Mengenal Lebih Jauh Sebuah Karya Desain lewat “Think Feel Do”

Long weekend di Bandung mah kayaknya selalu berasa bagus, apalagi buat jalan-jalan. Mau cuacanya mendung atau panas ngabelentrang juga nggak masalah. Loba tempat anu bisa disesuaikan, salah satunya, ya, kamar sendiri. Hehe, teu jalan-jalan atuh, ya? Sorry. Tapi, kalau cuaca di Bandung lagi enakeun teh makin banyak kendaraan bermotor yang memadati jalanan Kota Bandung. Huft, nggak apa-apa, lah, kan si kami mah lagi diem di kamar, jadi nggak kena macet, hehe.

Tapi, karena minggu lalu diem wae di kamar, akhirnya saya memutuskan buat momotoran mengitari Bandung. Eits, pas sampai di Jalan Naripan, saya melihat banyak orang yang nangtung di depan Gedung Pusat Pengembangan Kebudayaan. Karena saya termasuk insan yang selalu ingin mengembangkan kebudayaan, akhirnya tanpa pikir panjang langsung mengambil keputusan untuk masuk ke sana, menuju langit. Maaf, maksudnya ke Gedung Pusat Pengembangan Kebudayaan. Aih, ternyata, eh ternyata, di dalamnya lagi ada acara “Think Feel Do”, sebuah pameran besutan mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITENAS. Segan!

Acara ini berlangsung hari Kamis (21/9) sampai Sabtu (23/9) lalu, tapi kenapa liputannya baru naik sekarang? Mohon dimaklumi. Oh iya, menurut penerjemah pribadi si kami, Think Feel Do ini memilki arti merasakan apa yang dilakukan. Beurat seperti otot-otot Ade Ray, yah. Pameran ini adalah hasil kolaborasi antara mahasiswa tingkat dua dan tingkat tiga, tugas mahasiswa tingkat kedua menyediakan wadah, sedangkan isi dari pamerannya berasal dari mahasiswa tingkat ketiga. Indahnya hidup saat berkolaborasi, warga kreatif! Lebih hauce-nya lagi, acara ini juga selalu digelar di luar kampus, biar bisa lebih mengenalkan karyanya ke orang luar meureun, ya? Da soalnya slogan acaranya juga berbunyi “Membuka Wawasan Serta Memberi Solusi Untuk Permasalahan Ekonomi, Sosial dan Budaya di Indonesia“. Aduh, si kami jadi tiba-tiba ingin upacara kieu.

Karya-karya yang ditampilkan pun beragam, contohna siga kampanye anti korupsi sejak dini, branding kain tenun khas Jawa Barat, kampanye isu media sosial di kalangan remaja, kampanye cinta budaya Indonesia jeung topik-topik menarik lainna,  soalnya yang ada di benak si kami, sih, kalau pameran selalu identik sama gambar doang.  Ternyata henteu dong. “Terlaksananya acara ini adalah pengaplikasian dari mata kuliah Proyek DKV, mata kuliah ini bermateri desain-desain kepada masyarakat, nah, setelah mata kuliah itu beres, tercipta lah acara ini, dan juga karena kita anak desain, satu-satunya cara memperkenalkan diri, kan, dari pameran. Ya, (kalau bukan lewat pameran) siapa yang mau mengenal kita? Kalau buat kali ini, kontennya lebih ke pengaplikasian ke masyarakat”. Tah warga kreatif, dari satu mata kuliah hungkul udah bisa buat pameran, apalagi diberi 1000 mata kuliah? Pasti bisa mengguncang dunia. Ah, apa.

Slogan acara ini yang menyinggung edukasi, direaliasikan dengan  workshop dari Woven Photopgraph dan talkshow dengan pembicara Hawe Setiawan. Sebelum acara usai juga ada performance band, pas si kami sampai ke sana juga sempat menyaksikan band folk country, Mint and Lime, pas pisan lagunya di collabs dengan noong-noong karya anak – anak DKV. Kamu harus ngondang mereka kalau mau tau mah.

Setelah beranjak dari pameran tersebut, saya sempat ngahuleng tarik sampai berpikir kenapa nggak semua jurusan aja, ya, yang mengaplikasikan mata kuliah yang udah dipelajari? Biar bisa membuka wawasan buat masyarakat yang belum tau. Ada apa aja sih, di jurusan A dan jurusan B? Kalau semua jurusan berpikiran kaya mahasiswa/i DKV ini, mungkin warga kreatif bakalan disibukkan dengan pameran terus setiap weekend-nya meureun ya? Eh, tapi nggak apa-apa, lah, da ada papatah ceuk kolot ge “junjunglah ilmu sampai ke negeri Cina”. Meski rada teu nyambung, tapi teu nanaon. Semoga makin mantap berkaryanya, ya, sahabat-sahabatku di jurusan DKV. Ketemu lagi di pameran selanjutnya!’

Foto: Rafi Indra Maulana.

Pedestrian.