Press "Enter" to skip to content

Menyaksikan Penampilan Band Lokal di Etalase “Lamprophony BDG”

Ada banyak kemungkinan bagi manusia yang memiliki peralatan memotret dan perangkat sound tapi bingung untuk apa. Mungkin bisa meminjamkan sound untuk keperluan senam pagi di Griya Pahlawan. Mungkin bisa ngejual kamera buat beli tangkal buah mangga agar bisa belajar mencangkok. Bisa wae, sih. Da suka ada atuh orang yang berkeinginan seperti itu teh.

Tapi bagi keempat anak muda di salah satu kampus swasta di Bandung ini, kondisi seperti itu mereka jadikan sebagai momen untuk beribadah. Beurat. Ai sugan teh sholat. Bergerak di bidang audio visual, mereka menyajikan sebentuk video studio live session dari band-band indie lokal di Bandung. Eh iya belum saya kenalin, namanya Lamprophony. Hari apa yah saya ketemu sama Karsana Arief, Virgia Dwi dan Rico Inaray. Farisa Azhari kebetulan nggak dateng, lagi ngurus knalpot motornya yang kecemplung banjir.

“Jadi Virgi punya sound sama studio, kamera si Riko aya, lalu bikin deh studio live session. Terus kebetulan saya anak band, katanya ‘geus weh band maneh maen‘. Yaudah,” kata Karsana menceritakan awal terbentuknya perkumpulan ini. Dalam menjalankan Lamprophony, dasar mereka cuma dua; hobi dan kemauan. “Da euweuh duitan, pikir-pikir cape-cape aing duit euweuhan. Ya hobi aja, sih,” tegas Virgi. Lugas dan jujur. Virgi pantas diangkat sebagai pejabat.

Sejauh ini, sudah ada 8 video yang mereka kerjakan. Band-band lokal seperti Lizzie, Lamebrain, Mustache and Beard sudah bisa kamu saksiin penampilan live-nya di Youtube channel Lamprophony. Bisa dibilang konsep seperti ini hampir sama dengan program video Ngamplag, Heartbreak Station, Sounds From The Corner, Level 4th dari Monsterstress Records, bahkan Mendadak Live dari ROI-Video, yang pada intinya mendokumentasikan penampilan live dari sebuah band. Tapi saya yakin, masing-masing memiliki perbedaan, baik dari penentuan band yang dipilih maupun dari esensinya.

“Istilahnya mah goreng butut bungkus, jadi one shot one kill. Prioritas saat ini band indie Bandung yang beda ti batur, unik. Bisa apply, atau kami yang nawarin ke band tersebut. Ya lumayan buat portofolio mereka,” lanjut Karsana. Soal biaya operasional, bagi mereka sama sekali nggak ada, karena pengeluaran yang ada menjadi tanggungan masing-masing. Mirip uang rokok lah, urusan masing-masing individu. Sampai saat ini mereka masih sholeh, belum melakukan monetisasi. Gaya betul, nih. Kerasanya mungkin kalau udah punya budak kali ya. Susu bubuk wae mah kedah dipeser.

Agenda Lamprophony saat ini cukup padat, dengan tim yang hanya terdiri dari 4 orang. The Fox and The Thieves, Sigmun, Homogenic, Tigapagi, hingga Tesla Manaf masuk dalam daftar garapan mereka. Kita mah sebagai konsumen tau jadi aja ya, enak. Nonton, komen, ngutruk. Selain video, mereka juga mengerjakan event, seperti yang sudah mereka buat, Heart Shape Box, yang digelar Juni 2016 lalu.

Nah, buat kamu-kamu yang penasaran sama penampilan live dari band kedemenan kamu, silakan satroni channel-nya. Atau yang punya band pengen dibuatin video live-nya, bisa atuh, tinggal kontak mereka. Sok yah, kontaknya ada di bawah. Saya mau googling dulu teknik cangkok tradisional ala Desa Dangdeur.


Lamprophony BDG

E-mail: lamprophonybdg@gmail.com

Instagram: instagram.com/lamprophonybdg

Facebook: facebook.com/lamprophonybdg

merokok dengan beat the devil’s tattoo dari black rebel motorcycle club.

Comments are closed.