PMKT XXI: Pasar Malam yang Terdisintegrasi

Cik, ngacung siapa yang nggak tau PMKT? Wah parah, sih, udah 21 kali diselenggarain masih nggak tau, yakin warga Bandung? Hahaha, teu ketang. Pasar Malam Kampus Tiga (PMKT) kembali diselenggarakan pada Sabtu (13/5) lalu di area PPAG UNPAR. Acara yang dicetus oleh Mahasiswa FISIP UNPAR ini berlangsung cukup padukdek, eh naon ateuh.

Mengusung tema Land of Dreams, PMKT kali ini menghadirkan penampilan special dari The Fox and The Thieves, Tigapagi, dan pertunjukan paling ditunggu-tunggu yakni Kabaret! Nggak lupa menghadirkan wahana seperti bianglala, kora-kora, dan rumah hantu yang menjadi “esensi” dari pasar malam itu sendiri. Sebagai kampus hipster nan artsy, PMKT juga menghadikan banyak band kurasi lokalan kampus seperti Big Mac, Dig Bick, Different Kind of Brat, dan masih banyak lagi.

Publikasi yang terkesan ceria ini bikin aku semangat dateng ke acaranya. Namun ini mah menurut aku pribadi ya, karena keterbatasan lahan jadinya aktivasinya terpisah-pisah. Ketika masuk yang terlihat hanyalah tenant makanan dan stage, sementara wahana terletak di lapangan parkir yang cukup jauh dari “sumber suara dan cahaya”. Sebenernya bukan karena capek jalan, cuman jadi kayak ada acara lain aja gitu, sih. Jadi nggak ngariung. Area mini games juga nggak terlihat kondusif dengan tanpa kejelasan mapping dan flow acara. Sayang banget nih, padahal bisa lebih baik!

Dari segi pengisi acara dirasa cukup pas dengan tema. Menghadirkan band yang “dreamy” macam Tigapagi sudah sangat cocok, apalagi aku belum pernah nonton Tigapagi secara live. Aku bungah. Hehehehe. Kabaret yang menjadi daya tarik utama PMKT juga tampil dengan sangat baik, menceritakan tentang teman imajinasi yang dibuang ke panti asuhan ketika anak kecil tersebut sudah dewasa. Namun sayangnya dari segi alur cerita jatuhnya lebih melankolis dan sedih ketimbang lucu. Apa mungkin karena aku baper aja kali ya? Huhuhuhu Momo si teman imajinasiku apa kabar ya? 🙁

Pemilihan letak panggung di lapangan PPAG bisa menjadi nilai plus atau minus, sih. Soalnya area sekitaran panggung terasa lebih lowong karena banyak yang nonton dari lantai 2 dan lantai 3. Edan, ayeuna mah aya kelas tribunna euy! Jadi, kalau menurutku PMKT XXI: Land of Dreams ini secara keseluruhan bisa dibilang rapih dalam mengeksekusi acara, meskipun terasa disintegrasi dalam mapping lokasi. Semoga saja tahun depan lebih terasa gemerlap pasar malamnya kayak yang ada di desaku ya!

Foto: Haruka Fauzia