“Sathar Vol. 1: Past”, Kristalisasi Fragmen Mimpi Riandy Karuniawan

Waktu itu, katanya, Pahlawan Bertopeng pernah bilang ke Shinnosuke kalau Bermimpi itu merupakan hak manusia yang penting selain hidup. Itu juga katanya. Saya, sih, nggak mau nyari tau kebenarannya, da setuju. Haha. Karena adanya impian, maka harus ada yang direalisasikan. Sama halnya dengan Riandy Karuniawan yang baru saja membuka pameran tunggalnya yang terselenggara di hari Sabtu (26/11), yang banyak tercipta dari mimpi-mimpinya.

Pameran tunggal pertama Riandy Karuniawan yang pertama ini diberi judul Sathar Vol. 1: Past dengan tema fantasy yang bertempat di World’s End Gallery. Riandy menjelaskan mengenai Sathar yang merupakan sebuah alter ego yang suka diselip di karya ilustrasi band-band yang pernah bekerja sama atau karya personal miliknya. Untung bukan yang lain yang nyelip.

“Kata ‘Sathar’ itu saya ciptain sendiri dari kata ‘sadar’ sebenernya, karena saya merasa kalau sekarang manusia teh udah ditutup sama segala macam informasi. Sehingga hilang lah, sifat kesadaran itu sendiri. Seperti contoh, Sathar punya antena, karena saya merasa kalau kita teh dengan 5 indera yang kita punya tuh masih kurang buat lebih merasai hal-hal yang nyata di sekitar kita,” jelas Riandy. Sedangkan ‘Past’ menjelaskan tentang eksplorasi karya-karyanya di masa lalu, karena dalam berkarya Riandy ingin mencari tau apa dan siapa dirinya hingga menjadi dirinya yang sekarang. Sungguh dalam sekali.

a_mg_0228

Karya Riandy Karuniawan yang menarik buat saya di Sathar Vol. 1: Past itu berjudul Ethiopian Dreams, karena pas saya liat kayak menampilkan lingkungan di kerajaan. Eh, tapi pas dijelasin, ternyata kata ‘Ethiopian’ itu memiliki makna yang menggambarkan kemiskinan, dan lukisannya diibaratkan Ibadah Haji, karena ibunda dari Riandy ingin sekali untuk bisa pergi Haji. Semoga secepatnya terkabul. Amin. Riandy juga bercerita mengenai simbol-simbol keagamaan yang suka ada di setiap karyanya. Bagi dirinya, itu bukanlah sebuah kritik, melainkan karena Riandy sudah diperkenalkan tentang agama sejak kecil. Jadi, hal itu sudah menjadi bagian dalam dirinya. Memang ya, karya yang mempesona teh suka datangnya dari cerminan diri sendiri. Makanya saya rasa, saya mempesona karena suka bercermin. Heureuy.

Bagi saya, karya-karya yang dipamerkan Riandy Karuniawan di Sathar Vol. 1: Past ini mencoba untuk menampilkan refleksi-refleksi dari hal-hal yang nyata. Kayak semacam ngasih tau kalau di balik yang kita liat masih ada kedalaman yang nggak kita tau. Walaupun do’i bilang kalau itu merupakan aplikasi teori perspektif dari apa yang dipelajari semasa kuliah di jurusan Arsitektur dulu. Apalagi dengan disediakannya kacamata 3D buat lebih bisa melihat dari sisi yang lain.

a_mg_0206

Untuk kacamata 3D, Riandy menjelaskan kalau dirinya senang sekali dengan psychedelic dan surrealisme, yang nyatanya membutuhkan substansi, seperti acid untuk dapat menampilkan potensi terdalam. Kacamata 3D itulah yang menjadi subtansi untuk membantu melihat karya-karyanya lebih mendalam dengan efek samping pusing. Haha. Asli, tapi seru.

Sathar Vol. 1: Past masih akan digelar hingga 31 Januari 2017, dan Artist Talk yang bakal menjelaskan cerita di balik karya-karya Riandy Karuniawan akan digelar di hari Sabtu (3/12) mendatang. Saya mah udah dijelasin duluan pas pembukaan. Haha. Di sana juga dijual official merchandise, seperti kaos seharga 150 ribu, dan postcard, 3D glasses and sticker pack seharga 100 ribu. Jangan lupa untuk mampir dan dibeli. Keren-keren, lho. Eh, iya, pameran ini bersifat trilogi, lho. Jadi bakal ada volume-volume berikutnya. Makanya harus banget dateng ke pameran tunggal Riandy Karuniawan yang pertama ini, biar nanti di episode selanjutnya kalian bisa ngikutin.

*Tom & Jerry’s Opening Score*