Mesin Parkir pun Akhirnya Berkeluh Kesah

Sebagai pemuda Bandung yang sering memperhatikan kota tercintanya ini, termasuk dekorasi kota yang semakin lama katanya semakin rupawan, saya sering jalan-jalan nggak puguh di Bandung. Ya, istilahnya, mah, ngabisin bensin, lah, sambil nyanyi “Dia”-nya Anji. Nah, dari sekian banyak perjalanan, khususnya di daerah kota, banyak banget yang namanya mesin parkir, tapi, dari sekian banyak perjalanan juga, sedikit pisan yang saya liat lagi menggunakan mesin  parkir ini. Ada banyak tapi cuma sedikit yang digunakan, kumaha, sih, warga kreatif?

Karena saya pensaran dan ingin tahu kendala orang-orang dengan si mesin parkir ini, langsung aja saya meluncur ke daerah Jalan Riau sekitaran Taman Pramuka. Niat saya nanya ke orang sekitar, ternyata, eh, ternyata mesin parkir ini bisa diajak curhat, eh, ngobrol maksudnya. Jadi, kayak kieu yeuh. Simak!


Assalamualaikum, Kang. Punten, bade tataros, tiasa?

M: Waalaikumsalam. Aduh, maaf, saya nggak bisa bahasa Sunda, Kang. Baru belajar sedikit. Soalnya kan saya dari luar negeri.

Oh, iya, maaf saya nggak tahu, Om. Emang asalnya dari mana, Om?

M: Macem-macem, sih, Kang. Banyaknya dari Swedia. Kalo saya nggak tahu dari mana, soalnya di perjalanan kesini saya tidur. Biasa, lah, efek obat anti mabok tea. Make me high gitu, Kang.

Hahahaha. Oh, iya, kenalin, Om, saya Paang dari ROI! Mau tanya-tanya sedikit, boleh?

M: Waduh. Saya tau ROI!, temen-temen saya sering cerita tentang kalian. Katanya kalian itu aktif kajian Rabu sama suka nongkrong di Libas Jalaprang ya?

Ah, si Om bisa aja, nggak aktif Om.  Kalo boleh tau, namanya siapa Om?

M: Nama saya Menpark. Jangan panggil “Om”, paling juga umur kita beda se-digit. Lihat dong, masih smells like teen spirit begini.

Jir, bule ya? Keren. Hm… Gimana, ya, mulai nanyanya? Saya bingung, malu juga euy.

Menpark: Ada, ih, wartawan malu nanya. Hahaha. Pasti soal kaum saya yang disfungsi di kota Bandung, ya?

Nah, iya Park. Gimana, tuh, pendapat Menpark soal itu?

Menpark: Ya, gimana ya? Saya, sih, mengakui kalau agak ribet. Tapi faktor orang Bandung juga, sih, susah diajak pakai teknologi! *dengan intonasi agak tinggi*

Weh, weh, marah dia. Santai, santai.

Menpark: Kesel, Ang! Orang Bandung itu udah kayak di Jakarta. Apa-apa udah nggak mau ribet. Jadi yang harusnya bagian dari pembangunan kota, malah banyak terhambat. Pasalnya, belum apa-apa orang Bandung udah itu lansgung beropini kalo itu bikin ribet. Padahal kan jalani aja dulu, semua itubertahap, Ang!

Waduh, iya juga, ya. Urang jadi kesangan kieu. Terus apa lagi keluhannya, Park?

Menpark: Ya itu, sih, kalau dari saya. Kan sebenarnya adanya saya dan kawan-kawan mesin parkir yang lain juga untuk mempermudah. Apalagi sebagian mesin parkir itu sudah bisa di booking dari rumah sebelum kalian pergi. Jadi nggak usah repot buat cari lahan parkir lagi. Aduh, maaf, Ang. Saya jadi marah-marah sama kamu gini. Jadi nggak enak. Nanti kalau ini udah beres saya beliin Serayu, lah, ya.

Hehe. Iya, nuhun, ih. Oh, iya, yang saya penasaran juga, sekarang gimana hubungan kalian sama Jukir di sekitar lahan parkir?

Menpark: Yang lain, sih, nggak sedikit yang bersitegang. Kurang akur antara mesin parkir sama si Jukir-nya. Karena yang saya tau, masih banyak, tuh, juru parkir liar (preman, RED) yang nggak mau ada mesin. Masih mengandalkan cara-cara konvensional.

Kenapa nggak mau?

Menpark : Karena uang yang kalian kasih ke mesin parkir itu nantinya bakal masuk kas PemKot, lalu dibagi ke Jukir tiap daerah yang jaga mesin itu. Tapi, ini masih kata-katanya ya, Ang. Menurut yang saya baca aja, sih, kayak gitu.

Harusnya bagus dong kaya gitu?

Menpark: Ya kalau preman-preman itu inginnya langsung aja gitu, nggak usah ribet daftar ini-itu dan lain-lain. Pokoknya, kamu tinggal bayar, motor mah (mudah-mudahan) aman.

Oh gitu. Terakhir, nih, terakhir.

Menpark: Lah, apa-apaan? Masa udah terakhir lagi? Santai, ih. Saya lagi bete. Jajan dulu baso tahu, lah. Saya yang bayarin deh.

*Kami pun makan baso tahu bareng di sekitaran Jalan Ternate, di gerobak coklat yang harganya udah nggak kayak dulu. Mahal sekarang, mah. Siomaynya nggak terlalu gede lagi. Tapi da enak. Tetap menjadi idola.

Terus, terus. Balik lagi, nih. Perihal kalian yang mereka sebut masih disfungsi, apa pergerakan kalian selanjutnya?

Menpark: Ya, kalau kita, sih, nggak bisa gerak, Ang.

Duh, salah jigana pertanyaan urang, nya? 

Menpark: Nggak apa-apa, Ang. Bawa rileks.

Hehe, era. Maksudnya, apa yang bakal kalian upayakan?

Menpark: Nah, itu baru bener. Kalau saya pribadi, sih, ya, menyadarkan orang-orang, lah, dengan cara bisik-bisik sama Jukir-nya. Biar dia juga nggak lupa ngasih tau ke orang-orang. Karena kalau saya yang ngasih tau, nanti orang-orangnya kaget. Kalo jantungan, kan repot. Terus nanti masuk ke salah satu program siaran horor. Wah, panjang urusannya, Ang.

Bener juga. Terakhir, ah, saya cape.

Menpark: Iya deh boleh, saya juga.

Harapan Menpark untuk orang-orang di sekitar kamu?

Menpark: Itu, Ang. Parkir jangan sembarangan lah ya. Malu euy, masa kendaraan bisa dibeli, tapi kemampuan berkendaranya nggak ada.


Nah, segitu aja lah, obrolan saya sama Om Menpark yang nggak rame-rame amat dan nggak lucu-lucu amat ini. Semoga, dengan ini, teknologi dan infrared, sorry, infrastruktur di kota Bandung bisa lebih dimanfaatkan.

Kecup manja dari Essien.

Oh tiada tandingannya. Aku yang paling berkuasa. Semua orang tunduk padaku! Akulah, Kertarajasa~