Mendukung Produk Lokal, yang Bagaimana?

“Hahaha”. Kutipan ketawa tersebut selalu ada di setiap obrolan bareng temen, baik itu ngobrol langsung atau lewat aplikasi. Tapi, nggak tau kenapa kalau topik obrolannya membahas soal “Bandung Kota Kreatif” agak pengen ngelebihin ketawanya. Padahal bahasan itu bukan materi lawak yang biasa dibagikan oleh para “kreator konten” di akun ofisial Line secara bergiliran. Atau saya yang nggak sopan ya, malah ngetawain.

Tentang “Bandung Kota Kreatif”, jadi ingat kritik jurnalis Rusia, menyoal gelar kota kreatif dunia dari UNESCO yang diraih Bandung. Ih, basi banget ya hahaha. Bagi saya, yang sepanjang hidupnya masih berkutat di Bandung dan baru keluar kota kalau mudik dan study tour, kritik tersebut harus sedikit mendapat perhatian. Sedikit aja, vetsin juga kalau kebanyakan bikin seblay. Dan buat saya, poin kritik yang perlu disikapi oleh kita yaitu soal terlalu banyaknya toko penjual barang tiruan.

Di tengah mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dalam artian pemberlakuan pasar bebas, kita dituntut untuk lebih kompetitif, karena kini kompetitor kita bukan lagi hanya “warga lokal”. Patut diingat kalau Pemerintah Kota Bandung udah ikut mendukung pergerakan industri kreatif di Bandung dengan membantu memasarkan produk lokal go international, melalui peluncuran Little Bandung Store di beberapa negara ASEAN. Lezat sekali. Lazis kalau kata Benu Buloe.


Suatu waktu di siang hari, saya sedang berkendara dari Cicadas menuju Setiabudhi, dan melintasi Jalan Diponegoro. Tampak beberapa mobil terparkir hampir di sepanjang jalan tersebut, di kedua ruas jalan. Saya pikir ada acara semacam “kontes mobil”, karena masa, sih, mobil masih bisa parkir sembarangan di tengah gencarnya upaya gembok sana-gembok sini. Jalan Diponegoro ini diklasifikasikan sebagai jalan arteri, di mana jalur ini kecepatan rata-rata kendaraan yang melintasnya tinggi, jadi agak heran kalau jalan ini “dibuat” tersendat. Jalan ini juga termasuk ke dalam zona merah, artinya lokasi yang nggak boleh terdapat PKL (Perda Kota Bandung No. 4 Tahun 2011). Malamnya saya pulang lewat sana lagi, dan makin ramai aja. Pos jaga Satpol PP yang didirikan di sana udah kosong, mungkin udah bukan jam kerjanya lagi. Laju kendaraan roda dua sedikit melambat sesekali menilik barang dagangan yang dijajakan di mobil yang sedang parkir. Betul, mobil yang sedang parkir itu sedang berjualan. Ada yang sempet nebak dan jawabannya betul? Selamat, jangan lupa dipotong pajak.

Pedagang yang dikenal PKL Bermobil ini udah sejak beberapa tahun yang lalu mulai menginvasi jalanan. Bukan hanya di Bandung, PKL Bermobil juga ada di beberapa kota lain, contohnya Surabaya. Yang paling populer mungkin dagangan Tahu Bulat, yang digoreng di mobil dina katel, dadakan. Dan yang lebih maraknya lagi tentu penyedia kebutuhan sandang. Kreatif? Mungkin, pada saat baru pertama muncul. Tapi kini hal tersebut udah mengganggu, alih-alih menegaskan status kota kreatif. Selain itu, mayoritas kualitas barang dagangannya tiruan. Sepatu Converse di bawah seratus ribu, bisa gila.

Merah

Apakah aktivitas PKL Bermobil ini menyimpang? Bisa aja, dengan hanya melihat poin menimbulkan kemacetan, menjual barang tiruan, dan berjualan di zona merah. Khusus untuk Jalan Diponegoro, hal ini semacam ngasih kerjaan tambahan Kang Emil dan membiarkan diri mereka (para pedagang, RED) bodo amat dengan urusan kota. Kamu tentu masih ingat betapa rumitnya Bandung merelokasi PKL Gasibu menuju Monumen Perjuangan Rakyat. Lah, kini masalahnya cuma bergeser beberapa meter aja. Padahal udah ada tindakan dari Pemkot, tapi masih ngeyel (Pikiran Rakyat, 29 April 2016).  Namun yang masih bikin saya penasaran adalah, apakah para pedagang ini memang benar-benar bodo amat?

Segala dukungan dan pujian mereka terhadap Kang Emil seakan menjadi klise. Di satu sisi memuji setiap ketegasan dan kebijakannya, satu sisi lainnya justru menjadi pihak yang bisa dikatakan mengacau. Memang, sampai saat ini belum ada Peraturan Daerah yang mengatur keberadaan PKL semacam ini. Saya yakin di tengah kesibukan kota yang sedang sibuk membangun flyover baru, Perda ini udah masuk dalam rencana.

Sebagian kalangan menganggap PKL dalam bentuk apa pun ini meresahkan, karena merusak nilai estetik dan fungsi awal suatu tempat, namun di antara kita juga ada yang membutuhkan PKL. Hal ini karena memang adanya kesenjangan sosial yang ada di dalam lingkungan kita. Kelas sosial lebih tepatnya. Apalagi objek utamanya PKL Bermobil di Jalan Diponegoro yang jualan sepatu branded itu memudahkan bagi sebagian kalangan untuk terlihat trendi tanpa harus merogoh kocek di atas 700 ribu untuk sepasang sepatu. Kalau mau masalahin gaya orang, saya nggak ikutan ah. Kalian aja, buat materi vlog.

Mungkin ada hal yang nggak kita tau semua mengenai pergerakan industri kreatif/ekonomi kreatif ini, tapi rupa dari PKL Bermobil ini jelas bukan bentuk dari yang kita bilang industri kreatif. Iya, caranya kreatif, tapi “proses kreatif”-nya merupakan warisan yang kita banggakan; plagiarisme. Meskipun begitu, mereka tetaplah pelaku ekonomi yang menghiasi kota kita ini. Mungkin PKL-PKL ini bisa aja nggak cuma direlokasi, tapi juga dibina untuk membangun identitas “Bandung Kota Kreatif”.


Saya pikir warga kreatif sekalian udah semestinya peka pada hal ini, dan nggak ikut mendukung atau jajan ke lapakan di zona merah dengan dalih “bantu orang yang lagi usaha nyari rezeki”. Cari uang itu susah, jelas. Sayangnya, mencari uang itu juga harus dengan tetap ikut aturan yang ada, dan tanpa merugikan banyak pihak. Untuk para pelaku “industri kreatif” bermodal mobil, ada baiknya untuk memperhatikan tempat kalian berjualan biar bisa mengurangi kemacetan, serta memastikan orisinalitas dagangannya agar mampu bersaing dengan pelaku industri kreatif lainnya. Dan nggak melanggar zona-zona yang telah ditentukan. Ruang publik di Bandung udah banyak, kok, dan beberapa bisa jadi alternatif tempat jualan. MEA? Nanti dulu deh ngeureuyeuh. Minimal bisa bantu Bandung menjawab kritik.

Jadi gimana, warga kreatif? Masih berniat untuk mendukung “kontes mobil” di Jalan Diponegoro?

Jawabannya gimana kamu.

merokok dengan beat the devil’s tattoo dari black rebel motorcycle club.