“Product Design Awards 7: Eye of Design”, Meneropong Produk-Produk Kreatif

Meskipun sibuk kayak lebah pekerja, aku tetap menyelipkan waktu untuk refreshing di akhir pekan, Sabtu (26/11) kemarin. Maka dari itu, aku datang ke Galeri Yuliansyah Akbar a.k.a. Urbane, di mana sedang ada Product Design Awards ke-7 yang udah digelar dari tanggal 22 November 2016. Product Design Awards ini adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Desain Produk ITENAS yang tahun ini mengangkat tema Eye of Design. Awards ini bermaksud untuk mengapresiasi kerja keras mahasiswa, dosen, dan seluruh keluarga besar Desain Produk ITENAS. Dari mahasiswa studio tingkat awal sampai tingkat akhir, ada pula karya mahasiswa kerja profesi, karya brand mahasiswa dan alumni-alumni, pokoknya yang termasuk keluarga weh.

Karya yang dipamerkan, (idih sombong pamer-pamer) merupakan produk yang diolah secara eksperimental dari permainan material yang sangat beragam, dari kulit, logam timah, kain, tanah liat, rotan, kayu sampai tulang. Proses pengolahannya mayoritas merupakan kerajinan tangan, ada beberapa yang menggunakan bantuan tukang, hanya proses perangkaian tetap dilakukan oleh pemilik design.

watermark2
Yang bikin menarik adalah, karya-karya ini dapat digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, lho. Selain aksesoris buat para ibu-ibu yang suka bepergian, yang suka ngerasa asa ada yang kurang kalau nggak pake, barang seperti sepedah, furnitur, lemari, tas, sepatu juga ada. Sagala rupa aya lah, tapi buat aku, yang quirky-nya Bandung Juara banget adalah produk penyuir ayam manual dengan menunggunakan sistem engsel yang dinamakan AWFEE by Adjie Prasetyo, jam tangan dari tulang sapi, Mesthi by Aldo Geva, dan charm kalung yang dicetak dengan serpihan uang. Wawiw. Kalau tawar-menawar harga kalung yang satu ini, inget aja ya, yang warna merah ke-pink-pink-an itu dalemnya aja udah ada serpihan mukanya Soekarno dan Hatta, bung. Kalau beneran ada awards-nya, kata aku, sih, mereka patut menang. Hehe. But who am I to judge, kan, ya?

watermark2
Selain pameran karya, ada workshop bersama Labtek Indie yang memberi hack-hack berfikir dalam proses mendesain, ya, semacam tips mengencerkan otak agar nggak stres mungkin? Heum. Sok tau. Ada beberapa talkshow sebenarnya, di antaranya dari Aditya Saputros dari Alpha Lab, dari Fablab dan juga dari Ahmad Mufid Sururi, seorang pengrajin jenis kertas Daluang yang katanya cuman diproduksi di Indonesia. Sayangnya, aku harus cepat kembali ke tugas-menugas yang menunggu di rumah jadi nggak sempet hadir pada talkshow Mr. Sururi, yang terdengar sangat cucok. Pada hari terakhir Product Design Awards 7, sebagai penutup rangkaian acara 5 hari ini sebelumnya dimeriahkan penampilan live music dari Orkes Keluarga Berencana, Fabuan Winandi, Rupa Bumi, Kabutas, Adem Sari, dan Candies Animal  yang bikin acaranya makin lengkap, kap, kap.

Tentunya refreshing ke Product Design Awards 7 selain menghibur diri, juga menstimulasi kekreativitasan berfikir. Karya- karya yang dipajang tentu contoh dari quotesthink outside the box”. Makasih Product Designt Awards 7, semoga tahun depan kembali dengan inovasi yang makin wawaw dan wawiw.

gemar berimajinasi walaupun kadang lemot