Press "Enter" to skip to content

Moko Bandung dan Aktivitas Semacamnya

Sudah lama sekali rasanya kabar tentang pkl bermobil bandung, atau mayoritas sepakat menamainya moko (mobil toko) Bandung. Jenis pkl baru ini melakukan aktivitas jual-beli dengan memanfaatkan badan jalan. Tentu saja itu merupakan pelanggaran dan musti diperingatkan, melebihi lapakan di bahu jalan serta para pemakan hak pedestrian. Persoalan ini sudah memasuki babak kesekian, namun belum menemui titik cerah. Susah betul, apalagi kalau si pelanggar sudah menguatkan barisan dan sederet pembenaran.

Apa mau dikata, kita hidup silih aku. Semisal sekawanan asing yang menjadikan warung kopi Libas G di Jalan Rereng Suliga sebagai tongkrongan lalu menamainya warjap, sementara warga dan Karang Taruna setempat tetap meyakininya sebagai warkop libas. Di kemudian hari kedua pihak sama-sama mengukuhkan diri sebagai pelanggan setia, dan sama-sama tak mau tersingkir dari sana. Analogi yang tak sepenuhnya sebanding, tapi semoga kamu memahaminya.

Konflik kekuasaan kawasan ini secara tak langsung dampak dari aparatur pemerintah daerah yang seakan lepas pengawasan. Bagaimanapun, aparat harus mengawasi tiap-tiap ruang kota menghindarkan dari segala bentuk penyimpangan. Tak cukup sekadar memampang papan larangan berwarna merah bertuliskan peraturan yang mengaturnya. Syukur kalau area traffic control system (ATCS) bisa bantu atasi permasalahan, petugas tinggal duduk di depan peralatan, kan?

Hadah, serius amat.

Sayangnya, hukum itu cair ya. Peraturan ya sekadar peraturan seperti larangan kuku panjang di sekolah yang terus dilanggar agar tangan bisa mencatuk air mineral kemasan gelas. Banyak hal yang membuat kita semua tak bisa menerapkan aturan dalam segala situasi dan kondisi. Kita bisa sangat setuju bahwa moko telah melanggar peraturan. Lalu lainnya? Ia yang menjajakan kelapa muda dari atas mobil bak terbuka, atau memenuhi isi kendaraan dengan jajanan ragam rupa, justru adem di obrolan warung kopi sekalipun individu-individu ketus tengah menikmati kopi hitam yang disaji.

Dalam perspektif lain, ada pembenaran pada ungkapan “peraturan dibuat untuk dilanggar”. Sejenak coba berhenti di titik ini, di masa sekarang. Sedikitnya kita akan merasa beruntung atas hal-hal yang telah dilanggar di masa lalu. Bila tak ada si pelanggar, tentu kita tak akan mengenal Pasar Lilin, pecel lele Podomoro, setumpukan loak berserak yang menjadi identitas khas Astana Anyar, maupun berpuluh pusat kuliner yang malar. Tanpa ‘pemberontakan’, pasar tradisional disesaki para pedagang yang tak diperkenankan meluber hingga tepian jalan. Kegiatan mahasiswa terkendala dana karena tak mampu meraup untung dari aktivitas cuci gudang di lapakan pasar kaget tengah kota. Panjang umur, perlawanan~

Maka tentu bola dikembalikan kepadamu. Silakan pilih yang sesuai; mengkritisi, atau menyamankan posisi sambil tak sudi memukul rata setiap pelanggaran semacam yang hanya beda bentuknya. Bebas, asal ngarti. Maksimalkan sebaik-baiknya dan sepositif mungkin sifat ngutruk dan heuras hulu yang telah mengakar dalam diri kita.

Pamit ah.

merokok dengan beat the devil’s tattoo dari black rebel motorcycle club.

Comments are closed.