Star Wars: Rogue One (2016): Melihat Perjuangan Rakyat Rebel

Indeks Prestasi Keren: 7.8/10

Rasanya pengen smash keyboard aja, sih, kalau disuruh nulis review soal Star Wars. Tapi nggak! Aku harus profesionil. Hehehe. Geuleuh nggak? Walaupun animo masyarakat nggak seheboh waktu Star Wars Episode VII keluar, tapi film ini nggak kalah serunya, lho!

Star Wars: Rogue One kalau dirunut tuh berada di antara Episode III dan Episode IV yang mana menceritakan tentang sekelompok Rebellions yang berambisi untuk meruntuhkan Empire yang ternyata bukan bioskop di BIP. Menjadi pandangan menarik ketika kita biasa disuguhi oleh cerita “ring satu” Star Wars yang berkutat di keluarga Skywalker dan per Jedi-an, di Rogue One lebih menceritakan tentang masyarakat biasa yang ingin ikut memberontak melawan Dark Force. Ya, kalau di ceritanya mah spin-off dari kameo-kameonya kali ya?

Menceritakan tentang Jyn Erso (Felicity Jones), seorang anak perempuan dari mekanik Death Star, Galen Erso (Mads Mikkelson) yang terpaksa ikut dalam gerakan pemberontak. Jyn menjadi kunci utama bagi Rebellion untuk mengalahkan Empire karena memiliki kedekatan dengan Saw Gerrera (Forest Whitaker), seorang pemberontak ekstrimis yang tau lokasi Galen. Berbekal bantuan seorang Intel, Cassian Andor (Diego Luna) dan beberapa pasukan dari Jedha, Jyn masuk ke dunia yang nggak pernah ia inginkan.

Secara keseluruhan, cerita ini mengangkat sudut pandang baru dari Star Wars di mana kita bisa melihat orang biasa yang ikut berjuang dalam kesuksesan Luke Skywalker menghancurkan Death Star. Bikin pengen ngomong “Oh… ternyata di balik kesuksesan teh ada juga orang-orang kayak mereka ya? Huhuh sedih” lalu aku nangis di studio sendirian. Iya, aku doyan nonton sendirian, temenin atuh. #salahfokus.

Entah karena emang plot Rogue One begitu adanya atau memang dibuat menyerupai kondisi politik dunia sekarang, well yea nggak tau juga, sih. Soalnya aku ngeliat kayak sedikit mirip dengan kejadian sekarang, Saw Gerrera yang seorang pemberontak ekstrimis tinggal di Jedha; gurun pasir ala Timur Tengah mengumpulkan orang-orang untuk melawan Empire. Sounds familiar, huh? “Pengekstraksian” Kristal Kyber juga terlihat mirip dengan sistem kapitalisme sekarang. Aduh jadi serius gini.

Secara keseluruhan aku suka banget film Rogue One ini, bukan karena ngefans, lho. Aku sukanya, ya, karena mengangkat perspektif baru dan menceritakan soal masyarakatnya itu sendiri, bukan berkutat pada Luke dan Leia saja. Tapi sayangnya kecewa banget sama credit crawler di awal film, udah excited mau nyanyi theme song, eh taunya malah nggak ada. Huhu yasudah, mungkin Gareth Edwards lupa. Tapi, totally worth it kok! Nonton gih, sendirian aja nggak apa-apa. Nggak perlu malu 🙂