Press "Enter" to skip to content

“The 10th International Kampoeng Jazz”: Bukan Sekadar Helatan Satu Dekade

Apa lagi yang perlu warga kreatif khawatirkan ketika ingin hura-hura di Bandung? Sekarang mah Bandung makin heboh dengan ragam pilihan tempat nangkring dan hura-hura. Mungkin sekarang mah lebih ke lieur buat nentuin tempat kali ya? Antara mau tempat yang instagramable atau yang murah meriah seperti kantin gemboel di Ciumbuleuit, bingung. Tapi khusus hari Sabtu (28/4) kemarin, asupan hura-hura warga kreatif semakin dimeriahkan oleh gelaran “The 10th International Kampoeng Jazz” yang digelar oleh kawan-kawan BEM Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Ada yang nggak sempat datang? Sedih ih kamu, nggak bisa ngerasain jadi jazzy. Jazzy~

Tanpa membaca tulisan ini juga harusnya kamu udah yakin acaranya bakal keren. Siapa yang nggak tau Kampoeng Jazz. Kamu-kamu yang demen musik jazz atau sering lalu lalang lewat ke Dipatiukur pasti setahun sekali jalurnya dibuat padat merayap sama kegiatan musik tahunan ini. Tapi tenang, meski kalian sudah mengira acaranya keren, saya tetep bakal nulis hasil liputannya.

Menurut rundown di instagram, acara dimulai jam 2 siang, tapi saya sempet muter-muter di Dipatiukur dulu buat nyari tempat parkir murah. Begitu masuk ke UNPAD Dipatiukur, sayang sekali harus kelewatan aksi Garhana. Belum kesampean aja euy nonton mereka secara langsung. Alhasil kedatangan saya di Kampoeng Jazz disambut oleh Senar Senja di Telkomsel Stage. Itu juga cuma kebagian lagu Dialog Hujan, Bersenjagurau, dan Savana. Segitu juga syahdu. Syahdu~

Selepas ngobrol bareng temen, saya sempet liat rundown dan baru sadar melewatkan Clarxophonist, Disbudpar, dan Pretty Lotion di Main stage. Bener, helatan Kampoeng Jazz kali ini juga dibagi jadi dua panggung. Harus ekstra nyikreuh dan perlu rela bulak-balik demi bisa nonton semua musisi yang ada di rundown. Perlu perhitungan waktu yang pas dan taktik juga, bro. Sori, nonton acara musik sudah ada di level eksakta sekarang mah. Edan, serius.

Karena sudah sempat menyimak aksi MYMP di salah satu festival kekinian yang digelar di kawasan Lembang, akhirnya saya memilih buat ngadem di Telkomsel Stage sambil mantengin aksi Nonaria. Selain aksi Nonaria yang manis, pandangan saya juga dibuat sejuk oleh pengunjung yang berpenampilan maksimal dan sedap dipandang. Eh aduh, lupa bahas Nonaria. Aksi trio yang digawangi Nona Nesia, Nona Yasintha, dan Nona Nanin ini berhasil meraup tawa dan tepuk tangan kagum. Puncaknya di lagu Maling Jemuran, aksi akapela yang dipertontonkan Nona Nesia memang aduhay dan mampu memancing sorak penonton.

Kalau dihitung, nggak butuh waktu lama buat MC untuk memanggil penampil selanjutnya yaitu The Extralarge. Paduan setlist yang hauce dan visual motion yang menarik menjadikan penampilan unit asal Jakarta ini dihadiahi dengan goyangan dari penonton. Meski sempat cluk-clak hujan, aksi The Extralarge malah semakin menuju klimaks saat membawakan tembang “Cinta Melulu” milik ERK. Lagi-lagi, karena saya nggak boleh telat makan, apa boleh buat saya harus melewatkan Fabian Winandi di Main Stage. Kalem ya, Kang, mudah-mudahan saya bisa nonton video ulangnya di Youtube. Mudah-mudahan ada.

Semakin sore penonton yang hadir di venue semakin membludak. Mantep banget sampai harus pasedek-sedek dan antri untuk bisa mendapatkan posisi terbaik. Eh, nggak cuma urusan menonton aja yang harus mengantri. Urusan patuangan juga harus antri, boss. Pasalnya beberapa tenant makanan yang hadir di Kampoeng Jazz berhasil jadi salah satu daya tarik juga. Untung tertib, jadi semua lancar pasti~

Dilema oge sih kalau liat line up kemarin. Sementara ada Monita Tahalea, Barsena, dan JSMN (USA) di Telkomsel Stage. Di waktu yang berdekatan ada penampil di Main Stage yang juga nggak kalah mentereng; Teza Sumendra, Raisa, dan The Marías (USA). Beberapa penonton harus rela nggak bisa menyaksikan semua penampil secara utuh. Ya gimana atuh? Beres dua lagu kudu langsung cabut ke stage lain biar nggak kelewatan aksi dari musisi kedemenan. Selain dari pihak penonton yang dibuat bulak-balik, saat itu penampil juga harus rela ditinggal penontonnya selepas dua atau tiga lagu. Hihihi.

Aksi Monita Tahalea, Barsena, dan JSMN di Telkomsel Stage tetap maksimal meski dengan kuantitas penonton yang timpang dibanding di Main Stage. Menurut temen saya mah katanya jadi enakeun sih kalau sedikit sepi, berasa intimate concert. Itu juga memicu penampil untuk terus berinteraksi dengan penonton. Jadi berasa lebih akrab. Akrab ih~

Sementara itu, Teza Sumendra, Raisa, dan The Marías berhasil menjadi magnet penonton untuk terus berdesakan beradu sikut dan silih berganti mengangkat ponselnya ke arah Main Stage. Nyaris nggak ada yang beranjak sih, apalagi pas Raisa tampil. Membawakan nomor-nomor terbaiknya seperti Kali Kedua, Usai Di sini, dan Could It Be, Raisa berhasil membuat separuh pengunjung sing a long. Kecuali penonton yang ada di Telkomsel Stage, mereka nggak nyanyi bareng Raisa. Teu kadangu. Selanjutnya ada The Marías. Nggak butuh waktu lama, unit psychedelic-soul asal Amerika ini membuat penonton goyang-goyang kecil. Penonton juga ada yang sambil pada nyanyi sih, keren pada tau lagunya. Enakeun. Selepas diajak sing a long oleh Raisa, The Marías hadir sebagai penawar dengan lantunan-lantunan bernuansa lulaby-nya.

Menuju pengujung acara penonton kembali terbagi menjadi dua; ada yang siap ajojing bersama Diskoria x Fariz RM di Telkomsel Stage dan ada juga yang siap ber-jazzy-ria bersama D’essentials Of Groove di Main Stage. Seperti bucat bisul, para panitia juga ikut bersukacita merayakan helatan Kampoeng Jazz yang ke-10 ini. Didaulat menjadi penampil pamungkas di Telkomsel Stage, Diskoria dan Fariz RM berhasil membuat pecah suasana. Semua bergoyang dan bernyanyi. Bahkan rumput juga bergoyang. Sori.

Kemeriahan satu dekade Kampoeng Jazz ditutup oleh D.O.G di Main Stage. Meski hanya menyimak dari kejauhan, aksi panggung dari kolaborasi dua band ini memang dua jempol. Lupa euy judul lagu yang dibawain D.O.G apa aja. Coba nanti cari di youtube ya. Biasanya sih setlist-nya suka sama. Selepas lagu terakhir, penonton langsung bubaran cepet banget. Nya geus peuting oge, sih. Pokoknya helatan satu dekade dari Kampoeng Jazz ini bukan sembarang helatan musik. Selain banyak pilihan penampil yang oke, penonton juga sukses dituntut lebih sistematis dan punya perhitungan biar bisa nonton semua musisi kesukaan.

Sampai berjumpa di Kampoeng Jazz berikutnya ya!

si sehat dan lincah

Comments are closed.