“Rembug Remaja Indonesia”, Hadirkan Harapan bagi Para Remaja

Pada hari Minggu (23/4) yang lalu aku dipertemukan dengan 23 komunitas remaja yang memiliki concern terhadap potensi dan persoalan yang dihadapi remaja dalam lingkunganya dengan penuh semangat melintas Provinsi untuk hadir di Bandung sebagai peserta Rembug Remaja Indonesia (RR) yang diselengarakan pada akhir pekan kemarin (22-23 April 2017). Yayasan Kampus Halaman adalah organisasi nirlaba yang perlu diberi tepuk tangan sebagai penyelenggara acara ini. Kali ini berkolaborasi bersama Bandung Creative City Forum (BCCF), Rembug Remaja Indonesia membawa para remaja keliling Indonesia dalam kesempatan untuk saling bertukar pikiran dan mengikat jaring hubungan. Menarik kan, ya?

Persoalannya gini… Kadang masyarakat kita ini suka meragukan potensi yang dimiliki remaja. Seperti kakekku, kalau aku ngajak ngomong serius dikit mengenai politik misalnya, malah dibercandain. Mungkin aku yang udah lewat remaja dikit ini masih terlihat kurang wise dan nggak bisa serius. Eh, ternyata persoalan-persoalan yang dihadapi komunitas remaja ini jauh lebih rumit. Next level deh dibandingkan persoalanku dengan kakek.

Remaja-remaja pejuang ini berusaha untuk mendorong potensi dan harapan yang mereka miliki. Dengan harapan tersebut, mereka melawan permasalahan ataupun nasib yang dihadapinya. Hal-hal seperti difabilitas ataupun kemiskinan, mau itu sebuah musibah ataupun sebuah nasib, bagi mereka hak-hak orang lain haruslah terus diperjuangkan dan nggak boleh putus asa. Kalau dikasih quote, sih, kayak “nothing can stand in my way”. Kreativitas remaja untuk menggunakan media yang mereka produksi sendiri untuk menyampaikan ide dan sudut padang komunitas remaja tentang diri dan lingkungannya ke publik.

Seperti komunitas Belajar Qaryah Thayyibah dari kota Salatiga yang merupakan sekolah alternatif, yang menggunakan literasi sebagai media komunitasnya, mereka menemukan metode pendidikan kontekstual yang menarik dan edukatif. Hania, salah satu anggota komunitas ini juga sempat mengkritik sistem pendidikan Indonesia yang menggunakan UN sebagai parameter kecerdasan siswa. Dalam hatiku ‘aku setuju denganmu.’ Hehe. Menariknya lagi, aku diberi kesempatan untuk berbincang dengan Fakhry, seorang Remaja tunanetra dari IT Center For The Blind Jakarta. Fakhry menggunakan perangkat audio di Android-nya untuk membantunya melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Teknologi dan informasi merupakan media yang digunakan Fakhry dan teman-temannya sehingga mereka dapat melakukan sendiri kegiatan seperti jalan-jalan naik ojek online atau transportasi umum, membaca, dan kegiatan telekomunikasi lainnya.

Rangkaian acara Rembug Remaja Indonesia terdiri dari Bioskop Remaja, Panggung Remaja, Workshop dan Forum yang mendatangkan 2 narasumber. Pertama, Jatiwangi Art Factory yang membantu pengorganisasian untuk membangun konektivitas kemasyarakatan yang sesuai dengan lingkungan. Lalu ada Pijaru sebagai narasumber ke-2 dari Group of Digital Kompas yang menggunakan video kreatif untuk menyampaikan berbagai bahasan yang relatable dalam masyarakat. Dengan mengikuti rangkaian Rembug Remaja Indonesia, aku merasa kagum melihat potensi dan semangat para komunitas yang sedang membentuk rangkaian yang disebut sebagai Peta Jaringan dalam mencari cara dan solusi untuk permasalahan-permasalahan agar aktivitas yang dimiliki masing-masing komunitas tetap berjalan. Proses pengkaryaan ini memprioritaskan komunikasi dan kolaborasi melalui media.

Tapi yang menangkap perhatianku adalah hal lain; sikap mereka. Nostalgic. Memiliki etika yang berbeda daripada forum-forum lain yang pernah aku hadiri, seperti forum kampus ataupun forum pameran. Hal-hal yang disampaikan menggunakan cara yang ‘enak’ dan tanggapan yang tepat. Kondisinya sangat kondusif, namun sama sekali nggak menegangkan. Kegiatan diskusi berlangsung sambil ngemil-ngemil bahkan leha-leha dan sedikit bercanda-bercanda, tapi sama sekali nggak mengganggu kegiatan pokok, yaitu forum diskusi. Keaktifan para komunitas juga di dukung dengan sopan santun untuk mendahulukan satu sama lainnya.

Melalui Rembug Remaja Indonesia, makin terlihat jelas kalau masyarakat di sekitar kita ini belum menganggap potensi, harapan atau mimpi sebagai hal yang lazim dan argumentatif untuk memperjuangkan sesuatu. Malah cenderung takut dengan adanya perubahan. Padahal, memanfaatkan potensi, harapan dan mimpi dengan metode yang kontekstual dapat menjadi bensin sebagai penggerak untuk maju ke arah yang lebih baik. Cie. Tapi ya, sering kali kita ingin diam di zona aman, dengan hidup yang jadinya gitu-gitu lagi deh. Nggak tau karena nggak ada keinginan atau usaha untuk maju, seperti bertanya “kenapa?”. Seakan-akan kita hanya bisa menerima nasib dan menjalani kehidupan yang sudah orang lain lalui sebelumnya.


Foto: dok. ROI! & dok. Yayasan Kampung Halaman

gemar berimajinasi walaupun kadang lemot