“Tanahku Tidak Dijual”, Album Solo Perdana dari Deugalih

Warga kreatif ngeuh nggak, sih, ada yang berbeda dengan musisi yang satu ini? Maksudnya nggak seperti biasanya gitu, kan biasanya sama folks, nah sekarang cuma sendiri. Ada apa ya? Warga kreatif pasti tau atuh ya dengan Deugalih? Ya, baru-baru ini doi baru saja merilis album solonya yang bertajuk Tanahku Tidak Dijual. Unik ya nama albumnya, jadi penasaran siah. Apa dulunya doi sempat jadi makelar? Hehe, bercanda kok Mas Galih, maapin.

Usut punya usut, tah kumaha sok? Si Usut punya Usut?! Dalam album ini yang kebetulan nggak ditemani “folks“, Mas Galih bercerita tentang banyak hal mengenai harapan, kampung halaman, dan tentunya persoalan kekuasaan yang sudah jadi hal tabu di negeriku Indonesia ini. Lebih lanjut, hal-hal yang bertentangan dengan negeri ini nggak semuanya harus dihadapi dengan rasa amarah, senyum, dan air mata. Kalem, asa wawuh… Hehe, itu mah judul lagu Alone At Last ya, mang?!

Album yang kurang lebihnya digarap selama 2 tahun ini, berisikan 14 buah lagu. Dan luar biasanya lagi, proses rekaman hanya dilakukan selama 2 hari dan satu kali take saja! Warbiasa Mas yang satu ini. Oh iya, Mas Galih berharap lagu-lagu dalam album Tanahku Tidak Dijual bisa menjadi jalan untuk membuka pemikiran orang-orang yang mendengarkannya. Untuk tetap memperjuangkan tanah-tanah di mana pun kita berpijak. Aih, sedap!

Sukses terus buat Mas Galih, titip salam buat folks-nya yah Mas. Rindu dengan wonderful journey, nih. Tapi, sebelumnya sikat dulu kali ah, video single preview-nya di bawah. Eh, inget ya warga kreatif! Nanti beli CD-nya jangan yang bajakan, emangnya mau nanti tanahnya dibajak sama penguasa? Maafin kalau nyambung. Eh. Nyambung wae~


Twitter:

Instagram: instagram.com/deugalih

Pemuda harapan orang tua dan calon mertua