Music Chamber #12: “Ropea”, Pengikat dan Tanda Kenal Parahyena

Bagi semua musisi baik yang berdikari atau nggak, merilis album sudah menjadi sebuah pencapaian yang tiada tara. Diibaratkeun mah, album teh kayak KTP-nya band lah. Kemaren banget, Jum’at (16/9), jam 6.30 waktu setempat, Parahyena yang Bandung pisan ini launching hasil berburu ide mereka dalam bermusik dengan tajuk Ropea di gelaran Music Chamber #12. Selebrasi euy. Ropea mempunyai arti memperbaiki atau memperbaharui dalam bahasa Sunda.

Parahyena memilih Lawangwangi Art Space menjadi tempat terjadinya selebrasi yang saya rasa sangat cocok dan memiliki suasana yang mendukung buat syukuran atas selesainya album Ropea juga untuk bersenang-senang malam itu. Parahyena yang disi Sendy Novian (vokal, guitarlele), Radi Tajul Arifin (gitar, vokal latar), Saipul Anwar (upright-bass), Cep Iman (violin), Fajar Aditya (cajon), dan Fariz Alwan (bangsing) dengan kompak mengenakan flannel baru mereka, yang menurut penuturan Sendy membuat mereka geumpeur. Ah sa ae, nih.

parahyena lagi ngasih wejangan

Sekitar jam 7.30, acara ini akhirnya dimulai juga. Parahyedirin dan Parabayawak, selaku penikmat musik Parahyena sudah mulai memposisikan diri mereka dengan alakadarnya untuk menyaksikan penampilan dari grup musik kesayangan. Spot yang disediakan terkesan kurang besar, karena melihat banyak pengunjung yang nggak kebagian tempat duduk. Namun, itu semua nggak membuat pengunjung berkecil hati, karena penampilan dibuka oleh ritual yang lumayan bikin merinding dan terkesima. Beberapa pria duduk dengan menggunakan pakaian serba putih sembari memainkan alunan nada serta menyalakan kemenyan. Untung nggak ada yang nyolek saya.

Perlu kalian tau, Parahyena sendiri menggandeng berbagai jenis elemen seni ke dalam syukurannya ini, mulai dari alat musik Sunda, beatbox, teatrikal dan paduan suara. Juaraaaaaa. Selanjutnya, Kembali jadi nomor pertama yang dibawakan Parahyena dengan berkolaborasi dengan perkusi dan 2 pemain gendang. penampilan yang heboh, bersemangat dan “kurang lieur” kalau kata Fajar mah. Lagu seperti Berlalu dan Cibaduyut juga menggoyangkan kepala dan badan para pengunjung, sembari bersenandung.  “Beli dulu, beli dulu, beli dulu, beli dulu, beli dulu, di mana? Cibaduyut, Cibaduyut, Cibaduyut”. Ngeunaheun ieu lagu.

ritual dalam syukuran ropea

Menurut saya penampilan yang paling keren dan pecah banget itu ketika Di Bawah Rembulan jadi penutup untuk hajatan kece satu ini. Semua elemen terkesan saling berkesinambungan, dari tarian, hingga paduan suara musik Sunda. Dan yang bikin keren di saat lagu ini sedang di bagian pentingnya, hujan pun turun membuat suasana menjadi kota santri, suasana di kota santri. Eitssss, maksudnya bikin suasana jadi “Gelo. Ieu keren pisan!” Seakan-akan alam pun mendukung perhelatan ini. Salut. Sukses buat Ropea-nya Parahyena, sukses buat bandnya juga. Semoga tetap bisa berburu ide dan menghibur kami-kami ini Parahyedirin dan Parabayawak. Yoi.

cih! Sepele~