Pembangunan Kota yang Entahlah Maksudnya

Saya baru sadar kalau bangun-membangun ini tugas kita semua sebagai warga negara. Bukan cuma tugas orang tua aja ketika anak-anaknya harus bersekolah di pagi hari. Da orang tua teh alarm. Urusan bangun-membangun, saya jadi kepikiran soal pembangunan yang lagi rame-ramenya tersebar di beberapa titik di Kota Bandung ini.

Saya merasa ada yang ganjil mengenai pembangunan kota yang juga mencakup perbaikan dan pembaruan sarana dan prasarana ini, karena kalau boleh peka sedikit, pembangunannya ini dilakukan secara serentak dan terkesan merugikan warganya. Ya meskipun tentu yang namanya korban-pengorbanan harus ada agar tujuannya tercapai. Tapi apa benar ini untuk warga Bandung?

Mari ngobrolin soal pembangunan, terutama di Bandung. Diawali dengan rencana Bandung Teknopolis di kawasan Gedebage, yang kalau nggak salah dimulai di tahun 2015. Kata Tekno yang berasal dari kata Technology ini memiliki definisi pengaplikasian sains terhadap industri, sedangkan Polis memiliki arti negara atau kota. Kalau digabung jadinya Kota Industrialis dengan angan-angan seperti Silicon Valley, tapi kata “industri” yang sering kita ketahui mengacu kepada “pabrik”, di mana pembangunannya sembarang dan suka merugikan warga sekitar. Bukankah seharusnya pembangunan ini diperuntukkan untuk para warga agar dapat berkembang bersama? Ya, nggak tau deh buat siapa.

Lagipula Gedebage yang seharusnya menjadi kawasan percontohan industrialis malah tetap aja kena banjir, meskipun Pemkot udah bantu lewat Tol Air tapi tetap belum bisa menyelesaikan secara tuntas permasalahan banjir ini. Terus, Pasteur, Pagarsih, dan yang terbaru daerah Stasiun Bandung jadi ikutan nyontoh. Apalagi di daerah Gedebage situ sangat kekurangan Ruang Hijau Terbuka yang bisa juga jadi alternatif untuk serap air ke tanah. Meskipun di pinggiran pabrik masih ada sawah yang lapang. Kawasan industri ini harusnya bisa jadi awal perubahan dari kemajuan, tapi malah nggak ada yang berubah. Padahal nggak ada gerak-gerik pembangunan di sana. Bingung.

Yang agak lama datang dari pembuatan Fly Over sepanjang yang nggak panjang banget di perempatan Jalan Ibrahim Adjie-Jalan Ters. Jakarta-Jalan Jakarta. Sebenarnya niatannya baik, buat mengurangi kemacetan di titik tersebut, karena kalau udah rush hour rudet weh ningalna. Meskipun masih banyak solusi lain yang seharusnya bisa dilakukan sebelum membangun tiang penyangga selain untuk mencari jalan alternatif sendiri. Tapi bukan itu, sih, yang bikin bingung teh, tapi kenapa, sih, pengerjaannya harus sama dengan restorasi trotoar di Jalan Ibrahim Adjie dan perbaikan gorong-gorong dan jalan di Kiaracondong? Padahal urgensinya masih bisa ditunggu sebentar. Terus jadi bikin asumsi kalau ada yang diburu-buru dari hal itu. Ya nggak tau apa, orang nggak pernah cerita yang punya kuasa.

Selanjutnya yang paling baru ini ada pembangunan Skywalk di Cihampelas. Pembangunan ini buat saya punya sistem terbaik, karena proses kerjanya yang cepat. Katanya bakal selesai di tanggal 26 Desember 2016. Terus Pemkot juga menutup akses jalan ketika sebentar lagi menuju tengah malam hingga subuh. Meskipun saya nggak tau gunanya buat memperindah citra Kota Bandung bagi para turis atau memang mementingkan pejalan kaki. Padahal kalau mementingkan pejalan kaki, bisa aja PKL direlokasi dan bangunan toko yang nggak menyediakan trotoar harus direnovasi lagi, tapi, ya, yang dipilih pembangunan yang dapat membangun image kepada orang-orang atau pemerintah luar Bandung. Biar diliat gitu kesannya mah.

Yang saya perhatiin, sih, pembangunan untuk citra Kota Bandung ini lebih banyak dikerjain di tempat-tempat yang banyak dipenuhi turis domestik maupun mancanegara, baik karena belanja atau nilai historisnya. Sebaliknya, daerah Kota Bandung pinggiran seakan jadi pilihan opsional untuk dipercantik. Mungkin karena adanya batas wilayah antara kota dan kabupaten yang membingungkan jadi rudet buat ngurusnya atau memang itulah wajah sebuah kota, depannya cantik belakangnya papuket. Bisa juga sebenarnya udah ada niat, cuma ada kepentingan yang berlebih dari pihak-pihak tertentu, makanya titik tengah kota harus terus menerus dipoles tiap menitnya.

Pembangunan yang sedang dikerjakan ini semoga memberi hasil yang memuaskan. Nggak cuma buat pihak pengembang dan Pemkot karena sistem tender, tapi buat warga lokalnya sendiri. Karena cintanya terhadap rumah sendiri nggak akan pernah bisa tertandingi.

Kecup sayang,

Managing Editor

Ichsan ‘Spaceboy’ Ramadhan

Foto: Chiko Caesar

*Tom & Jerry’s Opening Score*