“Record Store Day”, Adaptasi Budaya Luar yang Masih Biasa-Biasa Saja

Padahal di bulan April ini banyak hari-hari yang lebih menarik, tapi nggak tau kenapa Panduan malah nyuruh saya bikin tulisan mengenai Record Store Day. Nggak maksud untuk bilang hari itu nggak menarik, cuma, ya gitu deh. Sebuah peringatan untuk mereka yang terlibat dalam memasarkan bentuk fisik dari kumpulan lagu-lagu yang langsung di-rip ke dalam masing-masing device pribadi yang menikmatinya. Saya yakin kok, saya nggak sendirian, udah nggak keren juga bawa discman ke mana-mana.

Menurut website resmi Record Store Day, penggagasan pertamanya terjadi di tahun 2007 dengan harapan untuk jadi ajang silaturahmi buat toko-toko musik indie di Amerika Serikat kebanyakan, sekaligus merayakan yang bisa dibilang sebagai budaya unik. Mungkin, sih, kayak ngasih semangat ke masing-masing teman seperjawatan buat tetap teguh untuk menjalankan bisnis tersebut. Tau sendiri lah, di zaman modern ini semuanya serba digital, jadi wajar untuk panik. Akhirnya, kegiatan kopi darat ini terselenggara pada 19 April 2008 di tempat yang saya nggak tau persisnya, dan seterusnya hampir selalu diselenggarakan di setiap minggu ke-3 di bulan April.

Pada tahun ini, Record Store Day serempak digelar di hari Sabtu (16/4) mendatang, di setiap negara yang ikut serta, termasuk Indonesia. Nggak tau kapan pertama kali Indonesia ikut merayakannya tapi saya pertama kali datang ke perhelatannya itu di IFI Bandung, di tahun 2014. Pada saat itu juga saya baru ngerti adaptasi budaya luar di Indonesia itu kayak gimana. Sekali lagi saya bilang, ya, gitu deh. Semangat komunitasnya, sih, bagus banget, tapi kok kayak cuma komunitas sendiri aja, yang sengaja dipecah jadi banyak pada event itu aja. Apalagi, kalau dibilang untuk menjadi bazaar, ya, harga yang ditawarkan malah bisa jadi lebih mahal daripada yang di toko. Kenapa nggak dibikin lelang aja, kalau gitu, ya? Teuing ah.

Semenjak dari situ, hasrat kebendaan untuk memiliki rilisan fisik makin meningkat, baik lokal maupun internasional, dari format kaset dan vinyl yang dulu sempat ditinggalkan, sekarang jadi hal yang lumrah untuk dimiliki. Untuk CD, ya, sama aja lah, karena produksinya murah jadi tetap ada. Sekarang, di Indonesia ke-hype-an Record Store Day nggak cuma datang dari yang punya toko aja, para penggiat dan penyalur rilisan-rilisan juga ikut antusias untuk ikut serta di dalamnya. Seolah berlomba-lomba untuk mengeluarkan atau menjual hasil karya mereka di dalam hari itu. Nggak semua memang mendapatkan ekspektasi yang dibayangkan, tapi seenggaknya bisa digunakan menjadi ajang promosi dan menjadi event sakral buat mereka yang menangguhkan semua di dalamnya.

Apakah makna dari Record Store Day yang sebenarnya itu udah melenceng dari pakemnya, saya nggak tau, ya, tapi untuk menjadi ajang unjuk gigi, sih, sah-sah aja. Lagipula karena event tersebut, sekarang kebanyakan orang lebih senang untuk mempunyai rilisan fisik ketimbang nyari file mentahnya di 4shared kayak waktu dulu. Semangatnya harus tetap didukung dan hasratnya nggak boleh dilarang, karena yang bisa melarang itu cuma Agama dan orang tua, selebihnya pasti dilawan. Mudah-mudahan di tahun ini saya bisa antusias dan menikmati Record Store Day, dan nggak perlu merasa minder karena mamah nggak kasih uang lebih.

 

Kecup sayang,

 

Managing Editor

Ichsan ‘Spaceboy’ Ramadhan

*Tom & Jerry’s Opening Score*