga penonton yang sudah hadir. “Sampurasun, saut dewa. Konser ini saya buat konser antara sahabat dengan sahabat. Semua yang telah membantu dan berkontribusi adalah sahabat saya. Sahabat tuna netra, terima kasih semoga musik saya bisa diinterpretasikan dengan cara yang berbeda,” ujar Dewa Budjana.

Sebelum menutup pagelaran hebat ini, Budjana mengundang pak Nyoman, selaku tuan rumah dan kang Triawan selaku pemicu beliau untuk bermusik untuk memberikan cinderamata yang dibumbui sedikit curahan hati sepak terjang Dewa Budjana. Beragam jenis instrumen musik yang dimainkan dengan bijaksana, bersatu padu menjadi sebuah musikalisasi yang berkualitas tanpa batas. Saya akan menutup tulisan ini dengan perkataan kang Triawan bahwa “Budjana buat saya adalah mata air yang tak pernah berhenti.” Salut mas Budjana. Kamu berhasil. Salam buat mas-mas GIGI. Udah yah. Dadah.

Foto: Alfi Prakoso

cih! Sepele~