Sajian Syahdu nan Sehat di “Kampoeng Jazz 2017”

Woy warga kreatif! Ada yang bilang kalau jaman sekarang teh orang makin males buat baca. Maka dari itu, saya di sini mau ngasih tebak-tebakan. Gampil kok. Kampung, kampung apa yang nggak kayak kampung? Eh, kok masih baca? Katanya males… “Bandar Kampung, Yub!” Lampung norak! Kampung yang nggak kayak kampung itu, ya, Kampoeng Jazz dong. Buka sikit jazz! Hehe. Maaf ya teman-teman.

Jadi gini, hari Sabtu (29/4) kemarin, anak-anak BEM Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran menggelar kembali event Kampoeng Jazz yang memang rutin digelar setiap tahunnya. Acara yang digelar di Kampus Unpad Dipatiukur ini ngasih kita multivitamin banget buat penikmat musik, especially jazz. Buat saya Kampoeng Jazz itu kayak semacam ibadah wajib. Situasi dan kondisi dari keseluruhan acaranya keren banget, dari cuacanya yang cerah, MC yang ngomong seenak jidat, adik-adik gemas, dan sudah tentu para penampilnya. Ada banyak banget. Terbukti dengan acara yang dibagi jadi 2 stage. Kalau mau tau ada siapa aja, scroll samping terus ya. Kirain foto apa.

Saya tiba di venue sekitar jam 4 sore. The 9th International Kampoeng Jazz 2017 ini kebagi jadi Dipatiukur stage dan Dago stage yang memiliki jagoannya masing-masing. Dipatiukur stage diisi sama 5 Petani, Bonita and The Husband, Kolaborasi Budaya Sunda, Teddy Adhitya, Tulus, PREP dan Trio Lestari. Sedangkan Dago stage ada Full Lights Off, Titik Awal, The Bandos, Albert Dragtan Quintet, Scrapbeat, Kunto Aji, SUN RAI dan SORE.

Liat penampil yang sebegitu keren saya jadi agak kesel, karena nggak bisa nonton semua penampil gara-gara kudu lumpat dari stage satu ke stage lainnya. Ya, nggak apa-apa, sih sebenernya. Saya mensyukuri kok, cuma emang manja aja. 5 Petani menjadi penampil pertama yang saya tonton. Grup instrumental jazz asli Bandung ini membuka acara dengan manis. Pelangi, Sawah Impian, Matahari, dan Zevania menjadi beberapa materi yang disajikan untuk memanaskan suasana. Bonita and The Husband menjadi penampil yang saya tunggu akhirnya perform. Buat kalian yang gatau, Bonita ini adik dari Anda Perdana dan mereka berdua anak dari Koes Hendratmo, musisi sekaligus pembawa acara legendaris Berpacu Dalam Melodi. Bonita sebagai juru gedor grup asal Ibukota memberikan sajian dengan power suaranya yang bahaya dipadukan musik yang ngeunaheun pisan, seperti di Bromo, Do What you Gonna Do, Ain’t Gonna Fall, Small Miracle dan Juwita Malam milik Ismail Marzuki. Makasih teteh Bonita dan Suami!

Biar nggak bosen, saya mampir ke stage satunya, di sana Scrapbeat lagi siap-siap buat naik panggung. Sembari menunggu jeda ishoma, grup yang memadukan musik jazz, RnB dan hip-hop ini bermain dengan baik. Selepas jeda ishoma, saya kembali lagi ke Dipatiukur Stage yang sudah ramai dengan pengunjung sembari menikmati musik dari Teddy Adhitya yang chill. Do’i melantunkan tembang demi tembang dari albumnya yang bertajuk Nothing Is Real. Tampaknya Teddy akan menjelma menjadi salah satu solois yang dielu-elukan kaum hawa.

Terlalu senang dengan penampilan Teddy membuat saya lupa kalau di Dago Stage ada Kunto Aji, saya bergegas ke sana dan sedikit kecewa karena cuma kebagian sing a long di lagu terkahir, yaitu Akhir Bulan. Balik lagi ke Dipatiukur Stage, “Tuluussss, Tulusssss…” dan akhirnya yang dielukan keluar juga dengan single terbarunya Manusia Kuat yang dilanjut dengan lagu-lagu andalannya. Di lagu Ruang Sendiri, Tulus berkolaborasi dengan Teddy Adhitya dan Kunto Aji. Mereka bertiga juga mamerin kesaktian vokal mereka ke pengunjung dengan perform pendek Accapela Mash Up lagu mereka bertiga, Let Me milik Teddy, Monokrom milik Tulus dan Mercusuar milik Kunto Aji. Di lain stage, ada musisi asal San Fransisco, Amerika Serikat SUN RAI yang menampilkan permainan berskill tinggi, berhasil memanjakan pengunjung dengan musik San Francisco Street-nya. Sabiiiii

SORE menjadi penutup perhelatan di Dago Stage dan menyulap suasana stage menjadi syahdu-syahdu gemas. Makin spesial penampilan SORE denngan kolaborasi bersama Kunto Aji di Setengah Lima dan Karolina. Saat itu saya melihat Kunto Aji keren banget, lebih keren dari dia bawain lagu sendiri. Selepas bersenang-senang dengan SORE saya balik lagi ke Dipatiukur stage buat ngabisin stok artis yang di sesi ibadah wajib saya kali ini. Pas banget PREP, musisi asal Australia ini lagi mainin Futures yang ada di EP berjudul sama. Aura electronic funk dari band ini bikin pengunjung goyang-goyangin pala mereka dengan santai. Lantunan Cheapest Flight dan Who’s Got You Singing Again berkolaborasi dengan kembang api membuat penampilan PREP ditutup dengan gagah.

PREP yang penuh preparation

Sisa satu lagi jagoan Kampoeng Jazz 2017 ini, Trio Lestari! Siapa, sih, yang nggak tau super grup ini? Diisi oleh solois bersuara romantis Glenn Fredly, Tompi, dan Sandy Sondoro, Mereka benar-benar menyajikan pertunjukkan yang kece dan wangi banget kayak nama album mereka. Nggak sekedar bernyanyi, mereka juga ngobrol dan berinteraksi dengan penonton yang hadir dibumbui tentang kisah pribadi masing-masing anggota TRIO LESTARI yang semakin membuat suasana pukul 23.00 hangat dan bersahabat. Trio Lestari mengajak salah satu penonton bernama Balqis buat maju ke atas panggung. Membuat pengunjung perempuan lainnya cemburu, tapi nggak buta. Trio Lestari menutup penampilannya dengan menyanyikan secara mash up lagu Kisah Romantis, Menghujam Jantungku, dan Malam Biru.

Bahagianya saya, bahagianya pengunjung, bahagianya para artis, bahagianya BEM FH Unpad, karena tiket Kampoeng Jazz laku keras, dan pasti bahagianya Bandung hari itu. Sukses terus dan terima kasih, ditunggu Kampoeng Jazz ke- 10, 11, 12, 13 sampai 43.000.

Foto: Farhan Juanda

cih! Sepele~