ROI #15 – Pariwara

Menyambut hari pertelevisian dunia, ROI! yang selalu update, akan mengangkat tema tersebut sebagai tema bulan November. Lalu, tugas pertama saya sebagai penulis di bulan November ini adalah menulis tentang Pariwara! Ah ini mah mentang-mentang nama saya Bima Pariwara Utama geura. Lain ketang, Bima Prawira Utama nama saya mah.

Pariwara menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah [1] Iklan yang berupa berita (bukan gambar atau poster), reklame; [2] Pemberitahuan, misalnya dalam koran; pengumuman. Tapi, dalam bahasa sehari-hari, sepertinya pariwara sudah memiliki arti sebagai iklan, yang bentuknya nggak perlu berupa berita. Nah, karena berhubungan dengan iklan dan hari pertelevisian dunia, maka ambil jalan tengah aja deh, pariwara sebagai iklan di tv gitu deh.

Nah, bagaimana kita memaknai iklan di tv? Pertama: ganggu. Kadang, kalau lagi asyik nonton film, kita suka kesel gitu kan ya kalau tiba-tiba iklan? Jadi weh harus nungguin sampai iklannya beres, terus filmnya balik lagi. Kadang iklan teh bisa sampai 15 menitan gitu. Buang waktu lah, da kita mah nggak butuh nungguin iklan. Kasarnya mah gitu. Kedua: sumber informasi baru. Emang, sih, iklan teh kadang nyebelin, tapi ya kadang iklan juga ngasih kita informasi baru. Misalnya, mainan terbaru apa yang ada di restoran fast food kesukaan kita. Kan ada tuh yang suka ngoleksi mainannya. Ketiga: sebagai sarana promosi. Ini jelas, sih, tapi bukan dari kita, tapi dari produsen yang pakai jasa iklan itu untuk promosi barangnya. Ah ini mah jelas deng. Iklan mah buat promosi. Tapi di antara makna-makna itu, kadang ada satu yang kita lupa; makna iklan sebagai waktu untuk istirahat. Hah, maksudnya gimana tuh?

Seandainya kita angkat ke dunia nyata, anggaplah film adalah kehidupan kita. Iklan adalah jeda di antaranya. Iya. Tau kan salah satu padanan kata iklan dalam bahasa Inggris? Yes, commercial break. Break di sini maknanya adalah istirahat. Jadi, selama istirahat, kita disuguhkan pesan-pesan komersil. Kurang lebih kayak gitu deh padanan kata dalam bahasa Inggrisnya. Tapi ya, kita coba ambil break-nya aja di sini. Istirahat. Iyah, hidup itu butuh istirahat.

Salah satu keuntungan nonton di bioskop itu memang nggak ada iklan, seandainya ada ya di awal, jadi kita nonton film nggak keganggu-ganggu amat. Tapi, ada juga kadang masa-masa sebel, ketika kita harus ke kamar mandi misalnya. Atau ketika mata kita capek, dan kadang emang butuh merem. Tapi da gimana yah kalau di bioskop mah? Keluar dulu buat ke kamar mandi? Sayang udah bayar. Merem? Sayang udah bayar. Nah, itu jeleknya nggak ada iklan.

Sama kayak hidup. Mungkin kita kerja tiap hari, kita ngerasa enjoy. Kerja-kerja-kerja. Atau skripsi-skripsi-skripsi. Atau dalam kasus saya nesis-nesis-nesis. Tapi ya gitu, kadang ada masa-masanya kita nggak mau diganggu ketika kita sedang on fire. Biar cepet selesai mungkin maksudnya. Otak mikirnya gitu, tapi apa iya badan mikirnya gitu? Belum tentu. Badan pasti ada capeknya. Dan kadang kita lupa kita lelah. Ketika lelah, apa salahnya juga, sih, ambil momen sebentar untuk istirahat? Seenggaknya buat lurusin badan, rebonding otak yang udah keriting, atau sekadar gemeretekin jari yang udah mulai kena gejala rematik. Nikmati pariwara dulu deh, di tengah-tengah film.

Nah, ternyata iklan nggak jelek-jelek amat kan? Iya. Kadang hal yang kita pikir pasti buruk, adalah hal yang sebenarnya baik, yang bahkan sebenarnya kita butuhkan. Tapi ya gitu deh. Kita sering lupa. Lupa kalau kita manusia. Ada batasnya. Yang asik-asik emang enak, tapi nggak ada salahnya kan berhenti sebentar, ambil nafas, lupakan filmnya, baru sesudah rileks, tonton filmnya kembali. Sampai tuntas. Jangan keterusan iklan terus sampai lupa tujuan awalnya: nonton film (sampe abis).

Tapi lucunya, iklan ini walaupun penting, seringkali dilupain. Misalnya, inget nggak hari ini kamu nonton iklan apa aja?

 

Salam Tempel,

Bima Prawira

Terjebak dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Bisa berubah dengan kekuatan matahari. Itu baja hitam tapinya. Bukan saya. Saya mah apa, cuma suka nulis doang.