Nangkring Enak di “Wadah Pola 01: Pita Suara”

Kalau dihitung, kegiatan muda-mudi yang berbau kolektif di Kota Bandung teh banyak banget. Kalau dihitung pakai jari mungkin harus pinjem jari punya temen. Tapi, jangan menyusahkan orang lain lah, karunya. Tapi, buat acara kolektif yang baru dihelat di Spasial ini, warga kreatif cukup menggunakan curuk sebagai alat bantu hitung. Bener, salah satu rangkaian anyar dari Spasial Session ini baru memulai helatannya yang pertama dengan judul Wadah Pola 01: Pita Suara. Asik bener nih Spasial, Joss gandos~

Wadah Pola yang digelar di hari Sabtu (18/11) lalu ini bertujuan sebagai kegiatan “nangkring” yang bisa dimanfaatkan muda-mudi Bandung untuk saling berinteraksi dan berkolaborasi. Sebagai awalan, Spasial mengajak barudak dari scene musik independen Kota Bandung untuk ngumpul di Jalan Gudang Selatan No.22. “Untuk awalan sih, kita ngajak temen-temen dari scene musik indie dulu. Selain karena memang termasuk komunitas yang cukup besar, kalau awalan udah rame kan, bisa jadi trigger buat komunitas lain biar bisa hadir di Wadah Pola edisi selanjutnya”, ujar Sendhi sebagai salah satu panitia.

Berbagi cara memilih pick gitar yang kuat dan awet

Awalnya, saya kira acara gratisan ini bakal tipikal kayak acara yang lain, cuma dateng terus dikasih brang-breng-brong musik, taunya nggak begitu. Punteun, udah suudzhan, huhuhu. Pengunjung yang hadir hari itu disuguhi diskusi menarik dari Secco Guitar, diskusi music photography dari kengkawan StageID Bandung, bisa balanja di Bazzar Rilisan dan Merchandise, bisa nonton film, terus bisa juga nyimak penampilan dari Deugalih, Mario Panji (Rusa Militan), Sandrayati Fay, dan Mondo Gascaro. Raos pisan, nangkring terus disuguhan anu kieu. Tapi, ya, live session memang jadi salah satu daya tariknya meureun ya? Soalanya yang saya perhatiin mah, rata-rata pengunjung mulai rame dari sore ke malam hari. Eits, saya nggak boleh suudzhan, mungkin siang harinya lagi ada kegiatan. Bisa jadi, kan, pengunjung itu siangnya ada kegiatan renang dulu di Karang Setra? Saha anu apal, bro?

Jumlah tenant yang hadir di Wadah Pola juga beragam pisan, mulai dari yang jualan kaos, rilisan fisik, patch, zine, sampai ke sepatu Docmart. Buat yang terakhir memang agak aneh sih. Tapi, kalau diselidiki lagi mah mungkin memang ada irisannya antara sepatu Docmart sama musik. Hm, nggak tau, saya mah sotau weh, heuheu. Pokoknya hampir semua barang yang “nyambung” sama musik ada di bazzar. Cuma saya teh nyari-nyari kekecrek yang pake tutup botol seng, tapi nggak ada yang jual. Kenapa nggak ada ya? Apa karena nggak ada yang bisa nyetem nada nya?

Bersenandung yo~

Acara Wadah Pola 01: Pita Suara hari itu ditutup dengan live session dari Deugalih, Mario Panji, Sandrayati Fay, dan Mondo Gascaro. Buat saya sih, yang menarik adalah penampilan dari Teh Sandrayati Fay yang katanya baru pertama kali manggung di Bandung. Selain memiliki paras yang nggak bosen buat dilirik, pelantun musik folk dari Pulau Dewata ini juga punya aksi panggung yang nggak kalah menawan. Pokoknya mah lembut tapi penuh tenaga, bung! Khas banget.

Semakin malam, Spasial semakin penuh sama muda-mudi Bandung yang (kayaknya) memanfaatkan momentum menonton Mondo Gascaro sambil malam mingguan bareng pasangan. Henteu salah memang, hehehe. Penampilan intim dari Mondo Gascaro malam itu menutup helatan Wadah Pola yang pertama. Meski “nangkring”-nya dapet, tapi ada sedikit rasa tanggung yang terasa. Kurang itu euy, confetti. Hahaha. Tapi, buat apa juga kan ada confetti? Mending jangan ada lah, nanti kudu sasapu karena bala.

Jadi ingin ditiup~

Pokoknya, semoga kegiatan kolektif dan kegiatan nangkring lainnya bisa terus hidup dan punya output yang lebih berasa ya! Apalagi udah diwadahi oleh Spasial lewat helatan bertajuk Wadah Pola yang logo pertamanya adalah gayung. Semoga Wadah Pola selanjutnya bisa menyiuk komunitas-komunitas lain, biar semakin joss!


Foto: Fadli Mulyadi

si sehat dan lincah