(Terkadang) Kita Ini Pemalas

Ketika cuaca mendukung kayak mendung di sore hari, rasanya enak banget untuk bermanja-canda bersama pasangan sambil nonton dvd dengan kaki selonjoran di atas meja. Bagi yang punya. Buat yang nggak punya, ya asal sama-sama selonjor pokoknya. Pas panas terik di siang hari juga rasanya enak buat tidur siang sehabis makan nasi padang daripada harus pergi nganterin ibu ke kantor pos buat bayar tagihan kebutuhan rumah. Ya, memang terkadang kita ini pemalas. Tapi kalau ada yang ngomong “ah, eta mah maneh weh nu males,” pasti rasanya nggak terima, kayak harga diri diinjek-injek sama harga diskon.

Mungkin buat orang-orang yang punya pekerjaan, mau nggak mau harus mengesampingkan dua sifat itu. Coba aja liat jalanan Soekarno-Hatta pagi-pagi, udah murudul bin rudet lah rasanya. 1001 umpatan bakal keluar dari mulut. Buat mahasiswa atau yang sederajat, biasanya sifat pemalas ini kadang-kadang suka muncul, meskipun untuk beberapa kasus akan terlihat gagah, misalnya nggak pakai jaket kalau naik motor. Saya bilang begitu, soalnya masih ada juga contoh mahasiswa yang rumahnya di Baleendah tapi kuliahnya di Jalan Suci. Sebuah dedikasi untuk pendidikan di dunia modern ini. Lalu Anies Baswedan pun tersenyum.

Untuk urusan kewajiban, kita anak-anak muda masih bisa dikasih tanggung jawab lah, sedikit. Tapi coba kalau urusannya bersifat non-establishment, sifat pemalas ini suka hadir mewarnai hari-hari kita. Contohnya, karena dimanjakan dengan jasa pesan antar makanan, mau dari chain restaurant atau, ya, sekadar BKI dan warung nasi pasti bikin kita malas untuk angkat pantat. Apalagi karena kesibukan sebagai mahasiswa, kita selalu mikir kalau nggak ada waktu untuk bersih-bersih kamar, kadang bersih-bersih badan sendiri juga nggak disempetin. Ya, wajar, sih, itu hak masing-masing pribadi yang menjalani hidupnya, tapi sedikit bikin resah orang lain. Emangnya, sesibuk itu ya kita jadi manusia, sampai hal-hal kecil yang nggak membutuhkan waktu banyak sukar untuk dilakuin?

Contoh gampangnya aja, kita kadang malas buat buang sampah pada tempatnya. Emang sih, prasarana yang udah dikasih nggak begitu banyak. Kalaupun ada juga udah nggak layak lagi bentuknya, malah tinggal tiang penyangganya aja. Menyedihkan. Tapi kalau sampahnya sebatas tisu, bungkus permen, dan sampah-sampah handy lainnya bisa lah, masuk kantong celana atau saku-saku kecil di tas sampai kita bisa menemukan tempat sampah yang layak guna. Beda halnya kalau buang sampah harian dari rumah. Ya siapa juga yang mau bawa, sih, sebenernya.

Kita juga sering menganggap waktu bergerak cepat, tapi sebenarnya ada istilah time management di mana kita yang seharusnya bisa mengatur waktu buat kebaikan diri kita sendiri, bukan kita yang didikte waktu. Lagipula “waktu” itu udah berjalan sebelum kita lahir, dan nggak bisa disalahin untuk terus berjalan. Susahnya meluangkan waktu menjadi alasan favorit bagi kita-kita yang (sok) sibuk, sampai-sampai datang ke sebuah acara, contohnya Musca, yang udah dihimbau untuk registrasi online sebelum datang aja kita malas. Persentasenya sekitar 50-50 lah, toh, banyak juga yang udah registrasi online sebelumnya. Kalau diitung-itung, untuk daftar gitu kayaknya nggak ngabisin waktu lebih dari 10 menit (karena saya yakin koneksi internet di Kota Bandung sudah merata) yang bisa kalian lakukan di “waktu luang” kalian, seperti ke warung atau buang air besar. Atau, informasinya nggak nyampe ke kita-kita? Ah, masa..

Fasilitas yang berupa gadget atau komputer ini sebenarnya memang mempermudah hidup kita. Misalkan mau nonton bioskop bisa liat jadwalnya dulu, bahkan bisa langsung beli tanpa harus antre di loket, dan juga ngobrol panjang lebar tanpa harus tatap muka. Meskipun begitu, penggunaan fasilitas itu secara terus-terusan dapat mengubah fungsi kita sebagai makhluk (yang) sosial, sehingga menyebabkan kedapatan “virus” social anxiety. Udah banyak kok yang bangga menggunakan terminologi itu, yang sebelumnya kita bilang sebagai pemalu. Bedanya, orang yang pemalu itu masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang, meskipun nggak dalam kelompok besar, tapi buat kita yang merasa dimudahkan dengan gadget dan komputer sering menganggap kalau bersosialisasi itu merupakan kebutuhan sekunder. Toh, kita udah bisa menemukan banyak pengetahuan dan mendapat teman dengan mengetik dan meng-klik. Hehe.

Semua paparan di atas akhirnya mengerucut menjadi fakta yang seringkali dibantah; kita ini pemalas. Tapi nggak bersifat mutlak, kan “terkadang”. Mungkin dengan membuat rencana per hari bisa membantu mengurangi kemalasan dan kemanjaan kita, karena adanya dorongan untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Ya, semuanya kembali ke diri masing-masing deh. Mungkin emang udah jalan hidupnya.

 

Kecup sayang,

 

Managing Editor

Ichsan ‘Spaceboy’ Ramadhan.

*Tom & Jerry’s Opening Score*