Oscar Lolang: Berbagi Cerita tentang Sekitar melalui Musik Folk

Assalamualaikum warga kreatif. Jawab yah, wajib, lho, hukumnya. Mayan nambahin pahala, daripada nambahin beban orang tua. Jelas ih. Jadi beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk bincang hangat penuh bobot dengan salah satu musisi folk KotKem (Kota Kembang) yang bisa dibilang harus diwaspadai keberadaannya. Tubuh kurus, rambut gondrong serta kurang fasih dalam pelafalan huruf “R” menjadi sambutan pertama yang saya dapat dari seorang Oscar Lolang secara langsung, setelah sekian kali chat buat minta do’i sudi dan rela saya interogasi tentang diri dan cita rasa musiknya yang patut diwaspadai.

Tiba di salah satu rumah di bilangan Jalaprang, tepatnya di kantor manajemennya Oscar Lolang, yaitu Microgram Ent. Tiba dengan rasa ingin tahu yang mendalam, sempat kebingunan mencari di mana tempat untuk menginterogasi pelantun Eastern Man, akhirnya saya, Oscar dan Dwi selaku manager-nya dapet space juga buat ngobrol dan sedikit gosip tentang musik Bandung. Mainkan~


Hai Oscar si Eastern Man… Anjayyy.

Oscar & Dwi: Hahahahahahahaha.

Kamu tuh, kuliah angkatan berapa, sih? Ngambil trayek jurusan mana, nih?

Oscar: Angkatan 2012, Unpad Jurusan Antropologi.

Te Te El-nya?

Oscar: Jakarta, 2 Juli 1993.

Tuaan kamu yah berarti, aku Oktober 1993. Nggak penting yah? Fufufu.

Oscar: Iya sedikit. Hehehe, dan mungkin Ayub juga udah lulus kuliah.

Jelas dong udah!!!

Oscar: Ok. Next question

Baiklah, Oscar Lolang si Folk Humanis…. Anjaaayyy.

Oscar & Dwi: Hahahahahaha.

Oscar: Sialan lu.

Sebenernya cita-cita Oscar teh mau jadi apa, sih?

Oscar: Sebenernya, cita-cita saya mah berkiprah di dunia seni.

Seni yang seperti apa? Kan seni teh luas.

Oscar: Terutama di film, sih, kalau aku.

Karena ada background keluarga juga ya? Ngaku lu!

Os : Dih. Kok tau. Hahahaha.

Yeh sepele, ROI! dilawan~ Ayah kamu cinematographer, Ibu produser. Betul?

Oscar: Bener sekali.

Pirtinyiinnyi, kenapa bisa “nyangsang” dulu di musik?

Oscar: Hmmm, sebenarnya musik itu hobi kan, awalnya cuma main aja. Sampai suatu ketika temen bilang “ayo Car, nge-push lah, serius lah”.

Berarti panjang juga dong sepak terjang nan takrawnya Oscar di dunia musik ini teh? Mungkin ada beberapa fase kali ya?

Oscar: He’eh lumayan. Dari awal SD udah ikutan ekskul band, terus SMP-SMA bikin band juga…

Pas SMP itu, udah nyanyi juga?

Oscar: Dikit, dulu SMP megang gitar. Nyanyi juga gitu, nyanyinya clean hahaha. Paham kan?

Waktu itu Oscar and the band, mainin folk juga? Apa mainin uang jajan dari orang tua?

Oscar: Hahah nggak. Dulu kita mainin screamo sama punk. Cuma ya gitu, dulu kita mikirnya kayak yang serius, padahal gitu aja band teh. Nggak serius-serius banget. Terus bubar. Huft.

Terus, setelah sekian lama kenapa bisa jadi Oscar Lolang yang sekarang?

Oscar: Yaaa, awalnya dulu aku dan kawanku yang satu kost-an di Jatinangor, sering banget gogonjrengan. Sering diajak ke acara kampus, acara diskusi, ada yang ngelapak zine. Nah dari situ ada temen yang nyuruh nge-push tea mulai dari bikin lagu. Eh tapi, karena satu dan lain hal bubar. Hahaha.

Akhirnya Oscar memutuskan untuk ber-solo karier saja? Dari kapan tuh?

Oscar: Bersolo karier kira-kira mulai dari 2015, sekitar bulan Mei. Waktu itu temen se-band aku, dia kerja. Terus aku iseng bikin lagu sendiri, direkam terus iseng diunggah ke Souncloud yang Fight My Thoughts. Mungkin di sana trigger-nya, sebelum akhirnya di akhir 2015 mau masuk 2016, ada kawanku, dia buka studio rekaman dan nawarin buat rekaman, tapi harus ngirimin demo ke dia. Aku kirim 2 lagu, eh ternyata dia suka dan ternyata dia punya record label, Karma Records namanya. Itu mungkin jadi tonggak ke-2 dan lahirnya Eastern Man sebagai single pertama.

Ebusset, mayan juga lau. Terus Oscar Lolang ini, nama panggung apa nama asli, sih?

Oscar: Nama asli dong.

Ah bercanda…

Oscar: Serius, Oscar Majid Lolang nama lengkapku.

Baiklah, kalau emang nggak mau ngaku haha. Terus gimana perasaan engkau setelah menjadi Oscar Lolang yang seperti saat ini?

Oscar: Ya seneng, kan motivasi aku bermusik juga sharing karyaku. Kalau karyaku bisa dinikmati lebih luas, ya bahagia. Paling sekarang problem-nya agak keteteran karena ada kuliah dan kegiatan lain, tapi tetep dijalanin dengan happy dan fun.

Kalau disuruh milih kuliah atau bermusik, mending mana? Hayo, leug siah.

Oscar: Ah sial, ditanyain kan. Hahaha. Ya, kalau sekarang bermusik, sih, sambil kuliah. Hahahaha.

Ya, oke deh ngelesnya. Hahaha. 12 Maret 2017 kemarin ini kan baru rilis EP nih yah, si Epilogue…

Oscar: Tepatnya mini album lah, di Jakarta, Maret kemaren.

Kenapa mesti di Jakarta? Apa karena Karma Records juga di sana?

Oscar: Nah salah satunya mungkin itu, selain itu kenapa memilih Jakarta, ya karena Epilogue ini kan menceritakan tentang lingkungan aku yang kebanyakan dihabiskan di Jakarta dan Tangerang Selatan. Jadi kurasa cocok aja kalau digelarnya di Jakarta.

Buat Oscar sendiri, secara musik, scene Bandung dan scene Jakarta, bagusan mana emang? Jujur yah.

Oscar: Hahaha. Mesti Bandung-Jakarta banget, nih? Ada opsi lain nggak?

Oh jelas, kalau Bandung-Santiago Bernabeu, kejauhan.

Oscar: Oke lah. Aku sebenernya sering ngobrolin ini sama teman-teman. Kalau dari segi produktivitas musik, saat ini Jakarta, sih. Dari produktivitas bandnya, lagunya, acara-acara musik yang vital banyaknya di Jakarta. Emang kekuatannya juga, sih, Jakarta sebagai capital-nya negara ini. Bandung juga bagus, tapi mungkin nggak semenggeliat dulu.

Tapi kan, orang ada yang beranggapan iklim Bandung ini cocok buat nikmatin musik terlebih genre folk sendiri.

Os: Kalau aku sebenernya nggak setuju. Ya memang mungkin, cocoknya karena Bandung punya ruang publik kayak taman-taman, yang cocok dengan folk yang bertemakan alam.

Sedangkan Oscar sendiri kan, folk humanis, nih. Hahahaha.

Dwi: Hahahaha.

Oscar: ……………………………….

Ya, anggaplah ada yang beropini seperti itu.

Oscar: Ya, kalau aku sendiri nggak tau, ada yang bilang Oscar folk humanis atau sang penyelamat folk. Ya kalau ada yang berterima kasih, at least nambah satu dimensi lagi buat aku sendiri. Tapi aku pribadi nggak pernah mengarahkan ke sana, karena laguku sendiri pure dari sekitaranku sendiri.

Oke, oke, sekarang ngomongin anakmu yang namanya Eastern Man. Apa yang Oscar pikirin waktu bikin part yang ada dialek Papua itu, sih? Yang sa pu mama mati karena tentara dan seterusnya.

Oscar: Sebenernya aku nggak pede sama part itu. Bahkan kalau jujur-jujuran, sebenernya aku lebih pede sama The Way She Does Things daripada si Eastern Man ini. Tapi kenapa bisa ada part dialek itu, aku ngerasa kosong aja kalau gitu aja, dan aku bikinlah part bahasa Indonesia. Mau bikin statement. Aku juga kadang suka takut. Hahaha. Yaudah lah bikin lirik Bahasa Indonesia aja.

Tapi keren kok.

Oscar: Cie Ayub.

Cie Oscar. Seorang Oscar Lolang pertama kali nonton konser kapan? Bayarnya gimana? How do you feel? Alah.

Oscar: Kalau pertama banget, 2006, itu aku nonton Avenged Sevenfold sama temen-temen berlima. Perasaannya seneng banget, karena waktu itu kita nonton di tribun tapi kita moshing. Jadi keren aja gitu.

Sekarang kayaknya udah nggak ada yang nyempetin moshing walaupun di tribun sekalipun yah. Kalau lagu pertama yang didengerin apa? Inget nggak? Tapi ya jangan lagu anak-anak. Misalnya lagu Jamrud gitu hahaha.

Oscar & Dwi: Hahaha, kenapa mesti lagu Jamrud?  Keren, keren.

Oscar: Mungkin aku ingetnya lagu atau album yang pertama kali aku purchase, tapi bukan artian aku beli yah, waktu itu tahun 1999, aku denger di mobil tuh ada Tik Band sama Pas Band. Terbaik untukmu pokoknya. Hahaha.

Next. Kalau dikasih kesempatan ketemu Bob Dylan 15 menit aja. Apa yang kamu bakal lakuin?

Oscar: Bob Dylan 15 menit sama Nick Drake 15 menit, yah?

Ditawar dong, oke lah.

Oscar: Kalau Dylan, sih, aku nangis dan berterima kasih disambilin sama ngobrol-ngobrol. Kalau Nick Drake aku tanyain, kenapa bisa bikin materinya kayak gitu. Kok bisa ada orang yang otaknya kayak Nick Drake.

Oscar Lolang! Vira Talisa atau Christabel Annora?

Oscar: Vira, buat aku Vira lagunya lebih genuine untuk aku dan aku menemukan beberapa kesamaan sama Vira.

Naik Damri atau Angkot?

Oscar: Damri!

Musik atau Film?

Oscar: Dua-duanya!

Pilih salah satu woy! Porsinya deh, gedean mana?

Oscar: Musik, tapi aku bercita-cita pengen di film.

Lagu kamar mandi favoritmu apa aja, Car?

Oscar: Ada 2, lagu folk Hindia Belanda judulnya Halo Bandung, tapi bukan yang Halo Halo Bandung, sama lagu folk Rusia judulnya Rodina. Kan kalau di kamar mandi suaranya bergema tuh, jadi asa keren weh kalau nyanyiin lagu Rodina. Asa gagah. Hahaha.

Hal atau ritual yang biasa dilakuin sebelum manggung apa aja, nih? Selain berdoa. Ya, kalau berdoa itu juga. Hahahaha.

Oscar: Hahaha. Aku biasanya ngekepin diri, jadi berusaha menghilangkan pikiran yang aneh-aneh selama entar di panggung.

Oh takutnya nanti kamu, udah berekspektasi tinggi di panggung, eh taunya nteu kitu yah?

Oscar : Iya, at least berusaha untuk ngilangin pikiran yang macem-macem.

Kalau berkesempatan untuk featuring musisi Indonesia, kira-kira Oscar Lolang mau sama siapa?

Oscar: Lafagreen dan Danilla, sama ada satu musisi folk Sumatera Barat.

Kenapa Lafagreen dan Danilla? Ngerasa nyambung?

Oscar: Lafagreen buat aku tuh jenius, dia bisa bikin sesuatu di komposisi lagu, kayak di Junko Furuta-nya Danilla. Waktu Danilla nyanyi, ada part harmonika yang sebenernya gitu aja, tapi tajem banget dan keren. Itu yang bikin aku ngefans sama mereka. Buat featuring sama Danilla, aku nggak tau suara aku cocok apa nggak sama Danilla. Hahahaha.

Nah, yang Sumatera Barat-nya siapa? Saya jadi kepo sebagai sesama urang awak.

Oscar: Beliau namanya Zulkarnain, dijulukin sama pengamat musik luar negeri sebagai “The Blind Trobadour”, karena beliau buta. Itu musisi folk Indonesia bahaya tahun 50 sampai 60-an lah. Sama satu lagi aku nambah deh. Hahaha pengen featuring Vira Talisa.

Beraaaatttt. Katanya Mei akan mengeluarkan album penuh, nih. Ceritain dong albumnya akan seperti apa?

Oscar: Sepertinya akan mundur, sih, karena beberapa hal. Buat materinya, sih, udah beres rekaman sekitar 9-10 track. Ada beberapa lagu juga yang sering aku bawain kalau manggung.

Bakal ada kejutan nggak kira-kira di albumnya nanti?

Oscar: Kejutan, sih, sebenernya biasa aja. Nggak terlalu ada. Mungkin di album-album berikutnya bakalan ada kejutan. Kejutannya mungkin di segi musik, secara lirik dan cerita mungkin sama, tapi dari produksi musiknya beda-beda. Benang merahnya, sih, tetap. Sesuatu yang relate dengan aku pribadi.

Ada pertanyaan colongan, nih, kenapa Oscar Lolang hampir sering banget manggung bareng Sky Sucahyo? Apa karena paketan? Apa karena pedekatean? Aih~

Oscar: Hahaha. Ya, karena faktor paketan itu ada, mungkin kalau jawaban seriusnya, saat ini mungkin pasar solois/singer song writer kan lagi banyak, nih, ada Oscar, Bin Idris, Sky, Jason Ranti, Junior Soemantri dan lain-lain. Dan kalau ada event yang ngundang semacam itu pasti nggak jauh-jauh karena wave-nya juga gitu. Kalau ada yang ngundang Oscar pasti yang paling deket sama Sky Sucahyo, karena deket juga. Temen kampus dan teman sepermainan juga. Hahahaha.

Oscar Lolang ini cadel dari kapan? Hahaha.

Oscar: Dari lahir. Hahaha. Lidahku tuh pendek *meletin lidah*

Oke, oke, keliatan kok. Buat Oscar sendiri scene folk di Bandung sendiri gimana, sih?

Oscar: Sebenernya, banyak media yang bilang sekarang ini masa kebangkitan folk, karena sudah mulai jenuh dengan folk tentang alam. Menurut aku folk alam sendiri banyak yang bagus. Contohnya Alvin & I, bukan karena satu manajemen ya, tapi karena mereka itu bagus dan konten ngomongin alamnya juga aku suka. Teman Sebangku juga aku suka, Banda Neira suka, Nada Fiksi, Rusa Militan juga suka banyaklah pokoknya yang aku suka dari grup yang ngomongin konten alam. Satu waktu, aku pernah dateng ke festival folk yang di hutan itu, banyak kritikus musik yang bilang folk tentang alam will end karena faktor jenuh tersebut, tapi ya, kalau buat aku pribadi, sayang aja gitu kalau grup-grup yang bawa isu-isu alam ini berganti konsep atau sampai ganti genre.

Hmm…

Oscar: Belum lagi, buat sekarang-sekarang suka ada anggapan kalau ada persaingan, misalnya Oscar dengan Jason Ranti, Oscar dengan Vira. Justru buat aku itu jadi sebuah kenikmatan, karena kita sebagai musisinya pun santai aja. Justru jadi seru dan seneng buat aku pribadi, bisa saling sharing juga. Aku pribadi justru ngerasa jenuh dengan genre lain yang ada di Bandung. Sangat disayangkan, sih, buat kota sebesar Bandung. Venue atau ruang juga jadi salah satu faktor teknis yang agak sedikit menghambat, kadang ada orang yang pengen bikin gigs yang kecil atau nggak terlalu besar, kadang terkendala karena nggak ada ruang. Beda dengan di daerah lain, ada di mana gitu saya lupa, di daerah Jawa pokoknya. Mereka bikin event di rumah aja, sound seadanya. Ya, jalan terus, dan itu mungkin jarang di Bandung dan jadi ironi tersendiri mengingat Bandung punya Art Space yang cukup mumpuni.

Luar biasaaaaaaa, jujur banget. Lope lope lah *APPLAUSE BUAT OSCAR*  Detik-detik akhir, nih, harapan terbesar buat Oscar lolang dalam berkarier?

Oscar: Aku mau laguku bisa didengar dan tersebar seluas-luas-luas-luasnya ke penjuru dunia…

Negara pertama yang pengen banget disambangi? Kenapa?

Oscar: Amerika Serikat, ya nggak menutup kemungkinan kalau Amerika jadi gerbang yang lebih luas lagi buat berkarya. Selanjutnya mungkin buat relaxing aku suka Iceland, Perancis mungkin Maroko. Ya Maroko, karena banyak band Indonesia yang bisa nembus pasar Asia dan Eropa, tapi jarang yang bisa nembus pasar Afrika.

Terakhir, nih… 4 kata untuk Oscar Lolang!

Oscar: Drowning in a shallow water.

Makasih banget, lho, buat Oscar Lolang yang mau ditanya-tanyain dari hal sepele sampai sepele banget. Harapan dan doa semoga terkabul secepatnya amin! Lagunya selalu nomer 1 di kanal musik online yah amin! Semoga cepet ketemu paman Dylan juga. Amin!


Twitter: @OscarLolang

Instagram: Instagram.com/oscarlolang

Foto: dok. ROI! & Oscar Lolang

cih! Sepele~