Wanggi Hoediyatno, Berceloteh lewat Pantomim

Akhirnya hujan turun juga seiring datangnya bulan November. Sebelumnya pun hujan turun ketika datang bulan hehe yakali. Tapi hujan nggak bisa menghentikan, ceilah, langkahnya untuk beraksi. Siapa yang nggak kenal dengan sosok yang satu ini? Kacida. Sebut saja Wanggihoed a.k.a Wanggi Hoediyatno. Kang Wanggi ini aktif sekali dalam seni peran pantomim. Apa tuh pantomim? Masih nggak tau? Pantomim menurut wikipedia adalah meniru segala sesuatu. Suatu pertunjukan teater yang menggunakan isyarat, dalam bentuk mimik wajah atau gerak tubuh, sebagai dialog. Jelas? Lanjut ya.

Kang Wanggi ini kelahiran Palimanan, Cirebon, 24 Mei 1998. Alhamdulillah, telah menyelesaikan studinya Jurusan Teater di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Kini, beliau sedang sibuk-sibuknya untuk mengurus acara 9 tahun berdirinya Mixi Imajimime Theater, komunitas pantomim yang beliau dirikan. Rencananya acara tersebut akan digelar dalam waktu yang dekat. Penasaran? Yaudah dikasih tau deh, acaranya tanggal 11 November 2015.

Bukan itu saja, ada juga rencana beliau yang akhirnya mundur dikarenakan satu dan yang lain halnya, yaitu acara 1 dekade Kang Wanggi berkarya dalam dunia pantomim. Keren parah mang! Pada awalnya bakal digelar akhir tahun ini tapi beliau memutuskan untuk dimundurkan dan mudah-mudahan dapat digelar pada awal tahun depan. “Selebihnya, sih, acara-acara kolaborasi dengan temen-temen komunitas dan musisi. Ya untuk menciptakan ruang gerak atau eksplorasi ruang lah,” kata Kang Wanggi.

Menurut Kang Wanggi, hanya dengan media pantomim lah beliau bisa mengaspirasikan segala sesuatunya. Karena sudah banyak kata-kata yang sudah nggak bermakna dan terbuang sia-sia. Sehingga membuat orang yang “membuat” kata-kata tersebut kelelahan dan nggak ditanggapi oleh masyarakat. “Bagi saya pantomim adalah sebuah terapi. Terapi yang bukan itu-itu lagi, melainkan terapi dengan warna lain. Karena dengan pantomim, sudut pandang orang-orang akan menjadi terbuka,” lanjutnya. Dengan media pantomim atau bahasa tubuh, warga kreatif akan mudah mengingatnya. Misal, ketika melihat gerakan A, oh iya ini tuh yang Kang Wanggi peragain waktu acara blablabla.

Selalu ada pesan dalam setiap penampilan Kang Wanggi, bebas orang-orang mau mengartikannya pesan moral atau pun kritik sosial. Akan tetapi kritik yang membangun, ya, warga kreatif. Karena dengan kritik yang membangun, kita akan menjadi sosok yang lebih baik lagi. Ahaydeuh. Kayaknya nggak pas kalau cuma pesan doang, ya kayak dulu waktu masih muda pisan ngisi biodata “pesan dan kesan”. Muda ih~

Karya-karya beliau nggak akan sampai pada masyarakat kalau nggak ada orang-orang yang membantu untuk menyuarakan atau menyebarkan informasinya. Lewat temen-temen komunitas-lah karya beliau bisa sampai dilihat dengan mata kita sendiri. Balik Bandung eh, balik lagi ke awal tadi yang Kang Wanggi sampaikan, bebas mau bagaimana pun warga kreatif menangkap pesan yang disampaikan. Karena bahasa itu universal, seenggaknya dengan melihat aksi beliau, imajinasi warga kreatif bisa terbuka.

Ada kaitannya dengan iklan, Kang Wanggi mengutarakan dan keseluruh penjuru mata angin bahwa, iklan atau promosi, atau penyebarluasan informasi sangat penting untuk semua hal. Khususnya untuk hal-hal yang kecil. Hal yang kecil ini bisa menjadi besar dengan adanya pariwara. Begitu pun dengan pergerakkan pantomim beliau. Pantomim yang beliau lakukan bisa menyebarluas khususnya di Kota Bandung, berkat andil pariwara. Wara wiri? Wek wek wek.

Sebelum ditutup perbincangannya, ada quote of the day, nih, dari Kang Wanggi. “Ketika kita jatuh, kita akan terbangun. Terbangun oleh semangat untuk menatap ke depan”.

______________________________

Kontak : wanggihoed@yahoo.co.id

Twitter : @wanggihoed

Instagram : instagram.com/wanggihoed

Pemuda harapan orang tua dan calon mertua