“Refresh”, Revolusi KKBM UNPAR yang Tentunya Menyegarkan

Kemarin, tepatnya hari Jumat (12/11), dengan tergesa-gesa karena sudah pukul 5 sore, aku menuju Co-op Space yang terletak di titik paling utara Universitas Katolik Parahyangan. Di mana sedang berlangsung acara Refresh dari pukul 2 siang yang diselenggarakan oleh Keluarga Koperasi Bersama Mahasiswa (KKBM) Unpar. Seperti tombol refresh di komputer, acara ini ingin menghilangkan lek-lekan yang terjadi dalam KKBM sendiri agar kembali lagi dengan penampilan yang tambah gerseh alias segerrr. Dari peluncuran wordpress barunya, kkbmunpar.wordpress.com dan peninggalan logo jadul demi terlahirnya logo baru yang katanya berkonsep minimalis, bisa dibilang ini salah satu bentuk revolusi mereka. Rangkaian acara ini terdiri dari penampilan beberapa band, pemutaran film, diskusi, dan juga musikalisasi puisi.

Pasti pada bingung juga kenapa harus buru-buru tadi, da padahal mah acara kampus kecil-kecilan gini kan, santai aja kels~ Sebenernya, alasan kenapa aku tergesah-gesah adalah karena salah satu pembicara diskusi mengenai “Koperasi sebagai sistem alternatif dalam membangun bisnis kreatif” adalah dosen mata kuliah kewarganegaraanku semester ini, Mr. Andreas Doweng. Aku jujur sangat mengagumi dosen ini, walaupun beberapa mahasiswa nggak. Beliau mulai dengan menginterpretasikan bahwa koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang demi kepentingan bersama, berarti terbentuk oleh anggota dan untuk anggota. Bangun bareng-bareng, jatuh gubrak bareng- bareng, sampai tersesat dalam labirin pun bareng-bareng dong~ Lalu menjelaskan tentang esensi koperasi itu sendiri dan nilai esensial di dalamnya, seperti kejujuran transparansi dan kekeluargaan yang juga mencerminkan Indonesia sebagai negara demokrasi, tapi sistem kerjanya juga harus mengikuti perkembangan zaman. Setuju banget, Pak! Hehe.

2016-11-13-12-04-32-1-1024x768

Bagian paling menarik dalam diskusi ini adalah saat Mr. Andreas Doweng menceritakan pengalamannya di Indramayu, di mana organisasi koperasi Milenia Credit Union, yang beliau dan 1000 anggota lainnya miliki, membantu perkampungan nelayan di sana untuk mengolah keuangan mereka melalui koperasi. Hal yang mengejutkan dari pengalaman ini adalah koperasi Milenia nggak menggunakan istilah “koperasi” dan memilih untuk menopengkan istilah tersebut dengan sebutan lain. Mengapa? Karena image koperasi yang kuno dan nggak meyakinkan itu. Langsung pada bingung, mana bisa koperasi nggak meyakinkan, toh ini oleh kita dan untuk kita… Ya kadang di dunia ini beneran ada Villans, nggak cuman ada di film-film doang kok~ yang bilangnya punya niatan baik seperti koperasi Milenia, eh ternyata malah bawa kabur uangnya. Wah kurang ajar. Orang-orang yang begitu tuh, nih, yang bikin image “koperasi” dicap jadi sistem yang nggak mulia.

Dinas Koperasi Kota Bandung mengelaborasikan lebih lanjut penjelasan Mr. Andreas, yang setuju bahwa kata “koperasi” tuh istilah yang sangat kuno. Ya aku aja denger kata itu langsung kepikiran “Ohh, Koperasi tuh yang suka jual ciki-ciki pas SMA tapi kurang laku soalnya di kantin juga ada ya?” Pokoknya teh emang alternatif pisan~. Ternyata koperasi sekarang udah jauh lebih maju, contohnya, KKBM pun punya label yang memproduksi album Banda Neira. (maklum kagum karena baru tahu hehe~). Lanjut! Dalam kerangka sejarah, Indonesia pun nggak lepas dari sistem organisasi yang kita sebut dengan “koperasi” karena selalu ditekankan oleh Bung Karno betapa pentingnya koperasi dalam mengatasi masalah negara, seperti kesenjangan sosial. Dengan memaparkan contoh-contoh perusahaan besar seperti Ace Hardware, Campina, dan Sunkist yang ternyata pada dasarnya menerapkan sistem koperasi. Jadi sebenernya sistem Koperasi ini sangat efektif untuk membangun bisnis.

2016-11-13-12-04-30-1-1024x768

Lalu ada pembicara paling bungsu, yaitu Sutansyah Marahakim, salah satu founder Kolaborasi.co. Dari tiga pembicara di sana, Mr. Sutansyah ini sosok yang terlihat paling muda dari gaya penampilannya. Menggunakan kaca mata ber-frame besar, dan gimmick-nya yang sesekali saat berbicara melirik ke pacarnya yang duduk di salah satu kursi penonton, keliatan banget karakteristik flexible dalam jiwa mudanya.

Saat pembicara lain berbicara, dia sibuk mengamati sistem koperasi itu sendiri, yang aku yakin dia juga sebenernya masih bingung sama sistem kuno ini. Akhirnya saat gilirannya berbicara pengakuan tersebut beliau ungkapkan. Sebagai owner dari Kolaborasi.co, “inkubator” adalah istilah yang Mr. Sutansyah gunakan untuk menganalogikan sistem kerja organisasi yang ada di Kolaborasi.co. Analogi inkubator digunakan, karena di sana bukanlah pemodal bagi perusahaan start-up, tapi mereka memberi wadah persiapan, semacam konsultan agar ke depannya bisa mandiri. Diskusi ini membuat Mr. Sutansyah jadi tertarik untuk mengubah sistem kerja kolaborasi.co jadi koperasi, walaupun menurutnya sedikit sulit karena pasti akan ada sebuah kesenjangan ilmu dan modal.

Pesan paling nempel hingga sampai di rumah adalah ungkapan Mr. Sutansyah, “Lets be the Hero”, kalau bukan kita yang memulai ya siapa? Mau patunggu-tunggu, ya, kapan majunya? Kalau kita udah tau kegunaan dan manfaat koperasi, kenapa nggak ditanamkan nilai-nilainya dalam berbisnis dan mengembangkannya dengan eksistensi yang kontekstual. Ya, asal niatanmu jangan menyimpang, sampai jadi Hero-Heroan padahal teh Villain.

gemar berimajinasi walaupun kadang lemot