“Remember Me”, Ekspresi Keinginan untuk Dikenang sebagai Siapa

Sebagai manusia, kelak semuanya pasti akan mati. Eh, meninggal. Nah, tapi setelah meninggal, kira-kira apa yang akan ditinggalkan untuk mereka yang masih hidup? Nggak mungkin dong meninggalkan gading kayak gajah atau belang kayak harimau. Di pameran yang diselenggarakan oleh Erudio School of Art, Suar Artspace, dan Dattabot Dojo, kamu bisa melihat bagaimana semua pameris ingin dikenang ketika kelak mereka meninggal.

Temanya agak spooky ya. Tapi tenang aja, kamu nggak akan menemukan satu pun karya yang bikin kamu pengen buru-buru kabur. Duh, ketemu mantan kali ah pake kabur. Karya-karya yang dipamerkan di Remember Me ini adalah karya dari siswa-siswi dan alumni ESoA, serta karyawan Dattabot Dojo. FYI, Dattabot sebenarnya bergerak di bidang data analytics, tapi ternyata bisa juga tuh terlibat di kegiatan seni. Rata-rata karya seni yang dipamerkan adalah dalam bentuk gambar atau lukisan menggunakan bermacam-macam media. Selain karya seni, ada juga quote berisi keinginan masing-masing pameris untuk dikenang sebagai siapa. Ada yang ingin dikenang sebagai desainer sepeda motor, sebagai kaligrafer dan seniman, sebagai ibu, dan lain-lain. Rata-rata pameris di sini usianya masih 15 sampai 18 tahun, lho. Artsy pisan mereka mah.

Salah satu yang paling eye catching di pameran ini adalah adanya sebuah altar yang “merayakan” kematian CEO Dattabot, Regi Wahyu. Tenang aja, Regi Wahyu sendiri masih hidup kok, dan ikut wira-wiri di sini ketika pembukaan pameran di Dattabot Dojo, Sabtu (28/1) kemarin. Regi ingin menyampaikan pesan bahwa kematian juga bisa dirayakan dan yang terpenting adalah kita semua ingin dikenang sebagai siapa ketika nanti kita meninggal / mati. Regi sendiri ingin dikenang sebagai seorang salesman.

Nah, biar nggak terlalu spooky, di sinilah Suar Artspace bertindak sebagai kurator dan organizer sekaligus pencetus judul pameran ini. Lahirlah “Remember Me”. Altar kematian Regi nggak punya kesan gloomy sama sekali, malah sangat festive dengan warna-warni hiasan altar mulai dari bunga hingga lilin. Di altar juga ada foto-foto karyawan Dattabot Dojo yang semuanya masih hidup kok, tenang aja. Selain itu di samping altar juga ada sebuah kanvas yang digantung bertuliskan surat obituary Regi berjudul “Death of Salesman”.

Nggak cuma dari ESoA dan Dattabot, Suar Artspace juga mengajak seniman Lala Bohang untuk ikut andil dalam pameran ini. Karyanya sendiri merupakan karya instalasi yang interaktif dan ngajak semua pengunjung untuk ambil bagian. Di dalam sebuah ruangan kecil didominasi warna putih, balon-balon melayang dengan pita menggelantung, dan sebuah TV tabung jadul, pengunjung diajak untuk mengisi kuesioner tentang kematian impian mereka untuk kemudian dijepit di pita. Nanti akan dipilih 2 kuesioner terbaik untuk dibuatkan pemakaman impiannya. Tapi tentu aja ini fiksi ya. Repot atuh geus bikin pameran keren masih keneh nyiapin pemakaman kamu. Selain itu ada juga penampilan Dua Sejoli yang memutarkan lagu-lagu jazz tahun 50an sampai 80an yang rata-rata penyanyinya sudah meninggal, menggunakan DJ set dan piringan hitam.

Pameran Remember Me ini berlangsung dari 28 Januari 2017 sampai 5 Februari 2017. Gratis! Langsung aja datang ke Dattabot Dojo di Senopati, Jakarta Selatan. Sukses terus ESoA, Suar, Dattabot, dan Lala Bohang! Jangan lupa mengenang kami terus ya!


Instagram: @suarartspace | @erudioschoolofart | @dattabot | @lalabohang

Foto: dok. ROI! & Suar Artspace

Anaknya gampang dibahagiain kok, apalagi kalo diimamin.