Sang Botol Plastik yang Mengajarkan Ilmu Ikhlas

Kata mamah, sekarang kalau mau minum, kudu bawa tempatnya sendiri dari rumah. Soalnya botol plastik kemasan itu it’s too lame, sudah nggak oke lagi, nggak efisien, nggak ramah lingkungan, dan banyak alasan lain ala pakar lingkungan. Ternyata eh ternyata, bukan hanya karena perhatian sama anak, tapi mamah saya ikut-ikutan jadi reseller salah satu produk wadah plastik yang namanya sudah cukup tersohor sa-alam dunya. Pada tau? Itu tuh, si caperwer. Yang bisa bikin ibu-ibu caper ke para suami, di kala katalog baru sudah mulai menampakkan modelnya yang baru. Pantesan nyuruh bawa caperwer dari rumah, caper ih!

Tapi saya nggak terlalu percaya sama mamah, apa bener semua botol plastik nggak ramah lingkungan? Pasti dari sekian banyak botol, ada botol yang sholeh tur someah, tentunya ramah terhadap sesama juga sekitarnya. Nggak mungkin kalau nggak ada yang ramah. Pasti ada!

Akhirnya, saya memutuskan buat mau-maunya ngajak ngobrol salah satu botol plastik pilihan yang didapati dari masjid terdekat. Dengan basa-basi syahdu, saya langsung menegur dia dengan salam yang biasa saja.

Assalamu’alaikum, Kang. Punteun, boleh diganggu sebentar?
BOTOL : Waalaikumsalam, ya akhi. Silakan. Ahlan wa sahlan…

Maaf ya, Kang. Saya pake celana pendek, nih, aurat euy.
BOTOL : Oh, iya. Nggak apa-apa, dik. Saya mah woles, kan adik itu lelaki, lantas saya nggak mungkin tertarik syahwatnya.

Kenalan dulu ah, biar kenal. Saya Fadli, Kang. Akang namanya siapa?
BOTOL : Nama saya Tusbol, dik. Salam kenal.

Astaga naga! Akang, ih…
Tusbol (TB): Kamu jangan suudzon. Tusbol itu singkatan tutup sama botol.

Oh, iya, hehehe. Maaf, Kang. Saya trauma sama zaman robot gedeg. Takut.
TB : Iya, saya maklum. Memang untuk orang yang baru kenal, pasti nama itu terdengar janggal.

Eh, kan tadi namanya tutup sama botol, itu tutupnya ke mana, Kang?
TB : Oh, dia mah kan si super sibuk. Sering disuruh sama manusia.

Lah, emang sering disuruh apa gitu?
TB : Biasanya kalau tutup dibuka, manusia sering bilang, “ayo, kalau habis dibuka, nanti tutup botolnya yang rapat, ya!”. Sungguh malang sekali nasib ia, dik.

Bener oge euy si Akang! Teu kapikiran.
TB : Ini mau wawancara apa? Tusbol belum siap-siap. Spontan aja, ya, jawabannya?

Spontan aja, biar uhuy.
TB : Oh, baiklah. Insya Allah siap.

tol
Itu Kang Tusbol sama temennya lagi rapat. (Sumber: bianginovasi.com)

Menurut Kang Tusbol, apa botol plastik itu nggak sehat?
TB : Nggak sehat bagaimana? Untuk tubuh manusia, maksudnya? Ya kalau plastik dimakan, pasti nggak sehat, dik.

Bukan gitu, kan Akang punya saingan tuh, si caperwer yang katanya terbuat dari bahan yang lebih sehat.
TB : Nah, ini yang sering dipermasalahkan oleh kaum manusia. Sebetulnya, ya, kaum saya dan kaum caperwer itu nggak bersaing. Silaturahmi kami baik-baik saja. Sampai saat ini, malah banyak kerja sama yang kami jalin.

Wah, kerjasama apa, Kang?
TB : Banyak, lah, pokoknya. Salah satu yang terbaru adalah kami berembuk membuat padepokan untuk sesama botol.

Mantap ih. Padepokan apaan tuh?
TB : Tusbol bersama beberapa kolega pun membuat Padepokan Hak Asasi Botol atau biasa disingkat PAHABOL. Itu bukti kami nggak bersaing, sebetulnya kami saudara.

Saya baru tau siah, Kang…
TB : Dicatat dulu, dik. Nanti lupa, lho. Sok mau tanya apa lagi?

Peran akang sebagai wadah air kan bakal diganti sama caperwer. Teu nanaon?
TB : Tusbol memang sedih, pasalnya kan Tusbol nggak bakal digunakan lagi. Tapi, kata ustadz, “semua mahluk itu harus berlomba-lomba dalam hal kebaikan”. Kalau dirasa peran Tusbol merugikan, ganti saja dengan yang lebih baik.
Saling menghargai dan menghormati saja, toh dulu Tusbol pernah berjaya pada masanya. Aduh, astagfirulloh… Maaf jadi ria.

Tapi kalau resign jadi tempat minum, Kang Tusbol pasti nganggur.
TB : Kan, rezeki sudah ada yang mengatur, Tusbol hanya bisa berusaha dan berdo’a. Mau jadi apa pun juga, Tusbol mah tetap bersyukur saja. Kebetulan, bapak Tusbol punya usaha jualan burung di Jalan Suka Haji. Paling kalau sudah pensiun jadi wadah air, Tusbol, sih, pengen buka usaha saja.

Nggak pengen jadi atlet gitu, Kang? Apaan kek yang bisa ngehasilin prestasi.
TB : Eh, jangan salah! Di kaum botol, Tusbol punya saudara yang pernah jadi botol minum orang terkenal. Tapi ada juga saudara Tusbol yang berakhir di aliran sungai. Tusbol sedih. Sebagai saudara, Tusbol hanya bisa mendo’akan agar mereka senantiasa diberkahi dan diberi keselamatan dalam menjalankan hidupnya.

Innalillahi…
TB : Tragis, kan? Makanya, Tusbol, sih, berharap, jikalau nanti peran botol plastik digantikan, tolong, lah, dari pihak pemerintah ada penanggulangan untuk kaum Tusbol. Jangan sampai dinikmati sesaat lalu diabaikan. Kan, menurut agama juga nggak baik. Kita harus saling caring each other.

Kang Tusbol bahasa Inggrisnya keren, euy.
TB : Iya, soalnya saya dulu ikut kursus menjahit di Yani 012.

Kolaborasi temennya Kang Tusbol sama Kang Tangkal. (Sumber: larizo.com)
Kolaborasi temennya Kang Tusbol sama Kang Tangkal. (Sumber: larizo.com)

Tapi selain tempat air, botol itu bisa jadi tempat apa ajah?
TB : Tergantung, sesuai kebutuhan sajalah. Bisa air, bisa apa pun, kadang botol bisa dijadikan tempat jin, kalau di acara uji nyala.

Itu uji nyali, Kang. Salah.
TB : Kata siapa? Itu uji nyala lilin, saya dulu sempat ikut shooting uji nyala. Jadi bagian konsumsi. Makanya, hafal betul.

Iya, bebas. Kumaha Akang weh, bae!
TB : Ya sudah, nggak apa-apa, dik. Itu bukan hal yang krusial, kok.

Ih nggak nyambung! Terakhir, pesan Kang Tusbol buat yang masih berdebat soal botol plastik dan caperwer?
TB : Pokoknya, dalam hidup pasti ada yang namanya substitusi atau pergantian. Nah, si pergantian ini, kan, diharapkan membawa dampak positif. Tusbol berharap, kalau kaum Tusbol dibatasi penggunaannya, ya, nggak apa-apa, asalkan barang penggantinya memberi dampak yang lebih baik untuk semua. Baik itu untuk kesehatan manusia juga kebersihan lingkungan. Tusbol mah woles ae.

Terima kasih, ya, Kang Tusbol. It’s nice to see you banget!
TB : Oh iya, sawangsulna nya. Kamu nggak bakal do’ain Tusbol sukses terus, lekas umroh atau apa gitu, agar seperti akhir wawancara yang klimaks?

Buru-buru euy, Kang. Assalamu’alaikum…
TB : Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati, waalaikumsalam…

si sehat dan lincah