Rumah Kultur: Walaupun Kolektif yang Penting Positif

Bermula dari sekelompok remaja yang sering nongkrong bareng di gang persimpangan Jalan Garuda dan rel kereta api, Rumah Kultur menyebut dirinya sebagai organisasi non-profit yang hanya memiliki modal sebuah visi untuk memanfaatkan ruang-ruang yang terkucilkan di Bandung. Dengan itu, mereka mulai membentuk microgigs kolektif, di mana minat masing-masing anggota digabungkan, karena musik adalah minat paling banyak yang digemari oleh barudaks.

Lahir pada tahun 2014,  Rumah Kultur mulai mengembangkan kultur musik di lingkungannya. Biasanya di acara yang digelar, banyak kaum muda membawakan musik ber-genre eksperimental, underground dan juga indie folk. Mulai dari situ itu, Rumah Kultur kini udah mengembangkan kultur seni dalam bentuk pameran, kultur budaya dalam bentuk mengadakan kelas perkusi setiap minggu, dan ke depannya berencana ingin mengembangkan kultur sastra seperti musikalisasi puisi.

“Kami memang ingin menjadikan Rumah Kultur sebagai sebuah wadah pengembangan juga,” ucap Latif, salah satu anggota RK saat menjelaskan rangkaian kegiatan mereka yang memiliki konteks yang luas. Makin lama makin seru aja, nih, inovasi baru terus. Setiap acara, baik pameran, talkshow atau microgigs semuanya dirancang secara kolektif oleh teman-teman Rumah Kultur yang memiliki minat yang sama. Tentunya yang berhubungan erat dengan kesenian. Sampai dana pun kolektif, jadi anti-sponsor, nih, kalaupun kekurangan dana kadang ya asikin aja jualan DIY patch, totebag, baju, dan lainnya.

rka3

Karena terbentuknya nggak direncanakan, rumah Digun yang awalnya hanya sekadar tempat nongkrong, menjadi ruang serbaguna. Kadang dipakai untuk kelas perkusi, latihan band, sampai penyelenggaraan acara pun kadang-kadang di sana. Pokoknya yang penting asik dan menyenangkan weh. Seringkali komunitas kolektif lain mengajak mereka berkolaborasi untuk membuat acara di luar lingkungan Rumah Kultur, itu nggak menjadi masalah, sekalian jalan-jalan juga kan bikin hepi. Hehe.

Rumah Kultur terinspirasi banyak dari komunitas kultur di Kota Yogyakarta. Menurut mereka, sih, Jogja memiliki ruang alternatif yang jumlahnya nggak sedikit. Banyak perkumpulan anak muda yang mengisi waktu luangnya dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat seperti berkarya dan berekspresi dalam bidang seni. Karena barudaks RK merasa memiliki minat yang berkaitan erat dengan konco-konco yang ada di Yogyakarta, RK jadi sering membentuk kolaborasi dengan komunitas-komunitas kultur di sana, sembari memperluas relasi teman di kota tetangga.

Salah satu kegiatan yang dibentuk Rumah Kultur adalah Sound of the Gang. Kegiatan ini digelar sebagai rasa prihatin mereka terhadap ruang-ruang di Bandung yang nggak digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi warga yang tinggal di sekitarnya, seperti yang terjadi di gang-gang perkampungan. Mereka melihat bahwa fungsi sebuah gang bisa lebih dari sekadar menjadi ruang sirkulasi pejalan kaki dan motor. “Ruang alternatif kayak di gang teh harus diberi warna,” ujar Digun, pemilik rumah dan co-founder RK. Setuju ya, guys? Sampai teman-teman kolektif asal Singapura dan Malaysia sempat hadir dan berbincang karena rasa ketertarikan mereka terhadap acara yang di buat oleh Rumah Kultur dalam gang itu.

rk4a

Selain itu, Rumah Kultur memang ingin mempererat hubungan antar warga sekitar gang Garuda ini. Rasa tanggung jawab untuk mempengaruhi warga, melibatkan mereka, dan juga memberi sebuah bentuk hiburan yang positif ingin diwujudkan untuk gang ini. Memang butuh pisan euy pemuda-pemuda yang inisiatif untuk memberi percikan warna ke ruang yang kurang diperhatikan seperti itu. Kumaha kalau memberi aku perhatian? Rumah Kultur bisa teu nyaaa~

Sebetulnya aku sangat nggak menyangka, sebuah gang bisa dialihfungsikan menjadi ruang kegiatan seperti ini. Malah tempat seperti Taman Musik yang dirancang oleh Kang Emil untuk menjadi tempat kegiatan berkesenian, khususnya seni musik, jarang digunakan sesuai tujuannya. Jadi heran. Hmm naha atuh nyaa~ menurut Rumah Kultur yang sering menyelenggarakan kegiatan berkesenian, Taman Musik dan mungkin ruang publik lainnya sangat pilih kasih untuk memberi izin penggunaan tempat, seringkali dipersulit. Aduh kacau nih kacau~

rk5a

Mungkin faktor lainnya adalah biaya pungutan yang kadang suka illegal, dan belum lagi menghadapi keadaan saat pemahaman antar pemberi izin dan seniman atau si penyelenggara kegiatan nggak sepandang. Taman Musik bisa dikatakan bukan comfort zone bagi Ruang Kultur yang lebih senang mengadakan microgigs yang menurut mereka lebih nyaman diadakan dengan skala yang kecil membuatnya jadi lebih intim. “Udah pokoknya jangan lupakan dangdut,” celetuk Herla, sebagai vokalis band Jaya Abadi yang sering berkontribusi dalam RK.

Musik dan kegiatan seperti ini tuh memacu orang yang datang ke acara RK lebih akrab dan diharapkan gara-gara ketemu di gang, eh jadi kenal, eh cinlok, eh nggak ketang. Rumah Kultur juga berharap dalam era perbaikan infrastruktur ini Kota Bandung lebih siap untuk menerima seniman muda dengan cara pandang yang luas dan kadang berbeda, tentunya dengan pembangunan gedung pertunjukan seni yang lebih fleksibel. Kang Emil atuh masa Bandung kalah sama Soreang yang udah punya Gedung Budaya Sabilulungan. Eh, Soreang termasuk wilayah Bandung bukan, sih? Yaudahlah.


Rumah Kultur

Jl. Garuda. Gg Tunggal No.4, Andir, Kota Bandung, Jawa Barat 40184

Informasi: rumahkultur04@gmail.com

Facebook: Rumah Kultur

Instagram: instagram.com/rumahkultur

 

Foto: dok. Rumah Kultur

gemar berimajinasi walaupun kadang lemot